Pada zaman abad ke-14 petuah Islam mulai di sebarluaskan di indonesia, Tetapi seiring perbedaan petuah Islam pada saat itu terdapat suatu ajaran yang dinilai melenceng dan kontroversial.
Ajaran itu mulai tersebar di Masyarakat khususnya pada wilayah Jawa dimana para Wali juga memperhatikan dengan serius masalah ini.
Seseorang yang terkenal kontroversial pada saat Walisongo ialah Syekh Siti Jenar atau memiliki sebutan lain; Sitibrit, Lemahbang, Lemah Abang.
Selain memiliki banyak nama lain, seseorang lebih terkenal dari wilayah setempat penetapanya, Syekh Siti Jenar sebagai Syekh Lemah Abang dikarnakan dikenal berasal dari wilayah Lemah Abang (Mulkhan, 2001:3).
Syekh Siti Jenar ialah tokoh dalam sejarah pendakwah islam di wilayah jawa yang terkenal dengan kontroversi.Ajaran yang paling terkenalnya “Manunggaling Kawulo Gusti”.
Berdasarkan beberapa sareat-sareat dulu, tokoh yang terkenal dengan sebutan Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang ini diperediksi hidup pada abad 17 Masehi.
Memakai dasar itulah Syekh Siti Jenar dikatakan masih sezaman dengan beberapa wali yang penyebaran islam di wilayah Jawa yang disebut sebagai Walisongo.
Syekh Siti Jenar dan ajarannya banyak dipresentasikan melewati film-film religius, pengulasan secara singkat di Tv Adapun dunia maya dan beberapa mencritakan secara kongenitas.
Secara umum, pengenalan Syekh Siti Jenar melalui media-media tersebut kebanyakan memperlihatkan Syekh Siti Jenar sebagai seorang Wali kutub yang membangkang dikarnakan Syekh Siti Jenar menyatakan dirinya sebagai Tuhan.
Karena itulah itu Syekh Siti Jenar dianggap kafir dan sebagai balasannya ia menerima hukuman mati.
Argumentasi masyarakat yang terbentuk dari hal ini ialah segala pengikut Syekh Siti Jenar dan ajarannya “Manunggaling kawulo gusti” dianggap menyimpang dan sesat.
Namun dalam pandangan Sunan Giri sendiri Syekh Siti Jenar adalah seorang Kafir di sisi manusia, namun Mukmin di sisi Allah, karena ajarannya yang saat itu belum saatnya disebarluaskan pada masyarakat yang baru mengenal Islam.
Berbeda dengan cara Sunan Kalijaga sendiri yang mengajarkan Agama Allah dengan cara berdakwah sesuai dengan adat yang berlaku pada masyarakat saat itu diantaranya dengan metode pewayangan yang dikemas dengan ajaran Islam (Muwafiq, ceramah, 16 Desember 2017).
Beragamnya versi yang menjelaskan tentang asal-usul dan sosok Syekh Siti Jenar telah menarik minat banyak kalangan sejarahwan muslim di negeri kita untuk menyelidikinya lebih jauh.
Maka demikian pula halnya tentang misteri kematian tokoh Wali yang satu ini, yang konon selain alim dan dikenal weruh sak durunge winarah(tahu sebelum terjadi; memiliki kemampuan melihat sesuatu yang belum terjadi, memandang masa depan dengan jelas, terarah, terukur, dan terencana), adalah sosok yang sekaligus juga diakui sakti mandraguna pada masanya.
Dalam paham banyak orang yang mendefinisikan kisah Walisongo bahwasanya Syekh Siti Jenar adalah ulama yang hidup di masa awal Kerajaan Demak yang terkenal dengan ajaran wahdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti.
Ajaran manunggaling kawulo gusti dipahami sebagai ajaran sesat karena sesuai dengan arti dari konsep tersebut bahwasanya manunggaling kawulo gusti adalah menyatunya hamba dengan Tuhan.
Akibat ajaran itulah diceritakan bahwa Syekh Siti Jenar pada akhirnya dihukum mati
- Strategi dan Ajaran Syekh Siti Jenar
Di Dusun Lemahbang, Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro terdapat petilasan dari Syekh Siti Jenar yang diyakini oleh penduduk di sekitarnya yang dikaitkan dari sejarah Dusun Lemahbang.
Petilasan tersebut biasanya ramai dikunjungi peziarah di hari Malam Jumat. Petilasan tersebut juga mempunyai juru kunci yang tugasnya membersihkan dan merawat petilasan.
Secara fisik petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Lemahbang dalam keadaan terawat karena telah dibangunkan cungkup menyerupai rumah dengan struktur bangunan yang solid.
Bangunan tersebut mempunyai gaya rumah Jawa Timuran yang berukuran kecil di dalamnya terdapat petilasan Syekh Siti Jenar yang berupa cungkup kecil terbuat dari kayu.

Petilasan Shekh Siti Jenar
Dari bukti dokumentasi yang terkait tersebut petilasan Syekh Siti Jenar yang biasa kita ketahui bahwasanya penduduk setempat menggunakan petilasan Syekh siti jenar sebagai tempat peringatan hari-hari besar dalam agama islam.
Dalam konteks perkembangannya petilasan Syekh Siti Jenar memiliki peluang pengembangan sebagai tempat wisata religi.
Dari sejarah Dusun Lemahbang mendapatkan informasi bahwasanya tempat petilasan Syekh Siti Jenar tersebut sebetulnya tempat beristirahatnya Syekh Siti Jenar saat melakukan perjalanan dari Surabaya yang dimana dari rumah Sunan Ampel Kembali ke Jawa Tengah yang perkiraannya ke Demak \ Jepara.
Oleh karna itu tempat beristirahatnya Syekh Siti Jenar tersebut diberikan nama Dusun Lemahbang dikarnakan pendiri dusun atau pedukuhan itu ialah Syekh Lemahabang.
Jadi dari Sejarah terdahulu dusun ters ebut dapat disimpulkan bahwasanya nama Syekh Siti Jenar di eranya tidak terlalu terkenal dikarnakan nama lain Lemahabang sudah identik dengan Syekh Abdul Jalil yang didapatkan nya dari perjuangannya membuat dukuh Lemahabang tersebut.
Jadi warga pada masanya lebih mengenal nama lain Syekh Lemahabang darada Syekh Siti Jenar.

Bapak Imam Panjalu selaku Ketua Pengurus Situs Cagar Budaya Petilasan Syekh Siti Jenar, memaparkan bahwa di tempat inilah dahulu Syekh Siti Jenar singgah untuk melakukan perjalanan dalam rangka berguru ke Surabaya ataupun ke Gresik saat itu di tahun era yang sama dengan Wali Songo atau era Kerajaan Demak Bintoro.77 “Sambil singgah Syekh Siti Jenar sering melakukan beberapa ritual, yakni wirid dan beribadah, mengajarkan ngaji atau tukar kaweruh dengan warga sekitar daerah Kecamatan Balen”, sambungnya. “Lemahbang sendiri memiliki arti lemah atau tanah atau siti, sedangkan abang atau kemerahan itu jenar, selain disini juga ada beberapa tempat pula terdapat petilasan serupa seperti di Kabupaten Pekalongan di Kecamatan Lemahbang”, sambungnya. Selain orang bojonegoro ada juga yang mengunjungi dari luar bojonegoro seperti tuban, rembang dan lain-lain.
“Apapun tujuan mereka yang terpenting tidak merusak petilasan tersebut. Karena ini merupakan situs peninggalan sejarah yang harus dijaga kelestariannya” pesan dari Bapak Arif Rohman.
Banyaknya perdukuhan yang Bernama Lemahabang yakni didirikan di zaman dahulu ada yang didirikan secara langsung oleh Syekh Siti Jenar ataupun murid-muridnya, pmbuktian bahwasanya metode ajar Syekh Siti Jenar gampang di adopsi oleh masyarakat dan memiliki daya tarik bagi orang awam yang dalam tahap orintasi pada agama Islam untuk mengikuti metode ajar Syekh Siti Jenar.
Mengenai ilmu yang di sampai kan Syekh Siti Jenar dalam mendakwah kan banyak serat atau babad yang presentasikan bahwa ilmu yang di sampaikan Syekh Siti Jenar membahayakan masyarakat beragama.
Hal ini banyak di tulis dari serat atau babad yang dituliskan di masa jaya sultan Demak sampai sultan Mataram.
Di bagian barat atau wilayah di bawah kekuasaan sultan Cirebon, serat atau babad tidak tertulis sesuatu yang terlihat buruk mengenai sosok, ilmu yang di sampai kan , bahkan kematian Syekh Siti Jenar.
Jadi substransi terdapat Kepentingan dalam konteks politik mempresentsikan sosok Syekh Siti Jenar bahkan hingga saat ini Syekh Siti Jenar masih di kenali sebagai publick Masyarakat yang memiliki jiwa penyebar Islam yang memiliki banyak crita yang pro kontra dan bahkan mempunyai stigma kesesatan dalam konteks penyebaran dakwahnya.
Mengajarkan tirakat yang disampaikan Jenar (yang dalam perhari ini di gaun gaungkan dengan sebutan Abdul Jalil oleh Agus Sunyoto), Ialah penyampaiaan ilmu Tirakat al-Akmaliyyah yang diperluas setuju dengan petuah rahasia. Petuah tirekat Jenar ini khususkan bagi penempuh jalur menuju Allah secara cepat dan tepat diperluas teruntuk masyarakat dan menjadi intisari petuahkan Syekh Siti Jenar sendiri telah megimplemantasikan secara nyata dalam berbagai pengalaman spiritual.
Maka ditemukan titik temu antara Kebenaran Sejati dengan Allah; tidaklah lain adalah kemanunggalan, atau yang sering sdisebut orang Jawa “Ingsung Sejati”.
Dalam ajaran Tarekat al-Akmaliyyah tersebut, tidak ada mursyîd dalam bentuk jasad manusia sehingga Jenar melarang murid-muridnya untuk menganggapnya sebagai mursyîd, yaitu pancaran dari yang Maha Menunjuki (al-Rasyîd).
Ada pun Mursyîd masing-masing manusia menurut Jenar adalah, al-rûh al-idlâfî yang harus diaktifkan, dan hal ini berada di dalam diri setiap manusia.
Sementara keberadaan Jenar, sebagaimana ia memperkenalkan keberadaan dirinya kepada para muridnya, hanyalah sebagai guru (pembimbing) ruhani yang berkewajiban membimbing murid untuk mengenal mursyîd di dalam dirinya.
Jika mursyîd dalam diri sudah aktif, maka tidak diperlukan lagi kehadiran mursyîd dalam fisik manusia.Itulah sebabnya, ia hanya berkenan dipanggil dengan sebutan syekh.
- Wafat nya Syekh Siti Jenar
Ada beberapa cerita yang pertama, Syekh Siti Jenar dihukum mati di Masjid Ciptarasa, Cirebon.
Hal ini sama dengan cerita pertama hingga cerita selanjutnya yang memungkinkan Syekh Siti Jenar wafat di Demak. Syekh Siti Jenar terkena hukuman mati,pancung sendiri oleh Sunan Gunung Jati.
Cerita ke dua menceritakan Syekh Siti Jenar wafaat dengan cara moksa. Moksa menurut kejawen Adalah meninggal yang mana tidak meninggalkan jasad atau hilang menyatu dengan pencipta.
Konseptual meninggalnya Syekh Siti Jenar dengan cara moksa sedikit mirip dengan ajaran Hindu.
Wafatnya Syekh Siti Jenar dengan keaadan moksa ada yang meragukan dikarenakan banyaknya makam atau petilasan Syekh Siti Jenar di tanah Jawa.
Cerita lainnya menceritakan bahwasanya hukuman mati yang dia terima Syekh Siti Jenar penuh menyangkut aspek salah satunya cerita magis.
Dengan artian wafatnya Syekh Siti Jenar tidak seperti umum wafat seseorang yang dipenggal kepalannya dikarnakan hukuman pancung melainkan jenazah Syekh Siti Jenar menghilang seketika, jenazah Syekh Siti Jenar muncul bau wangi dan mengeluarkan cahaya, dan masih banyak lagi.
Cerita-cerita mengenai meninggal nya Syekh Siti Jenar terdapat didalam Babat Tanah Jawo yang perkiraannya dituliskan oleh Carik Adilangu II tahun 1700an pada masa Pakubuwono I.
Penulisan Babad Tanah Jawi kemudian diteruskan oleh Tumenggung Tirtowiguno atau Carik Bajra setelah kematian Carik Adilangu II hingga tahun 1788.
Babad Tanah Jawi ditulis dengan aksara Jawa. Dalam karya sastra jawa yang berjudul Suluk Syekh Siti Jenar yang diterjemahkan oleh Sutarti dalam Proyek Penerbitan Buku sastra Indonesia dan Daerah juga disebutkan Syekh Siti Jenar menemui ajal sendirinya ketika terjadi masalah antara Sunan Kalijaga dengan muridnya yang bernama Sunan Geseng karena tertarik dengan ajaran Syekh Siti Jenar.
Setelah mati dengan sendirinya, jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya dan semerbak wangi.
Jika kematian Syekh Siti jenar diketahui dengan cara yang luar biasa tentunya akan mempengaruhi masyarakat jika mengetahuinya.
Oleh sebab itu Syekh Maulana memerintahkan Sunan Kudus untuk mencari anjing yang terkena penyakit dengan tujuan bahwa masyarakat tahu bahwa pembawa ajaran sesat ketika mati berubah menjadi anjing. Jenazah Syekh Siti Jenar dalam suluk tersebut diceritakan telah dikuburkan dengan sangat layak dan penghormatan oleh Walisongo.
Setelah kematian Syekh Siti Jenar juga diceritakan keberadaan murid-murid Syekh
Siti Jenar setelah Meninggal nya.[9]
terlihat banyak versi hukuman mati yang di terima syekh Siti Jenar merepresentasikan bahwa sebetulnya Ada beberapa aspek pembeda dalam menilai sosok Syekh Siti Jenar dan juga sumbangsi nya dalam Mendakwahkan agama Islam di kepulawan Jawa.
Tidaklah mungkin meninggalnya Syekh Siti Jenar memiliki prespektif yang berbeda.
Sangat mungkin hanya terdapat satu cerita yang Valid. Dalam Konteks lain sangatlah mungkin Syekh Siti Jenar Positif Dalam konteks yang di ajarkan hingga history Wafatnya tidak seperti yang tertulis didalam buku buku atau makalah.
Hal ini alangkah lebih baik jika di saring dari perspektif lain supaya mendapatkan referensi yang lebih valid kisah Syekh Siti Jenar kemungkinan dijadikan referensi yang valid dalam konteks ilmu sejarah



Comments