Essai

Menziarahi Champa

Candi Po Nagar di Kota Kauthara (sekarang Kota Nha Trang). Candi ini didedikasikan untuk Po Nagar sebagai penemu bangsa Champa dan seorang dewi yang merawat bumi

Awalnya saya mendengar kata Champa sebagai sebutan seorang putri. Dalam cerita di masyarakat, dikisahkan ada seorang permaisuri raja Majapahit yang bernama putri Champa (dilafalkan dengan putri Cempo).

Istri raja Majapahit itu disebut sebagai putri Champa karena berasal dari negeri Champa dan untuk membedakan dengan para permaisuri yang lain. Negeri Champa berada di utara Nusantara. Persisnya bekas negeri kuno itu kini ada Vietnam tengah.

Bermula dari informasi yang saya peroleh dari cerita rakyat, nama Champa semakin menarik perhatian saya. Kata Champa di kemudian hari menghiasi tulisan-tulisan saya, termasuk dalam buku trilogi Kesultanan Demak Bintara yang saya terbitkan pada 2021.

Seperti bermimpi, di awal tahun 2023 ini saya berkesempatan menziarahi negeri tempat kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel) itu. Iya, Champa adalah negeri leluhur Sunan Ampel.

Ramah tamah dengan Muslim Champa di Kota Ho Chi Minh

Historiografi Jawa seperti Babad Demak dan Babad Tanah Djawi juga merekam permusuhan dua kerajaan itu. Dikisahkan, Raja Brawijaya tidak mengizinkan dua keponakannya, Raden Rahmat dan sepupunya yang ingin balik ke Champa setelah mengunjungi Majapahit. Raja Majapahit tahu persis bahwa Champa sedang diserang musuh-musuhnya dari sebelah barat kerajaan itu.

Dalam perang Champa dan Khmer sekitar 60.000 orang dari bangsa Champa meninggal dan yang masih hidup diperbudak. Peristiwa ini membuat bangsa Champa kemudian bermigrasi ke Kamboja, Malaka, Aceh, dan daerah lain di Sumatera dan Jawa. Orang-orang Champa betul-betul kehilangan kerajaan dan tanah kelahirannya pada tahun 1832, setelah wilayah itu dikuasai oleh Kaisar Minh Mang dari Dinasti Nguyen.

Pengalaman saya, tidak mudah menemukan data yang merekam Champa di Vietnam hari ini. Kerajaan yang pernah ada selama 1650-an tahun itu seperti hilang tanpa cerita. Kondisi ini diperparah dengan perang antara Vietnam Utara dan Selatan yang terjadi di era modern yang menghancurkan jejak peradaban dan orang-orangnya.

Menurut hasil penelitian yang diterbitkan oleh Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) dan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) tahun 2018, keturunan bangsa Chmpa yang masih ada di Vietnam saat ini terbagi menjadi tiga, yaitu Champa Bani, Champa Balamo, dan Champa Islam bermazhab Ahli Sunnah Wal Jamaah.

Penulis (kiri) berdiskusi dengan Dr Nguyen Thanh Tuan (kanan), Direktur Pusat Studi Indonesia di Universitas Nasional Vietnam

Masyarakat Muslim Champa dengan mudah kita jumpai di Kota Ho Chi Minh, Vietnam Selatan. Dari data yang saya peroleh, Champa Bani dan Champa Hindu tersebar di bagian tengah dan utara.

Pembagian suku Champa di Vietnam ini mengingatkan kita pada kondisi masyarakat di Jawa. Lazim menjadi pembicaraan bahwa masyarakat di Jawa pun sering dipilah sebagai santri, kejawen, dan mereka yang menerima Islam dan ajaran lama sekaligus.

Namun bangsa kita di Nusantara lebih beruntung, karena tidak sampai kehilangan tanah kelahirannya dan bisa hidup berdampingan dengan satu elemen dengan lainnya.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Agama Memanusiakan Manusia

    Previous article

    Sejarah Nusantara dalam Perspektif Dunia Pesantren

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *