Essai

Mengenal Tarekat Yang Masuk di Desa Ngroto, Grobogan

Jamaah di Ngroto, Grobogan. ( Facebookpost mlk biro media PP Miftahul HudaNgroto, Grobogan, 2024.)
Jamaah di Ngroto, Grobogan. ( Facebookpost mlk biro media PP Miftahul HudaNgroto, Grobogan, 2024.)

Dari kalian banyak yang bertanya-tanyakan Apasih sebenarnya Tarekat itu? Nah disini akan dijelaskan arti sebenarnya tarekat itu. dan Mengenal tarekat yang di amalkan di desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Kalau kita lihat dari berbagai sumber yang ada di buku, penjelasan dari orang-orang, dari journal, arti dari Tarekat adalah suatu ajaran di dalam Agama Islam yang mempunyai tujuan  guna merekatkan  diri kita terhadap Allah dengan berbagai macam usaha amalan ibadah, dzikir, dan tasfiyah (mensucikan hati).

Artinya Tarekat itu adalah bentuk usaha kita sebagai muslim yang berkeinginan selalu dekat atau ingat kepada Allah dengan berbagai rintitan amaliyah yang dibacakan atau dilafalkan dalam setiap waktu.

Dulu menurut sejarah tarekat itu mulai dikenal masyarakat di berbagai tingkatan sebagai bentuk terhadap kebutuhan masyarakat Muslim untuk memperoleh suatu ketenangan jiwa atau hati, mendekatkan dengan Allah, serta sebagai upaya diri kita untuk selalu mawas diri dalam aspek ibadah dan sosial.

di Desa Ngroto, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. tarekat masuk dan ditrima oleh warga sekitar tersebut tak terkecuali juga dari luar desa sebagai amaliyah dari tradisi keagamaan yang telah berlangsung turun-temurun.

Tarekat yang masuk adalah tarekat Qadariyyah wa Nasabandiyyah.

Masyarakat Ngroto pada umumnya mempunyai suatu hubungan erat melibatkan berbagai bentuk ajaran Islam, salah satunya adalah yang berkaitan dengan tasawuf dan tarekat.

Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan sehari-hari, baik dalam aspek keagamaan, sosial, maupun budaya bagi Desa Ngroto.

Kyai Masduri mengatakan bahwa saat dia berkunjung ke Surabaya
beliau di Bai’at dan diberi ijazah Manaqib syekh ‘Abd al-Qodir al-Jaelani
secara mutlak (Umar, 1989:12-160).

Setelah itu banyak jama’ah yang menjadi murid syekh Usman dan
tersebarlah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di desa Ngroto.

Sejak saat itulah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah berkembang di desa Ngroto.

Diantara yang menjadikan tarekat ini berkembang pesat adalah Pondok Pesantren yang berdiri di bawah asuhan langsung oleh kyai Masduri saat itu.

Para pemuda dan bahkan orang tua desa Ngroto mengikuti kegiatan Pondok
yang memang dekat dengan masyarakat sekitar.

Selain menjadi santri di pondok tersebut para pemuda ini juga ikut menyebarkan tarekat ini dengan kegiatan rutinannya sewelasan (Sebelasan) yaitu kegiatan pembacaan manaqib yang diadakan secara rutin dan berkeliling di seluruh RT di desa Ngroto, acara yang dilaksanakan di langgar (mushola) setiap RT ini melibatkan seluruh warga desa Ngroto yang berminat mengikutinya.

Antusias masyarakat pada saat itu hingga sekarang memang tinggi dalam mengikuti setiap acara manaqib yang dipimpin langsung oleh kyai Masduri.

Faktor yang menjadikan masyarakat antusias mengikuti acara ini
antara lain adalah pembacaan manaqib yang dianggap mempunyai barokah
untuk setiap orang yang mendengarkannya.

Disamping itu proses pembacaan manaqib yang diadopsi langsung dari Surabaya, yaitu pelantunan bacaan manaqib oleh santri dengan suara yang memang enak didengarkan.

Ajaran tarekat ini sering kali dilibatkannya melalui suatu proses yang dibimbing langsung oleh seorang Mursyid (guru tarekat) yang memiliki sanad atau rantai pengajaran langsung dari para pendiri tarekat tersebut.

Di Ngroto sendiri ada seorang Kyai yang sangat disegani, beliau adalah K.H. Munir Abdullah.

Beliau dulu belajar dan mondok dengan K.H. Asrori Al-Ishaqi yang tak lain adalah anak dari romo K.H. Ustman Al-Ishaqi seorang pendiri Pondok Pesantren Al Fitroh Kedinding Lor, Surabaya.

Maka sumber ajaran Tarekat yang ada di desa Ngroto tersebut terpusat dari ajaran tarekat yang di ajarkan romo K.H. Asrori Al-Ishaqi.

Beliaulah yang mengajarkan dzikir, ibadah, dan mujahadah (usaha amaliyah) untuk mencapai kesucian hati dan kedekatan dengan Allah.

Ajaran utama dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah di desa ini adalah dzikir berjamaah, yang biasanya dilakukan setelah salat fardhu maupun pada malam hari.

Dzikir ini dilakukan dengan cara yang khusyuk, dibarengi dengan pengamalan amalan-amalan khusus yang diajarkan oleh mursyid.

Pertama, dzikir qolbi, zikir ini bertempat di dada sebelah kiri dan diucapkan dengan cinta dan kerinduan.

Kedua, zikir ruhi, dilakukan di dada sebelah kanan dengan sunyi dan tenang.

Ketiga, zikir sirri, dilafalkan dengan keakraban yang berada di dekat dada sebelah kiri.

Keempat, zikir khafawi, dilakukan di dekat sedut dada sebelah kiri yang bertujuan mengesampingkan dan mematikan diri.

Kelima, zikirakhwafi, berada di tengah-tengah dada, tanda peleburan dan penyatuan.Kemudian zikir diteruskan ke otak dalam kepasrahan yang sempurna.

Keenam, zikir nafsi,dengan nafs qaddisa (jiwa yang telah disucikan) dan akhirnya meresapi segenap wujud, badan dan jiwa.

Pada saat itu manusia telah mencapai zikir dan perasaan damai yang sempurna.

Ketujuh, zikir sultani, ingatan kerajaan (Aqiel, 2002, hlm.168).

Selain dzikir, pengajaran tarekat juga melibatkan pembelajaran tentang adab (etika moral) dalam berinteraksi dengan sesama, serta menjaga hubungan yang baik dengan Allah.

Salah satu ajaran utama yang ditekankan dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsabandiyah adalah pentingnya ikhlas dan tawakkal dalam setiap perbuatan, serta menjauhi sifat-sifat buruk seperti riya, takabur, dan ujub (membanggakan diri).

Salah satu acara rutin yang dilakukan oleh jamaah Al-Khidmah desa Ngroto,

Bagikan
Aldi Ainurrofiq
Penggiat cerita Nusantara.

    Pondok Pesantren sebagai Pilar Pembentukan Akhlak Santri Milenial

    Previous article

    Menggapai Hidup Bermakna dengan Tauhid, Akhlak, dan Tasawuf

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *