Akhlaq atau moral merupakan perilaku seseorang yang menjadi penilaian utama dalam suatu pergaulan, berakhlaq yang baik maka akan menjadikan seseorang lebih dihormati, dihargai, dan disegani oleh orang lain. Namun, ironisnya kondisi moral para remaja di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan.
Para remaja banyak yang terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif.
Degradasi moral seperti ini bisa terjadi karena sedikit dari para pemuda saat ini yang mempelajari dan mengamalkan Alqur’an dan Nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan sehari-hari.
Aswaja Atau Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebuah aliran yang dianut oleh mayoritas masyarakat di daerah Kendal, khususnya di desa Tambakrejo, Patebon, Kendal. Aswaja memegang peran yang sangat kuat dalam mencetak remaja yang berakhlaqul karimah melalui Nilai-nilai yang ada dalam ajaran Ahlussunnah wal jama’ah seperti tasamuh, tawasuth, tawazun, I’tidal, dan Amar ma’ruf nahi munkar.
Di Indonesia, Aswaja kurang lebih sama dengan nahdliyin (sebutan untuk jamaah Nahdlatul ulama), meskipun jamaah Muhammadiyah juga Aswaja. Yang membedakan Aswaja Nahdliyin dengan aliran lain adalah dalam amaliyah nya seperti tahlilan, manaqiban, yasinan,dan lain-lain.
Dalam sebuah kegiatan belajar mengajar peran guru NU tidak hanya sekedar bertugas mentransfer ilmu pengetahuan belaka, namun juga membina dan membentuk karakter dan moral anak didik dengan nilai-nilai Aswaja. Guru NU merupakan pilar utama Aswaja yang mengusung misi perdamaian di kehidupan masyarakat.
Misalnya, seorang guru agama atau ustadz TPA/TPQ di desa harus memberikan pengetahuan tambahan kepada para murid, tidak hanya belajar
membaca dan menulis Alqur’an tetapi juga mengajarkan sikap toleransi kepada sesama teman, misalnya saat mereka berbeda pendapat atau keyakinan.
Dengan begitu nilai-nilai Aswaja akan tertanam dalam diri mereka sejak dini, karena jika sikap toleransi tidak diperkenalkan sejak dini maka akan menimbulkan pemahaman yang fatal di masa mendatang. Kegiatan organisasi di dalam Nahdlatul ulama juga berperan penting dalam membentuk karakter para remaja.
Seperti organisasi IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan
Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) yang tentunya memiliki kegiatan yang positif seperti sholawatan, tahlilan, yasinan, manaqiban, kegiatan seminar dan workshop-workshop pelatihan bagi para remaja dan juga ada kegiatan lomba-lomba yang bertujuan mengasah skill dan mengembangkan bakat yang dimiliki para remaja.
Seperti yang baru ini terlaksana. PAC NU Kec Patebon, Kendal menyelenggarakan PORSENI (Pekan Olahraga Dan Seni) dengan berbagai macam lomba jasmani dan rohani seperti khitobah, rebana, kaligrafi, MQK, MTQ, karya ilmiah, duta pelajar, band religi, tenis meja dan lari sprint.
Kegiatan semacam ini tentunya sangat berpengaruh positif bagi para remaja, selain mengembangkan bakat yang dimiliki, mereka juga bisa mendapat kan pengalaman yang luar biasa dan tentunya juga mendapatkan relasi.
Masa remaja adalah masa yang paling rawan dalam kehidupan, karena saat itulah kita harus mencari jati diri dan mulai menentukan kehidupan yang sesungguhnya.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pergaulan para remaja, untuk itu kita harus pandai dalam memilih pergaulan, pepatah mengatakan “perumpamaan teman bergaul yang saleh dan teman bergaul yang
buruk adalah bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi”.
Penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya Sebagian atau kamu mencium semerbak harumnya minyak wangi itu, sementara tukang pandai besi adakalanya ia
membakar pakaianmu ataupun kamu akan menciumi baunya yang tidak sedap.
Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena pengaruh teman yang salah. Tapi, tidak sedikit orang yang mendapatkan manfaat maupun kebaikan karena bergaul dengan teman-teman yang baik dan benar. Para remaja zaman sekarang atau akrab disapa Gen Z yang biasanya fomo (takut ketinggalan trend) mereka ikut-ikutan dengan pergaulan yang tidak benar.
Maka disinilah nilai-nilai Aswaja berperan, mereka yang mempelajari
dan mengamalkan nilai Aswaja dalam pergaulan tentunya tidak akan terpengaruh dengan doktrin doktrin yang menyesatkan justru mereka bisa mengajak teman-teman nya menuju jalan yang benar, sikap ini seperti dengan nilai Aswaja yaitu Amar ma’ruf nahi munkar yaitu mengajak
kedalam kebenaran dan mencegah kemaksiatan.
Para remaja yang biasanya hanya menempuh Pendidikan formal seperti kuliah mereka juga harus belajar tentang ilmu keagamaan, sehingga bisa menjadi pribadi yang tidak hanya pandai dalam ilmu dunia namun juga pandai dengan ilmu akhirat, sebagaimana nilai tawazun dalam Aswaja yang berarti seimbang.
Aswaja juga mendorong para remaja untutk menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam kehiudpan sehari-hari seperti tentang sikap berbakti kepada kedua orangtua , mejaga hubungan baik dengan sesama, dan menjauhi perilaku tercela seperti ghibah, berbohong, fitnah, dan kekerasan.
Dengan landasan akhlaq yang diajarkan melalui nilai-nilai Aswaja, para pemuda diharapkan mampu menjadi generasi yang berperan aktif dalam membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera. Mereka tidak hanya menjadi pribadi yang baik secara individual, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat.
Sehingga tercipta Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur negeri yang diberkahi dengan kondisi masyarakat yang harmonis, sejahtera, dan Makmur. Aswaja, melalui pendekatannya yang moderat dan inklusif, dapat menjadikan remaja yang memiliki akhlaq mulia dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan bijak.



Comments