EssaiOpini

Pendidikan TAT Sebagai Bentuk System Thingking Pendidikan Islam: Upaya Filtarsi Informasi terhadap Artificial Intelegence

PENDAHULUAN

perkembangan masyarakat dunia begitu sangat pesat. Sekarang masyarakat dunia berada pada masa 5.O yang menuntut penggunakan teknologi dan digital dalm kehidupan sehari sehari. Salah satu penemuan spektakuler di era sekarang adalah kecerdasan buatan yang disebut dengan artificial intelegence.

Banyak fitur fitur baru yang lahir akibat artificial intelegence seperti chat gpt, perplexity, Grammarly, dan masih banyak lagi. Fitur fitur ini sangat membantu pekerjaan manusia dalam melakukan berbagai hal. Dengan sekejap mata, pertanyaan pertanyaan dari manusia mampu dijawab dengan hitungan detik. 

Disamping membantu mempermudah pekerjaan manusia, artificial intelegence memiliki segudang data yang dapat diolah, dari basis data yang ada artificial intelegence memaparkan historis dan jawaban berbasis data.

Segala hal yang ditanyakan kepada AI dijawab dengan komprehensip layaknya seorang ahli yang kompeten. Implikasi dari hadirnya artificial intelegence terhadap kehidupan manusia sangat dasyat. Semua lini kehidupan manusia dapat dibantu oleh AI. Baik dari sisi ekonomi, budaya, bahkan pendidikan. 

Pendidikan menjadi focus pembahasan pada kesempatan ini yang menjadi instrument penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan menjadi instrument penting dalam lini kehidupan selain ekonomi dan Kesehatan. Lahirnya artificial intelegence jelas memberi dampak yang signifikan terhadap pendidikan diseluruh dunia.

Para penuntut ilmu diberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan bahan bacaan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Kemudahan ini berdampak baik, karena dengan akses bacaan yang mudah artificial intelegence memberikan berbagai kesempatan terhadap siapaun untuk belajar lebih lagi tanpa harus melalui institusi pendidikan.

Dapat dikatakan dengan hadirnya artificial intelegence membuka pintu kepada siapapun, baik muda maupun tua, baik sikaya maupun simiskin untuk belajar. Hal serupa juga terjadi dalam pendidikan agama. Artificial intelegence dapat memberikan jawaban jawaban hukum yang ditanyakan dengan cepat.

Namun pertanyaan pertanyaan perihal agama, mesti ditinjau ulang karena artificial intelegence banyak berisikan data palsu. Hal ini harus menjadi perhatian khusus terhadap penuntut ilmu agama, guna tidak terjerumus dalam kesesatan dalam memahami agama.

Kontroversi artificial intelegence 

Dengan tools yang tersedia artificial intelegence sangat berdampak baik terhadap manusia. Namun tidak bisa dipungkuri bahwa kehadiran AI juga bisa menjadi momok yang sangat menakutkan bagi manusia. Jika tidak dimitigasi dari sekarang AI akan menjelma sebagai raksasa besar yang siap menerkam manusia.

Pertama artificial Intelegence tidak memiliki emosional. Dalam transfer ilmu pengetahuan dengan artifial intelegence tidak melibatkan emosi. Hal ini sangat berdampak terhadap akhlak pelajar. Dikutip dari jurnal lenternal pembelajaran berbasis sosial emosional sangat penting dalam membentuk karakter peserta didik dan dapat di integrasikan kedalam pembelajaran. Sejatinya belajar bukan hanya oalah otak namun juga sikap dan akhlak. Jika dibiarkan manusia akan kehilangan aksiologi pendidikan islam yaitu nilai akhlak.

Kedua, artificial intelegence rawan dengan kepalsuan dan pembohongan. Karena basis dari artificial intelegence adalah data yang ada dan disanjikan secara instan tanpa ada filtrasi. Selain itu artificial intelegence merusak epistimologi islam salah satunya ilmu sanad. Karena artificial intelegence bukanlah seorang ahli, bukanlah seorang yang kredibel terkhusus dibidang agama.

Ketiga, artificial intelegence memberikan jawaban secara instan dan sangat cepat. Hal imi dapat merusak pelajar karena kecanduan dengan bantuan artificial intelegence dan larut menggunakannya. Implikasinya pelajar akan terjebak dalam lingkaran setan dan kebodohan.

Hal yang paling sangat merugikan adalah pelajar akan kalah bersaing, bukan dengan sesame manusia namun dengan artificial intelegence itu sendiri. Disisi lain pelajar tidak akan memiliki skill apapun karena telah nyaman dengan artificial intelegence yang sangat memanjakannya.

Bagi pelajar rumpun ilmu keislaman, mesti berhati hati dengan artificial intelegence. Beberapa dampak yang telah disampaikan seperti kecanduan, yang ujungnya adalah kebodohan, seperti nyaman dengan artificial intelegence yang ujungnya adalah merusak epistimologi pendidikan islam terutama ilmu sanad, artificial intelegence juga berimplikasi terhadap nilai nilai keislaman. Dengan hal instan pelajar bisa saja melakukan plagiarisme yang merusak keintelektualan islam.

System thinking sebagai filtrasi terhadap informasi dari artificial intelegence

System thinking adalah memikirkan segala sesuatu yang diputuskan dengan cara dibandingkan dengan konektifitis dengan hal lain. Dengan demikian kita akan mendapatkan jawaban yang benar. Kita kerucutkan kedalam tema agama.

Dengan demikian seorang pelajar agama mesti memiliki system thinking. Salah satu brntuk system thinking yang digunakan yaitu dengan membandingan informasi informasi dari artificial intelegence dengan konsep tauhid akhlak, dam tasawhuf.

Tauhid adalah hakikat ontologis dari agama islam, puncak dari agama adalah tauhid. Atas dasar ini, jika seorang pelajar agama mendapatkan informasi dari artificial intelegence mesti membandingkannya dengan ajaran tauhid, sesuai apa tidak. Sejatinya tauhid menjadi validitas terhadap informasi seputar agama yang didapatkan dari AI.

Kedua adalah akhlak dan tasawhuf adalah nilai aksiologis islam. Nilai nilai agama sejatinya tidak bisa ditransfer melalui data informasi saja sebagaimana yang terjadi terhadap AI, melainkan nilai aklak dan tasawhuf melibatkan emosional yang hanya dimiliki manusia.

Selain itu aklak dan tasawuf juga menjadi benteng terhdap pelajar untuk melakukan Tindakan plagiarisme dan penipuan yang didapat dari AI. Karena AI sangat rawan terhadap kepalsuan, pelajar yang memiliki aklah dan tasawuf sesuai ajaran agama islam tidak akan terjerumus dalam kejahatan yang demikian.

KESIMPULAN

Pada masyarakat 5.0 yang mengarustamakan terhadap artificial intelegence harus menjadi perhatian khusus, terutama bagi pelajar di bidang agama. Karena artificial intelegence memiliki beberapa kontrovrsi diantaranya pertama adalah AI tidak memiliki emosional dan mentransfer Ilmu.

Kedua AI rawan dengan kepalsuan karena berbasis algoritma data yang ada. Jika dibiarkan begitu saja maka akan menjadikan pelajar akan malas, candu, sanad keilmuan yang tidak jelas, bahkan merusak nilai dan hakikat agama. Maka perlu ada solusi terhadap hal hal diatas, diantaranya

Pertama perlu adanya system thinking dalam hal ini faliditas keilmuan islam adalah tauhid sebagai landasan ontologis. Kedua adalahakhlak dan tasawhuf adalah aspek ni,lai aksiologis. Tauhid, akhlak dan tasawuf menjadi filtrasi dan system thinking untuk validitas kebenaran informasi mengenai agama yang didapat melalui AI.

Bagikan
Literatur Nusantara
Ilmu Pengetahuan Untuk Indonesia Jaya

    PERAN AKHLAQ DAN TASAWUF TERHADAP DALAM MENGATASI MASALAH SOSIAL

    Previous article

    Pentingnya Akhlak didalam Pendidikan

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *