Masjid Taqwa Sekayu di Kota Semarang a dalah salah satu masjid tua yang berdirinya menjadi sejarah penting bagi perkembangan dakwah agama Islam Nusantara.
Usianya ini lebih tua dibandingkan Masjid Agung Demak, karena terbukti bahwa masjid ini berdiri tahun 1413Masehi. Sedangkan Masjid Agung Demak berdirikan pada tahun 1420 Masehi
Masjid Sekayu terletak di Jl. Masjid Sekayu No.328, RT 05/RW 01 Kel. Sekayu Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50132.
Asal-usul mengapa Masjid ini bernama masjid pekayuan, karena dulu sekitar masjid ini adalah pengumpulan pusat kayu jati (wungu).
Datang dari beberapa daerah seperti Surakarta, Wonogiri, dan Ungaran yang akan dikirimkan Untuk Pembangunan Masjid Agung di Demak.
Dibangun pada tahun 1413 menggunakan bahan bangunan yang begitu sederhana dengan atap masjid rumbia (yang dikeringkan lalu di anyam), soko (penyangga) dari kayu tatal dan lantainya dari tanah di lapisi dengan karpet/tikar mendong (daun pandan yang dikeringkan lalu dianyam).
Masjid ini dibangun oleh seorang santri yang ditunjuk Sunan Gunung Jati, beliau adalah seorang ulama’ asal Cirebon, santri kepercayaan Sunan Gunung Jati, beliau Bernama Kyai Kamal.

makam mbah Kyai Kamal yang melonjak.th2024
Konon Kyai Kamal di utus atau diperintahkan Sunan Gunung Jati untuk menetap di wilayah Sekayu yang masih rimbun tanaman liar dan pohon besar seperti hutan untuk mengumpulkan kayu jati.
Mengapa Sunan Gunung Jati memilih Kawasan itu, karena lokasinya sangat strategis sebagai sentra perdagangan, dekat dengan Pelabuhan Tanjung Mas, dan sebagai pusat perdagangan serta tempat transit kapal-kapal asing dan prau-prau milik pribumi.
Semarang juga terkenal dengan “Kota Atas” diapit dengan dua sungai besar bagian barat yang dikenal Banjir Kanal, dibagian Timur yang dikenal Kali Semarang terletak disebelah Timur Pasar Johar yang mempermudah pasokan kayu untuk Pembangunan Masjid Agung Demak.
Ketika Kyai Kamal mengumpulkan kayu dan menyuplainya di demak beserta santri-santri lainya di situ pula Kyai Kamal mendirikan masjid kecil (masjid Pekayuan) untuk menyebarkan ajaran Islam dan untuk tempat beribadah.
Karena Kyai Kamal sangat Amanah sebagai pemasok kayu, Sultan Patah memberi hibah berupa soko yang diambilkan dari pendopo Kerajaan Majapahit.

4 soko peninggalan Kyai Kamal.th.2024
Dan sekarang menjadi penyangga Masjid Sekayu. “Tadinya soko yang diberikan berbentuk segi empat dan berukir tulisan Arab.
Tetapi saat ini sudah dilapisi menjadi berbentuk bulat sehingga ukiranya tidak terlihat, guna menghindari sepatu hak terkait klenik dan jimat.” Narasumber: Ahmad Arief (bagian komunikasi dan informasi terkait masjid Sekayu).
Taqmir juga berkata “ketika melihat ornamen pintu dan lorong yang ada di masjid, ada dugaan bahwa dulunya kampung ini merupakan kerajaan kecil. Kerajaan tesebut masih berafiliasi dengan kerajaan Demak.
Dan rumah di sekitar masjid masih terdapat simbol arah mata angin yang berarti simbol patih, simbol tumenggung.
Nama jalan di kawasan itu ada yang Sekayu Kepatihan dan Sekayu Tumenggungan.
Tidak jauh dari sini ada Jalan Depok, Saya yakin di sana dulu ada padepokan dan di wilayah Kranggan, merupakan tempat latihan bela diri atau dulu disebut kanuragan.”
Tidak hanya mendirikan Masjid “Pekayuan” saja, perubahan yang dilakukan Kyai Kamal semakin maju sampai beritanya tersebar dan terdengar para wali songo, sehingga Semarang dijadikan “PUSAT PERTAHANAN”.
Santri-santri wali sango yang berada diberbagai daerah seluruh nusantara diutus untuk singgah dilorong yang berbeda dengan tugas masing-masing disekitar Masjid Sekayu.
Dan sampai sekarang Lorong tersebut memiliki nama yang berbeda, dan menjadi kenangan yang melekat dihati warga Masyarakat sampai saat ini .
perbaikan Masjid dilakukan 6 kali perbaikan yang ke-1 sampai yang ke 3 tidak diabadikan/didokumentasi.
Lalu Perbaikan ke-4 ditahun 1814 M yang diperbaiki yaitu papan, dindin g, soko dari kayu biasa, genteng dari tanah liat (tanah merah), masjid saat itu masih rimbun tanaman liar dan pepohonan).
Perbaikan ke-5 pada 16 November 1987 M (“Masjid Pekayuan” ganti nama “Masjid Sekayu”), saat itu belum ada perubahan Pembangunan dan sekitar masjid sudah ada beberapa Masyarakat yang bermukim.
Perbaikan ke-6 diperbaiki secara keseluruhan, desain yang lebih modern pada tanggal 17 Juni 2006 – 21 Juli 2009.
Sampai saat ini masyarakat sekitar masih melestarikan ajaran yang di ajarkan mbah Kyai Kamal untuk menghidupkan dan memajukan masjid Sekayu dan kampung sekayu (Kampung Tematik).
“Di wilayah sekayu sendiri belum ada thoriqoh yang masuk, hanya saja organisasi-organisasi pelestari ajaran Islam seperti NU dan Muhammadiah, yang melakukan thoriqoh disini hanya perorangan individu sekitar masyarakat saja, kalau thoriqoh belum ada disini” (Narasumber: H. Ari Purbono, SE, Ketua LPMK sekayu kampung Tematik).



Comments