Essai

Akhlak Pra-Islam Dari Kekosongan Menuju Tauhid

https://images.app.goo.gl/oxjdQEJMdigY3bmH6

Masyarakat Arab pra Islam atau disebut masyarakat Jahiliyyah adalah masyarakat yang belum berperadaban, bodoh, dan tidak mengenal aksara. Hal ini dikatakan sedemikian rupa dikarenakan, pada masa itu ajaran Islam belum datang di Semenanjung Arab yaitu pada abad ke-7 Masehi yang menyebabkan masyarakat Islam pada masa itu minim akan pengetahuan spiritual dan moral yang lebih tinggi.

Masa ini dianggap sebagai masa yang penuh dengan kebiasaan gelap dari sisi moralitas. Mengapa demikian? Hal ini dibuktikan dengan adanya praktik seperti perang suku, patriarki yang keras, dan penyembahan berhala sangat
umum. Setiap suku memiliki dewa atau berhala mereka sendiri, yang memperkuat perpecahan suku dan nilai hidup yang berbasis kepercayaan politeisme atau kepercayaan yang memuja lebih dari satu Tuhan.

Hal itu dimulai pada saat Amr bin Lubay (pemimpin Bani Khuza’ah) yang kala itu terkenal sebagai sosok baik dan menjadi teladan, melakukan perjalanan ke Negeri Syam yang mana menurutnya Syam adalah tempat para Rasul dan Kitab. Ia kembali dengan membawa ajaran dari negeri itu, yaitu menyembah berhala. Kala itu Amr bin Lubay membawa kembali Hubal dan meletakannya di Ka’bah.

Seelah itu, Ia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat persekutuan yang menyimpang dengan ajaran Ibrahim. Orang-oran Hijaz yang kala itu banyak
mengikuti penduduk Mekkah, karena dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci pun mulai terpengaruh dengan ajaran ini. Pada masa itu, ada tiga berhala besar yang terkenal yaitu Manat, Latta, dan Uzza.

Kemudian kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil mulai tersebar di setiap tempat di Hijaz. Pada konteks lain, keadaan sosial-politik masyarakat Arab pra Islam sangat rendah dan tidak berkembang dikarenakan pada masa itu kabilah-kabilah mulai terbentuk, yang kemudian dari kabilah tersebut akan membentuk suku.

Sebenarnya pada masa Ara pra-Islam sudah terbentuk identitas masyarakat Arab itu sendiri, namun karena penekanan terhadap hubungan kesukuan yang kuat, kesetiaan terhadap suku harus dijaga dan solidaritas yang tinggi. Hal itulah yang sering menyebabkan kekacauan dan perang antar suku.

Di samping itu, krisis moral pada masa Arab pra-Islam sangat memprihatinkan. Banyak tindakan seperti pembunuhan bayi perempuan (praktik wa’d) dengan cara mengubur bayi itu hidup-hidup, karena pada masanya bayi perempuan dianggap membawa aib. kedudukan perempuan adalah tidak punya hak dan rendah dalam hierarki sosial.

Mereka sering dilecehkan dan dilakukan semena-mena. Hal itu
disebabkan oleh kekosongan spiritualitas. Memang pada masa itu beberapa masyarakat Arab Pra-Islam memeluk agama Ibrahim tapi itu sangat minoritas. Sedangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi masa itu sudah merajalela.

Adapun keadaan ekonomi masyarakat Arab pra-Islam yaitu Mekkah menjadi pusat perdagangan internasional, dimana banyak pedagang dari berbagai wilayah datang untuk berdagang. Hal ini membawa budaya dan pemikiran dari luar seperti ide monoteisme atau kepercayaan pada satu Tuhan yang dibawa oleh para pedagang Yahudi dan Nasrani.

Harta kekayaan pada masa itu dipegang oleh tangan para pemimpin suku dan kaum elite, sehingga kesenjangan sosial sangat mencolok dan memprihatinkan. Namun dibalik semua sisi buruk tersebut, ada beberapa hal positif yang terkandung. Seperti kesetiaan dan loyalitas pada suku dan juga keberanian serta kehormatan sangat dihargai.

Hal itu kemudian diadaptasi oleh Islam sebagai konsep yang lebih tinggi melalui ajaran tauhid dan akhlak. Selain itu, masyarakat Arab pra-Islam juga terkenal memiliki tradisi atau kebiasaan tersendiri untuk mengukir sejarahnya sendiri, yaitu melalui syair-syair dan puisi. Mereka tidak menggunakan tulisan untuk mengabadikan sejarah, tetapi menggunakan
tradisi lisan yang mereka anggap lebih dihormati dan dihargai.

Pada masa itu, terdapat pasar sastra seperti Suq Ukaz yang menjadi tempat perlombaan syair-syair yang walaupun melalui lisan, tetapi menekankan pada fakta. Oleh karena itu, pengetahuan tentang Arab pra-Islam didapatkan melalui syair-syair yang beredar di kalangan perawi syair. Islam masuk pada masa Arab pra-Islam pada awal abad ke-7 Masehi oleh perantaraan
Nabi Muhammad Saw.

Datangnya agama Islam adalah pencerahan spiritualitas bagi masyarakat Arab pra-Islam. Ajaran Islam membawa konsep tauhid (keesaan Tuhan) yang menjadi panutan moral yang baru. Dengan adanya tauhid, akhlak mereka didasarkan pada tauhid yang berarti segala perbuatan mereka didasarkan pada hubungan yang langsung dengan Tuhan yang Maha Esa.

Ajaran Islam juga membawa transformasi nilai kehidupan yang baru,
seperti persamaan hak dan kedudukan antara lelaki dan perempuan di mata Tuhan, keadilanserta kasih sayang terhadap sesama yang kemudian  menggantikan nilai moral yang keras zaman jahiliyah.

Dengan adanya konsep tauhid, Islam menyatukan perpecahan-perpecahan suku dalam satu keyakinan yaitu keyakinan kepada Tuhan yang Esa. Ajaran tauhid mendorong masyarakat jahiliyah untuk bersikap jujur, adil dan bertanggung jawab secara spiritual.

Bagikan
admin

Konsep Tauhid, Akhlak dan Tasawuf serta Urgensi dan Hubungannya dalam Islam

Previous article

Pangeran Sedo Laut Legenda Pahlawan dari Rembang

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *