SEJAK 2140-1711 SM era Dinasti Xia dan Shang 1722-1066 SM, Tiongkok sudah menerapkan penulisan sejarah. Mereka memiliki pegawai khusus istana yang disebut She Guan (pejabat penulis sejarah). Sistem tersebut mencapai puncak kesempurnaan pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) melalui ketetapan bahwa tugas she guan adalah membuat catatan entang perkataan dan perbuatan sehari-sehari dari kaisar yang disebut qi ju zhu (catatan kehidupan harian). Pada masa itu, bangsa Tiongkok menuliskan catatan dengan cara menggesek campuran dari material. hewan atau tumbuhan dengan mineral atau Lem pada batu atau tulang yang basah. Lalu dalam perkembangannya menggunakan kayu, bambu dan sutra (300 SM) dan kertas sejak ditemukan oleh Tsai Lun (105 M).

Pada era Dinasti Tang (518-981 M) diberlakukan cara penulisan sejarah yg disebut Zheng Ji. Era Kaisar Xian Zong (806-82) ditetapkan bahwa penulisan sejarah tercatat setiap hari. Maka kemudian dikenal catatan harian (ri-li atau ri-lu). Era Dinasti Song, ri-li wajib disusun dalam bentuk buku babon sejarah yang disebut shi-lu. Sebenarnya sistem ini sudah diberlakukan sejak Dinasti Liang, 502-557 SM, dengan nama Liang Huang di she lu (catatan kejadian aktual Kaisar Liang), namun masih belum diberlakukan dalam sistem pemerintahan secara mantab. Kemudian pada masa Dinasti Tang, didirikanlah Balai Sejarah. Dan mulai masa ini, semua yang menduduki tahta kekaisaran wajib memerintahkan pejabat penulis sejarah untuk menyusun secara konologis (shi-lu) setiap peristiwa, perilaku Kaisar dn pekerjaan terkait dengan jabatannya didasarkan pada qi-ju-zhu, shi zeng-li, dn ri-lu. Tradisi ini dilanjutkan hingga masa pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644 M).

Kalau di Tiongkok, catatan harian kaisar dan pemeeintahannya ditulis 2000 SM, maka di Nusantara baru mulai pada 1365 M, dg munculnya Negarakretagama.  Kitab ini ditulis pada bulan Aswina tahun saka 1287 M sekitar September – Oktober 1365 M, oleh Dang Acarya Nadendra yang menggunakan nama samaran Prapanca.

Bukan tidak mungkin  Prapanca terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh para pendahulu di Tiongkok, sehingga ia menuliskan segala hal dan prilaku Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit.

Hingga kini Tiongkok masih menjaga tradisi tersebut. Tradisi masa lampau yang buruk mereka evaluasi untuk kemudian mereka melakukan perbaikan. Tiongkok tidak pernah menyembunyikan catatan sejarahnya. Mereka enggan melakukan manipulasi masa lalunya hanya karena persoalan politik. Bagi Tiongkok, sejarah atau masa lalu merupakan pelajaran berharga untuk membangun peradaban masa depan yang lebih baik.

Program OBOR misalkan, merupakan hasil yang diperoleh dari membangun sejarah dan peradaban masa lampau.

Berbeda dengan Nusantara/Indonesia. Sejarah yang dipandang tak menguntungkan rezim, hanya ada dua alternatif. Pertama, Dihilangkan. Kedua, lakukan manipulasi terhadap kejadian lampau/sejarah tersebut.

Negara kretagama, mengenai keberadaan kitab ini di Istana Cakranegara Lombok,  Hingga kini penulis belum memperoleh jawabannya. Yang jelas, Publik dan pemerintah Indonesia mestinya layak berterima kasih pada Brandes, pada 1894, dialah yang menemukan naskah Negarakretagama yang tersimpan di Istana Lombok, di mana saat itu L.J.A. Brandes mengiringi ekspedisi KNIL ke Lombok. Ia menyelamatkan perpustakaan Raja Lombok di istana Cakranegara, sebelum istana tsb dibakar.

Bagikan