Essai

Musik Bahasa Universal: Dari Seni untuk Kemanusiaan dan Penyerahan Diri (ibadah)

daerah.sindonews.com

Musik dan Peradaban Manusia

Catatan sejarah 9 kepada kita, bangsa-bangsa terdahulu memiliki kebiasaan mengiringi derap langkah bala tentaranya di medan perang dengan hentakan musik yang menggelegar. Efek musik yang luar biasa ini ternyata menghadirkan energi tersendiri dalam menguatkan nyali para prajurit untuk menaklukkan lawan. Genderang yang ditabuh membangkitkan keberanian para prajurit hingga menyamai raksasa. Mereka pun tidak memiliki rasa takut sedikit pun.

Bangsa Yunani dan Romawi, misalnya, sudah sejak lama menggabungkan unsur musik dalam urusan kemiliteran mereka. Melalui terompet dan perkusi, seorang komandan perang menyampaikan informasi kepada pasukan, baik di medan laga maupun di posko pertahanan. Bahkan, konon tentara Yunani menyewa pemusik untuk mengiringi puisi atau memainkan lagu patriotik yang menceritakan keberanian pahlawan-pahlawan senior mereka.

Begitu pula dengan bangsa China. Angkatan perang negeri itu telah memanfaatkan musik ketika terjadi perang melawan Korea pada tahun 1950-1953. Kala itu, bangsa China masih belum memiliki alat komunikasi modern, seperti radio, apalagi telepon genggam. Maka dengan alat musik seperti genderang, peluit dan terompet mereka menggantikan fungsi alat komunikasi jarak jauh.

Hadirnya musik dalam medan peperangan telah lama digambarkan Niccolo Machiavelli dalam The Art of War (1521). Menurutnya, terompet merupakan salah satu alat penting dalam perang. Alat musik yang satu ini (terompet) memiliki suara yang tajam, bertenaga, dan mampu mengungguli kegaduhan yang ditimbulkan dalam perang. Sedangkan drum dan flute (peluit) disebutkan sangat bagus untuk melatih kedisiplinan dalam baris menyerukan atau memerintahkan pergerakan dalam peperangan.

Demikianlah adanya, musik menggema di peperangan sebagai penambah energi para prajurit sekaligus alat bantu bagi para pemimpin yang sangat efektif.

Dalam dunia Islam ceritanya lain lagi. Keindahan suara khas yang ditimbulkan alat musik oleh para darwis digunakan untuk mengiringi para penari sufi. Sufi secara sederhana bisa difahami sebagai upaya seseorang mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya dengan cara yang lebih. Dengan iringan musik yang “menghipnotis” para pencari Tuhan yang dibawa oleh suasana dan semakin jauh masuk dalam dimensi harmoni antara Tuhan dan hamba. Puncaknya, mereka semakin rindu bertemu dengan Sang Maha Indah, Allah Azza wa Jalla . Dalam konteks ini musik membantu para penganut tarekat ini untuk bermunajat kepada kekasihnya, Sang Khaliq.

Dalam Sirah al-Nabawiyah menceritakan bahwa musik juga telah akrab digunakan masyarakat Madinah, tepatnya ketika mereka dengan cita-cita menyambut kedatangan Rasulullah Muhammad. Dalam konteks itu, musik rebana yang masih sederhana mengekspresikan suasana hati dan fikiran penduduk Madinah yang sebelumnya telah mengetahui dan menerima ajakan dakwah Nabi. Di sini, musik menjadi simbol persaudaraan dan keakraban di antara umat Muhajirin (pendatang) dan Anshar (pribumi).

Hasil penelitian mengenai musik pada akhir-akhir ini semakin menambah kekaguman kita terhadap peradaban tua yang satu ini. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik, dapat memengaruhi perkembangan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ).

Ceritanya, seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya, bila dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Musik yang dimaksud di sini adalah musik yang memiliki irama dan nada-nada yang teratur, bukan irama dan nada yang neko-neko . Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik daripada anak yang jarang mendengarkan musik.

Menurut Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik, dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia, sehingga berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia.

Tidak hanya berpengaruh baik bagi bayi, dalam kondisi normal musik juga dapat memengaruhi kehidupan manusia. Menurut seorang pakar dalam bidang musik, Andreas Christanday, musik memiliki tiga bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmoni. Beat mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi roh. Oleh karena itu, biasanya bila kita mendengar lirik lagu yang diiringi musik, pikiran dan perasaan kita segera tersentuh. Selanjutnya tubuh kita secara alami akan terkesima mengikuti irama musik yang kita dengar.

Maka tidak aneh bila ada seorang psikolog yang menasehatkan, bila hati kita sedang gundah, cobalah untuk mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) teratur. Perasaan kita, kata psikolog itu, pasti akan lebih enak dan enteng. Apalagi kabarnya di beberapa negara maju pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya.

Sampai-sampai, ada seorang pakar dalam ilmu kesehatan jiwa mengatakan, kalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan, Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi. Pernyataan ini tentu sesuai dengan pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

Paragraf-paragraf di atas menggambarkan kepada kita, sudah sejak lama peradaban seni musik ada di muka bumi. Musik ada seiring dengan kebutuhan manusia yang mengekspresikan gejolak jiwa dan fikirannya. Musik menyatu dengan tradisi, pikiran, dan segala bentuk pesan yang dikandungnya. Musik bisa terdengar dari medan pertempuran, pusat kegiatan keagamaan, rumah sakit, gedung pertunjukan, lembaga pendidikan, sampai di pinggir jalan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, setiap peradaban akan senantiasa lestari di tengah-tengah pemiliknya, ketika peradaban itu mampu memberi sumbangsih, memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pun musik. Masyarakat peminat seni musik terus melakukan kreasi dan inovasi, dalam rangka untuk mencari “pencerahan”, dan di sisi lain juga untuk menyuguhkan “pencerahan”.

 

Musik itu Netral

Sebagai bagian dari jenis seni, musik menyampaikan pendapat dan perasaan manusia lewat keindahan bunyi-bunyian. Karena itu, musik sama dengan bahasa. Sebagai bahasa, musik dengan demikian merupakan ekspresi (bunyi) yang bisa diterima oleh individu lain. Kalau kata digunakan manusia untuk menyampaikan gagasan melalui pilihan diksi, maka musik melalui komposisi suara mampu mengungkapkan perasaan batin seseorang.

Karena musik mampu merefleksikan perasaan seseorang ataupun masyarakat, maka musik bisa difahami sebagai hasil kesepakatan (konvensi) sosial. Karena hasil kesepakatan manusia, maka ia merupakan hasil kreasi manusia yang lahir dari penghayatan atas kehidupan dan dunianya. Namun yang khas, potensi manusia untuk bisa merasakan pesan yang terkandung dalam alunan musik bersifat pembawaan, meskipun latar belakang seseorang bisa memengaruhi. Karena itu, musik komunitas tertentu bisa dirasakan oleh individu yang berbeda sekalipun: berbeda bahasa tuturnya, berbeda bangsanya, berbeda kulitnya, berbeda seleranya, sampai berbeda keyakinannya.

 

Yang juga unik dari musik sebagai bahasa, ia merupakan ekspresi yang berpengaruh terhadap audiennya tanpa perantara konsep ataupun intepretasi. Lewat efeknya yang luar biasa, musik dapat membebaskan perasaan manusia dari suasana batin, seperti rasa kesepian, panik, dan lainnya. Musik juga mampu menghipnotis pendengarnya sehingga larut dalam suasana gembira, atau sebaliknya, kesedihan yang mengharu.

Karena itu, dalam pandangan penulis, musik itu tidak pernah berkonotasi negatif. Musik akan menemukan jenis dan warnanya di tangan masyarakat yang menikmatinya. Maksudnya, di komunitas pencari Tuhan, musik akan menemukan aliran sufinya; musik sufi. Dalam komunitas yang peduli dengan etika dan moral, musik akan mengantarkan pesan-pesan keluhuran budi. Dan di tangan jiwa-jiwa yang bergejolak, musik akan mengekspresikan ‘pemberontakan’ dan protes.

 

Musik sebagai Simbol Budaya

Pada tahun 2011 kemarin, Kementerian Agama RI menggelar festival internasional musik sufi atau International Festival for Mystical Music bertema `Berkreasi dengan Tradisi Seni Musik Islami’. Festival yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta ini baru kali pertama terselenggara di Asia Tenggara. Tujuannya, untuk memberikan informasi tentang kesenian musik sufi sebagai sarana dakwah yang belum banyak diketahui masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Acara ini diikuti oleh enam  negara, yaitu Indonesia, Turki, Maroko, Pakistan, Iran, dan Mesir (http://oase.kompas.com. 14/07/11).

Dalam pandangan penulis, pagelaran musik sufi yang diikuti delegasi dari berbagai negara Islam di dunia itu memberi pelajaran kepada kita, bahwa dalam khasanah seni musik satu bangsa tersimpan keagungan moral spiritual dan ketinggian budi. Dengan demikian, seni musik yang lahir dari kreasi satu anak bangsa akan menggambarkan karakter dan identitas budaya yang mereka miliki.

Sebagaimana kita ketahui, dalam dunia Islam dikenal karya tulis ilmiah yang berbentuk syair atau nazham. Nazham-nazham atau bait-bait ini dicipta dengan mengikuti seperangkat metode dan aturan main yang teliti dengan mempertimbangkan wazan dalam ilmu ‘arudh. Bila karya ini diucapkan oleh mereka yang mengerti pedoman dalam ilmu ‘arudh, maka akan menghasilkan padu-padan suara dan lagu yang indah serta khas. Sedangkan materinya umumnya mengandung ajaran moral keagamaan, pesan kemanusiaan (seperti terdapat dalam banyak syair Arab klasik), bahkan ilmu tata bahasa Arab (seperti karya Ibnu Malik) dan disiplin lainnya.

Padunan dari syair (lirik lagu) yang diberi sentuhan musik-musik indah akan menimbulkan efek psikologis bagi audien berupa ketenangan, kedamaian dan keteladanan ketinggian moral spriritual. Sementara gerakan tari-tarian yang dipertunjukkan menyuguhkan pemandangan yang memukau.

Dalam konteks ini penulis sependapat dengan Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif  Hidayatullah Jakarta. Seni (musik) sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran dalam agama Islam. Bahkan secara psikologis musik dapat mengantarkan jiwa pendengar untuk berpulang ke `alam an-nafs (alam ide universal) dimana seluruh jiwa mendapatkan kenikmatan luar biasa yang berasal dari rohani (http://www.republika.co.id. 13/07/11). Bahkan, dalam pengamatan penulis, orang yang dalam hatinya tidak ada seni, maka ia hanya memiliki sedikit kepekaan dalam menangkap realitas yang ada di sekelilingnya.

 

Musik sebagai Wahana Bersilaturahmi

Dalam budaya modern, kedaulatan satu negara ditunjukkan antara lain dengan kejuaraan dalam ajang kompetisi kelas dunia. Baik dalam cabang olah raga maupun kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Biasanya, sebelum pertandingan antar negara dimulai terlebih dahulu dikumandangkan lagu-lagu kebangsaan lengkap dengan iringan musik yang khas. Tradisi ini menunjukkan, musik bisa dijadikan sebagai wahana dalam menciptakan suasana keakraban antar negara dan bangsa.

Musik mampu mempertemukan beragam komunitas sehingga bertemu dalam satu dimensi. Baik kaum muda atau tua, pria atau wanita, miskin atau kaya, mereka bisa dibuat tertunduk oleh alunan musik mellow (merdu), atau beringas oleh hentakan musik keras.

Masyarakat Indonesia mungkin masih ingat, stasiun TVRI pernah menjalin kerja sama dengan pihak stasiun Nasional negara jiran Malaysia. Dalam kerja sama ini, kedua belah pihak stasiun televisi menyiarkan musik-musik khas kedua negara secara bergantian. Musik-musik karya musisi Indonesia bisa dinikmati masyarakat Malaysia, dan sebaliknya. Dengan acara ini diharapkan, kedua belah pihak sebagai bangsa rumpun Melayu semakin dewasa dalam berbudaya dan bernegara.

Kalaupun dalam kenyataannya antara Indonesia dan Malaysia terjadi perbedaan pendapat dalam beberapa kasus, itu persoalan lain. Yang jelas, musik mampu menjadi wahana yang sangat efektif bagi bertemunya dua pihak yang berbeda.

 

Musik untuk Media Dakwah

Dalam sejarahnya, musik gamelan pada jaman Kerajaan Jenggala (Kediri) ditabuh untuk mengiringi pagelaran seni wayang yang kala itu mulai berkembang. Menurut ahli sejarah seni pewayangan di Indonesia, Sutini (1994), Raja Jenggala Sri Suryawisesa secara rutin menyelenggarakan pagelaran Wayang Purwa dalam upacara-upacara penting di istana. Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya. Sementara para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Prinsip Aswaja Di Negara Pancasila

    Previous article

    Mencari Sosok Pemimpin

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *