Sebagian dari kandungan kitab al-Qur’an adalah kisah kehidupan manusia pada masa yang lampau. Pemberitaan mengenai mereka dimaksudkan sebagai inspirasi dan bahan renungan untuk generasi masa kini. Artinya, hendaknya kisah-kisah itu menjadi bahan pertimbangan kita dalam menjalani kehidupan saat ini.
Al-Qur’an, misalnya, mengisahkan keangkuhan Fir’aun (Qs. Al-A’raf/7: 123), penyimpangan Kaum Sodom (Qs. An-Naml/27: 54), banjir besar yang mengaramkan kaum Nabi Nuh (Qs. Hud/11: 30), hingga kisah Nabi Sulaiman dan singgasana Ratu Bilqis (Qs. An-Naml/27: 40). Bagimana menempatkan ilustrasi ini. Tidak lain, supaya menjadi renungan.
Selayaknya kisah inspiratif, al-Qur’an sudah seharusnya mampu membangkitkan imajinasi dan melembutkan jiwa kita. Dengan berbekal imajinasi yang tajam dan jiwa yang halus, kita akan tampil sebagai pribadi yang mudah tersentuh untuk melakukan kebaikan.
Maka, tatkala orang-orang itu (sebagaimana tergambar dalam al-Qur’an) mengabaikan kisah masa lalu, mereka harus membayar mahal dengan: mengulangi kegagalan dalam bermasyarakat. Mereka terkena bencana yang sama, karena tidak belajar dari kegagalan sejarah.
Bila kita tarik pada kehidupan bangsa-masyarakat di muka bumi, maka pada setiap daerah juga terdapat kisah-kisah yang tersimpan dalam tradisi lisan (orality; semacam cerita rakyat). Kisah itu biasanya menuturkan kebesaran para pendahulu mereka. Temanya bisa mengenai etika, kepahlawan hingga mengenai tata-kelola terhadap kondisi lingkungan di sekitar.
Dalam pandangan penulis, hal inilah yang dimaksudkan dalam pesan al-Qur’an tadi: betapa penting merenungkan kisah (sejarah) manusia terdahulu. Di kawasan Kabupaten Pati dan sekitarnya, misalnya, ada cerita-cerita yang diwariskan oleh masyarakat terdahulu mengenai gunung-gunung, sungai, lautan, makam-makam kuno, jejak kerajaan hingga keberadaan manusia super-hero.
Itu semua sejatinya pesan dan pengetahuan yang tersimpan, yang diperuntukkan bagi orang-orang di kawasan tersebut. Fokus perhatiannya bukan pada membenarkan atau meragukannya—menganggapnya fiktif atau fakta—namun kisah kuno itu seharusnya bisa menumbuhkan sikap hati-hati, setelah memahami dan merenungkannya.
Penulis tersentak ketika membuka dinding facebook seorang teman dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dalam statusnya memuat foto-foto pedesaan di Gunem, Rembang, yang diterjang banjir bandang setelah daerah itu diguyur hujan, baru-baru ini. Gunem termasuk berada di dataran tinggi, namun bisa tergenang air hingga mencapai lebih dari 50 sentimeter.
Kejadian yang sama juga pernah menimpa beberapa perkampungan di Desa Prawoto, Desa Wegil dan Desa Kedungwinong (ketiganya di Pati) beberapa waktu yang lalu. Rumah-rumah di perkampungan itu sampai ada yang hanyut terbawa banjir, setelah terjadi hujan deras. Padahal Dukuh Kincir (Wegil), misalnya, lokasinya berada di dataran tinggi. Membayangkan Kincir bisa tergenang air banjir rasanya mustahil, namun hal itu bisa menjadi kenyataan akhir-akhir ini.
Ayo buka dan baca lagi catatan cerita lama, warisan para orang tua. Di desa penulis (Prawoto), misalnya, terdapat cerita bahwa Gunung Kendeng itu terapung di atas permukaan laut. Artinya, konon di dasar Gunung Kendeng terdapat lautan.
Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, penulis kesulitan memahami cerita ini. Namun dengan kejadian akhir-akhir ini, penulis menangkap pesan lain. Dalam pemahaman penulis, mungkin kalau ekosistem Kendeng dirusak, maka kondisi di sekitarnya akan menjadi seperti lautan: mudah terkena banjir, terjadi kekeringan di musim kemarau dan bencana alam lainnya.
Masih banyak lagi pengetahuan kuno yang diwariskan para orang tua kita, terutama mengenai tata-kerama hidup berdampingan dengan alam. Belum lagi keberadaan situs-situs yang berserakan sepanjang Pegunungan Kapur Kendeng, yang membentang dari Taban (Desa Kelambu, Grobogan) hingga wilayah Tuban, Jawa Timur.
Di sana terdapat situs Sunan Prawoto, situs Ki Ageng Giring, situs Sunan Geseng, situs Kiai Saridin, situs Sunan Ngerang, hingga situs Sunan Bonang. Keberadaan jejak ini sejatinya bukti bahwa lingkungan Kendeng merupakan tempat istimewa, dan karena itu harus dirawat.
Mencermati hal ini, diperlukan kesadaran bersama untuk kembali merenungi pesan masyarakat pendahulu kita. Mari kita kembali kepada pengetahuan klasik yang diwariskan para orang tua. Jangan sampai untuk kepentingan sesaat, kita mengikuti ambisi orang asing, yang akan berdampak sangat buruk bagi diri, masyarakat, negara dan anak-cucu kita. Kembalilah kepada pengetahuan lokal yang kita miliki.



Comments