Artikel

PERAN AKHLAQ DAN TASAWUF TERHADAP DALAM MENGATASI MASALAH SOSIAL

Khazanah keilmuan Islam sudah maklum dengan terminologi Akhlaq dan
Tasawuf, Khalid al-kharazi menyebutkan Akhlaq berarti kebiasaan, pembawaan, perwatakan, kehormatan dan agama.

Kemudian al-Jurjani menjelaskan; Akhlaq merupakan suatu keadaan psikologi yang dapat dimanifestasika dalam bentuk perbuatan tanpa memerlukan suatu pemikiran, walaupun klasifikasinya dalam bentuk kebaikan atau keburukan, dan yang terpenting; Akhlaq yang baik dapat
terwujud oleh pelakunya itu sendiri.

Kemudian berbicara mengenai Tasawuf ada berbagai penjelasan mengenai
terminologi tersebut, al-Junaidi menjelaskan Tasawuf adalah membersihkan hati, Ma’ruf al-Karkhi menjelaskan Tasawuf yaitu sesorang berpegang dengan keyakinan-keyakinan dan tidak mengaharapakan apa yang ada kemudian al-
Qusyairi menjelaskan Tasawuf adalah menjaga dari melihat makhluk, Asma’ binti Muhamad menambahkan Tasawuf adalah mengetahui perilaku dan keadaan hati dan juga dia mengutip perkataan al-Kasyani Tasawuf adalah berperilaku dengan akhlaq ketuhanan.

Dari semua yang telah disebutkan ide moral yang dapat diambil
yaitu mengatur perilaku hati, karena ulama sepakat tasawuf adalah membersihkan hati.

Seiring perkembangan masa, tekhnologi, keduanya tidak pernah sepi peminat
bahkan bisa dikatakan keduanya akan semakin laku dimasyarakat. Bagaimana tidak, dengan semakin meningkatnya kesenjangan sosial masyarakat, akhlaq dan Tasawuf menawarkan berbagai solusi yang dapat mengatasi kesenjangan sosial.

Sebelum sampai pada pembahasan, melihat fenomena dimasyarakat mengenai kesenjangan sosial, ada banyak sekali masalah sosial dimasyarakat di antaranya adalah kemiskinan yang banyak sekali melahirkan masalah sosial yang lain, seperti ketimpangan sosial, kriminal, asusila dan lainya.

Maka peran Akhlaq dan Tasawuf sangat penting dalam membawa solusi dan perubahan dalam masyarakat. Ada banyak faktor yang menjadi latarbelakang kemiskinan, sebut saja pendidikan, korupsi dan kesehatan. Sekiranya ketiga faktor tersebut sudah cukup mewakili dari berbagai faktor.

Pendidikan tidak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang semakin terjajah dalam kemalangan, baik dari aspek motivasi dan tekhnologi, kemalangan tersebut bisa dilihat banyak pelajar bahkan sampai mahasiswa yang hilang semangat dalam belajar, ini karena mereka kurang termotivasi, bukan hanya karena kurangnya biaya tapi bisa jadi karna memang tidak ingin belajar, ada juga yang tidak semangat karena putus cinta.

Dari aspek tekhnologi, mereka lebih dominan dengan bermain game, melihat video atau sibuk membuat konten di medsos seperti tiktok atau lainya yang membuat mereka teropium sehinga pelan-pelan menghilangkan minat belajar.

Korupsi sekiranya seluruh masyarakat setuju mengenai hal tersebut sebagai salah satu faktor dalam berbagai masalah sosial, dikutip dari Transparency International peringakat korupsi di Indonesia menempati posisi ke 85 dari 180 negara, walau demikian tetap saja pengaruhnya sangat besar bagi negara, karna apapun sekarang bisa dikorupsi, seperti Bansos, BPJS, anggaran pendidikan dan lainya, dan yang mengehrankan pelakunya tidak jarang adalah oknum dengan pendidikan tinggi.

Kesehatan tidak semua masyarakat bisa menabung, ada yang bisa dikatakan “kalau tidak kerja tidak makan”, tentu bagaimana kalau orang tersebut sedang sakit ?, tidak bisa bekerja ?, fakta dimasyarakat jaminan kesehatan masih belum bisa maksimal, walalaupun pemerintah sudah membuat kebijakan terkait kesehatan masyarakat berupa BPJS, sering terjadi pelayanan yang kurang menyenangkan oleh rumah sakit terhadap pasien yang menggunakan BPJS, kurang diperhatikan, fasilitas yang
kurang memadai, serta antrian panjang.

Melihat tujuan akhlaq seperti dijelaskan oleh al-Kharaz yaitu mendapatkan
ridho tuhan dan bukan dipuja oleh makhluk, karena agama menghendaki
masyarakat yang saling mengasihi, gotong-royong, mendahulukan kepentingan umum bahkan kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Dari tujuan tersebut diketahui bahwa peran akhlaq yaitu membiasakan perilaku-perilaku baik tersebut melekat dalam jiwa dan raga manusia yang melahirkan kesetabilan kondisi sosial masyarakat serta menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi.

Al-Junaidi menjelaskan peran Tasawuf selain membersihkan hati adalah untuk memberikan kebaikan pada masyarakat, sehingga ajaran-ajaran Tasawuf tidak hanya berputar dalam lingkaran pemeliharaan hati kepada tuhan saja, tetapi sampai pada kepedulian terhadap sesama manusia dan makhluk lainya.

Tentunya faktor-faktor kemalangan dimasyarakat adalah buah dari hati yang
rusak, sehingga banyak yang lebih mendahulukan hawa nafsunya, merelakan
saudaranya menderita demi kepentingan pribadi, tidak ada saling mengasihi,
gotong-royong, sentimen dan lainya. sumber dari rusaknya moral dalam masyarakat yaitu hati yang kotor.

Penutup dari paparan diatas adalah peran Akhlaq dan Tasawuf adalah membiasakan perilaku yang menjadi lantaran terwujudnya kemaslahatan sosial masyarakat serta memperbaiki dan memelihara kondisi sosial masyarakat.

Jadi keduanya adalah satu kesatuan yang tidak boleh terpisah demi terwujudnya kemashlahatan. Nabi bersabda:”Ingat bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging, yang mana ketika daging tersesbut baik, maka baik pula seluruh tubuh”

Sabda nabi tersebut memberikan suatu pengertian bahwa terjadinya
kemalangan dimasyarakat berawal dari hati setiap individu masyarakat yang tidak terawat, sehingga penting sekali harapan kemaslahatan masyarakat dapat terwujud dengan merawat hati, sehingga hati menjadi baik yang dapat melahirkan kebaikan
dimasyarakat.

Bagikan
Literatur Nusantara
Ilmu Pengetahuan Untuk Indonesia Jaya

    Akhlak di Era Modern, Tantangan dan Peluang

    Previous article

    Pendidikan TAT Sebagai Bentuk System Thingking Pendidikan Islam: Upaya Filtarsi Informasi terhadap Artificial Intelegence

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *