Dalam seri sejarah Walisongo menceritakan, bahwa pasca selesainya pembangunan Masjid Demak, di kalangan Wali khususnya antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga terjadi perbedaan dalam menentukan arah kiblat. Gara-gara itu, Sunan Kudus hengkang dari Demak dan kembali ke Kudus.
Cerita ini hingga kini dipersoalkan mengapa kedua wali tersebut seperti tidak pernah akur.
Memahami sejarah tersebut, secara nalar tidak masuk akal. Perkara kiblat dan pemasangan mustaka Masjid mengapa menjadi sebab konflik idealisme. Ini sungguh tidak masuk akal.
Pertentangan tersebut termaktub dalam kitab Walisana dan Babad Demak dalam bab Perdondi Kiblat (perselisihan arah kiblat):
“Takir lemungsir pritgantil / wus pinasang kinancingan / datan antara usuke / lawan reng wus pinakon / mastaka gya pinasang / wus ngadeg sengkalanipun / lawang trus gunaning janmal// nulya sagung para Wali / amawes leresing keblat / nanging pradondi rembuge / ana kang ngoyong mangetan/ sawiji datan rembag/mesjid ingoyong mangidul/daredah rembag ing wuntat”.
Nah, usut punya usut, perbedaan kiblat bukanlah dimaknai kiblat dalam arti arah shalat. Demikian pula pemasangan mustaka masjid.
Kiblat yang dimaksud adalah landasan negara Kesultanan Demak.
Seperti diketahui, Sunan Kudus punya gegayuhan, agar Demak menggunakan Mustika Islam, seperti halnya Giri Kedaton di Jawa atau Turki Utsmani di Eropa. Menjadi pusat segala keputusan.
Sentral politik tersebut mengusung ideologi Islam sebagai asas bernegara.
Sementara di sisi lain, Sunan Kalijaga berpendirian bahwa Demak tetap dalam posisinya sebagai mustika bangsa yang dapat mengasuh seluruh elemen bangsa, baik sosial politik maupun budaya.
Alasan yang menjadi pegangan Kanjeng Sunan Kalijaga adalah bahwa Demak membutuhkan kekuatan seluruh elemen bangsa yang bukan hanya satu keyakinan, melainkan masih hidup keyakinan sebelumnya, dan keyakinan lama yang masih bertebaran di pelosok Tanah Jawa.
Bagi Sunan Kalijaga, masyarakat multietnis dan agama bukan penghalang Islam untuk berkembang. Dalam kontek bernegara, Kesultanan Demak tidak perlu mengusung dasar Islam sebagai dasar negara.
Hal yang penting adalah substansi bernegara yang rukun, tenteram dan damai. Itu semua sudah cukup sebagai substansi ajaran Islam.
Melihat tidak adanya kecocokan tersebut, Sunan Kudus pun mohon pamit untuk kembali ke Kudus.
Di Kudus itulah obsesinya ia tuangkan dalam bentuk pembangunan Masjid Al Aqsha.
Sejarawan menyebut, hengkangnya Sunan Kudus dari Demak dan membangun masjid Al Aqsha adalah bagian dari usaha Sunan Kudus dalam membangun kekuatan ideologi sentralistik. Ia ingin seperti Sunan Giri, yang mengidentifikasi semua elemen bangsa di bawah ideologi Islam Giri Kedaton.
Sampai-sampai wisatawan Portugis menjuluki Giri Kedaton sebagai Vatikan Jawa dan Sunan Giri sebagai Paus Jawa.
Sejak hengkangnya tokoh puritan tersebut, maka praktis Sunan Kalijaga ditunjuk sebagai kadhi sekaligus Imam Besar Masjid Demak.
Sunan Kalijaga berwatak ke semua kalangan. Islam tidak harus ditegakkan dalam bentuk ideologi negara, melainkan ditegakkan dalam bentuk prilaku dan sikap yang mengukuhkan bahwa “…inilah aku seorang Muslim”, yang tercermin dalam ahlak.
Sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejak terjadi hubungan besan antara Kalijaga dan Sultan Trenggana terjadi pula pergeseran madzhab yang diusung Demak, dari Sunni ke Syi’i. wajar saja, Kalijaga adalah murid Kinasih Syekh Siti Jenar sekaligus menantunya.
Maka, ketika trjadi pemilihan Sultan pasca meninggalnya Trenggono, kelompok politik puritan yang diusung Sunan Kudus mengalami kesulitan untuk menempatkan cucu Arya Jipang sebagai seorang sultan. Pihaknya harus berhadapan dengan dua kekuatan politik besar, yakni Poros Timur Sunan Giri yang pengaruhnya sangat kuat masa itu, dengan Poros Selatan Sunan Kalijaga.
Poros Timur mengusung Sunan Prawoto putra Sultan Trenggono, sementara Kalijaga mengusung Jaka Tingkir, menantu Trenggono. Sunan Kudus tak berkutik setelah Prawoto terpilih secara aklamasi.
Terpilihnya Sunan Prawoto bagi Sunan Kalijaga bukan menjadi soal, karena Prawoto adalah muridnya, setelah sebelumnya hengkang dari pengaruh lingkaran pemikiran Sunan Kudus puritanistik bersama Jaka Tingkir.
Adipati Pengging Andayaningrat
Syekh Siti Jenar memiliki seorang anak perempuan bernama Syarifah Zaenab. Syarifah Zaenab merupakan istri Kanjeng Sunan Kalijaga.
Dari Syarifah Zaenab menyaksikan Wertiswari atau Nyai Ratu Mandoko dan Ki Ageng Butuh.
Wertiswari inilah perempuan yang dinikahi oleh Kebo Kenongo, yang kemudian melahirkan Raden Mas Karebet alias Jaka Tingkir.
Sedang dari jalur laki-laki, Ki Ageng Pengging adalah putra Sayyid Muhammad Kabungsuan.
Prestasi gemilang penaklukan Majapahit atas kepulauan Filipina, menghantarkannya menduduki jabatan penting di Majapahit. Dialah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Sulu di Filipina Selatan. Pengabdiannya di Majapahit menghantarkannya meraih gelar karir cemerlang yang kemudian ditunjuk sebagai Adipati Pengging dengan gelar Prabu Andayaningrat.
Sayyid Muhammad Kabungsuan lahir tahun 1410. Ibunya berasal dari Kesultanan Kelantan (Malaysia sekarang), Puteri Syahirah atau Puteri Salindung Bulan binti Sultan Baki Syah ibn Sultan Mahmud, Raja Kelantan (Chermen). Dialah istri ketujuh dari Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini.
Sayyid Al Akbar Al Husaini ini memiliki dua putra, Kabungsuan adalah putra kedua. Sedangkan putra pertama adalah Sayyid Ali Nurul Alam, yang juga pernah mengabdi di Majapahit, sebagai perwakilan di Kelantan 1432-1467 M, pasca ditahlukkan Majapahit.
Selanjutnya Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini memiliki Sembilan orang istri. Istri pertama bernama Amirah Fathimah binti Amir Husain binti Muhammad Taraghy (pendiri Dinasti Timuriyah, Uzbekistan).
Syekh Quro
Dari Amirah Fathimah lahir enam orang anak:
1. Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarkandi (1295 M). Anak ini lahir saat Syekh Jamaluddi berdakwah di Samarkhan.
2. Ibrahim Zainuddin As Samarkandi (1297 M).
3. Pangeran Pebahar As Samarkandi (1300 M).
4. Fadhal As Samarkandi atau Sunan Lembayung (1302 M).
5. Sunan Kramassari As Samarkandi (1305 M).
6. Syekh Yusuf Siddiq As Samarkandi (1307) yang menurunkan Syekh Qurrata A’yun, ayah dari Syekh Bentong, yang kemudian memiliki anak perempuan Shu Ban Chi, ibunda Raden Patah.
Syekh Qurrota A’yun atau Syekh Quro merupakan penyebar Islam di Jawa Barat. Beliau datang bersama anak-anaknya yang masih remaja dan mendarat di Pantai Cirebon dengan menumpang rombongan kapal Cheng Ho tahun 1404. Makam beliau dan anak-anaknya berada di Kampung Pulo, Karawang Jawa Barat.
Syekh Jamaluddin Al Akbar Al Husaini berdakwah hingga wilayah Celebes (Sulawesi). Beliau meninggal dan dimakamkan di Wajo Sulawesi Selatan.



Comments