Kita ditempatkan oleh Allah di negara yang gemah ripah loh jinawi, sebuah negara yang makmur dan subur dengan berbagai sumber alamnya. Orang-orang Timur Tengah menyebut Indonesia sebagai qit’atun minal jannah (sebuah potongan surga).
Di sisi lain kita hidup dengan berbagai macam suku, adat, bahasa dan agama yang semuanya itu telah dipersatukan oleh Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, sebuah asas dan lem pemersatu yang telah diwariskan founding father kita yang harus selalu kita jaga.
Keberagaman suku, bahasa dan agama itu harus kita rawat agar keberlangsungan negara ini menjadi aman, nyaman dan sejahtera untuk para penghuninya. Karena jika tidak, maka nasib bangsa ini akan seperti bangsa-bangsa lain yang suka bertikai dan akhirnya menjadi bercerai berai.
Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar negara ini warga bangsanya rukun serta toleransi berjalan ? Setidaknya ada beberapa tawaran yang telah disampaikan oleh al-Qur’an lima belas abad yang lalu sekaitan bagaimna merawat kerukunan dan toleransi tersebut.
Memahami Keragaman
Al-Qur’an surat Al-Hujurat [49]:13 memberikan pesan bahwa Allah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, kemudian menciptakan berbagai suku dan bangsa agar supaya kalian saling mengenal satu sama lain. Lewat ayat ini Allah sudah memberikan early warning (peringatan dini) kepada manusia bahwa perbedaan dan keragaman adalah sebuah keniscayaan. Keduanya adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan.
Agama menyebut hal demikian sebagai sunnatullah. Lewat ayat ini harusnya kita menyadari, biarlah perbedaan itu menjadi pertanda indahnya bunga di taman dengan berbagai macam variannya. Ada merah, putih, kuning, biru dan sebagainya.
Singkatnya orang yang tidak mau menerima perbedaan berarti dia telah melawan sunnatullah. Bukankah orang yang dianggap kembar ternyata juga berbeda.
Menjadikan Perbedaan sebagai Kekuatan
Setelah kita menyadari pesan agama, bahwa keragaman dan perbedaan adalah sebuah keniscayaan, maka langkah selanjutnya agar keduanya bisa menjadi modal kekuatan bagi keberlangsungan negara ini adalah membingkainya dalam sebuah persaudaraan. Agama menginstruksikan hal itu dengan kalimat (lita’arafu) yang mempunyai makna hendaklah kalian saling kenal mengenal.
Hendaknya keragaman dan perbedaan itu diinventarisir kemudian diberikan peran masing-masing untuk memberikan kontribusi pada negeri ini. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan contoh kepada kita semua ketika membingkai masyarakat Madinah yang beragam (heterogen) itu dengan Shahifah Madinah.
Kita tahu lewat sejarah bahwa kala itu, Madinah tidak hanya dihuni oleh orang-orang islam saja. Melainkan di sana hidup orang Yahudi, Nasrani, Anshar, Muhajirin, Kafir. Nabi memberikan peran dan mengajak kepada semua warga bangsa yang tinggal di Madinah untuk bersama-sama menjaga Madinah dari serangan dan ancaman musuh.
Hal yang demikian itu untuk melindungi seluruh warganya demi memperoleh kenyamanan dan keamanan.. Itulah sebenarnya yang patut kita teladani, bahwa Rasulullah ternyata tidak alergi dengan perbedaan dan keragaman. Justru perbedaan dan keragaman itu dijadikannya modal kekuatan dalam bernegara. Sehingga dari sejarah itu kita menemukan kata kunci, bahwa saling mengenal, saling memahami dan menghormati, kemudian memberikan peran masing-masing sesuai kemampuan dan keahliannya adalah modal kekuatan yang luar biasa. Titik.
Tidak Menghina antar Pemeluk Agama
Mengingat Indonesia telah memberikan porsi dan pengakuan kepada lima agama besar : Islam, Protestan, Katholik, Hindu dan Budha, maka kita sebagai warga bangsa sudah seharusnya dan sepatutnya untuk menghormati pemeluk kelima agama tersebut. Kita tidak boleh menghina dan melecehkannya.
Sekaitan dengan itu ternyata al-Qur’an yang kita punya telah memberikan panduan toleransi jauh sebelum tema ini dinilai penting kehadirannya. Bukankah dalam hal beragama kita menganut perintah “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”.
Hal mendalam yang dipesankan al-Qur’an selain agama yang tidak boleh dicampur aduk dengan keyakinan agama lain sesuai surat al-Kafirun [109]:6, Islam juga secara tegas menjelaskan jangan sampai menghina dan melecehkan sesembahan dan Tuhan agama lain. Allah berfirman dalam surat al-An’am [6]:108:
Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.
Mari kita bersama-sama memahami pesan agama dengan benar dan utuh agar tidak terjebak pada pemahaman yang dangkal dan keliru. Serta kemudian menyebarkan pesan-pesan kebenaran agama itu kepada siapapun.
Rasanya sudah tidak saatnya lagi kita membincang ideologi bangsa ini, karena semua sudah paten dan teruji. Serta sudah tidak saatnya lagi rasanya kita mendirikan negara di atas negara, karena negara ini sudah jadi.



Comments