Mbah Mutamakkin atau Syekh Ahmad Mutamakkin adalah seorang tokoh agama asal desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah yang dikenal sebagai pendakwah Islam dan pendiri tarekat Mutamakkin di wilayah pesisir utara Jawa pada abad ke-18 dia dianggap sebagai seorang sufi besar yang berperan penting dalam perkembangan spiritual Islam di Jawa, khususnya di wilayah Pati. Menurut Zainul Milal Bizawi (2002, 105 lihat pula dalam Sanusi: 2007: 4), pemikiran dan paham keagamaan Syekh Ahmad al- Mutamakkin, rihlah ilmiah atau pengembaraannya dalam menuntut ilmu serta jaringan keilmuan Syekh Ahmad al-Mutamakkin tidak terlalu penting, baginya yang lebih penting adalah tentang signifikansi dan sepak terjang beliau dalam dinamika Islam di Jawa terutama tentang pilihannya dalam memakai serat Dewaruci (Musbikin: 2010) sebagai salah satu strategi dan metode dalam meyampaikan berbagai ajarannya.
Tarekat mbah Mutamakkin yaitu yang pertama Pendekatan Tasawuf yang Holistik yaitu Pemikiran tasawuf yang inklusif dan terbuka, artinya tidak membatasi ajaran tarekat hanya pada kalangan elite atau yang dianggap ahli agama saja, melainkan juga mengundang seluruh lapisan masyarakat, mulai dari petani hingga pedagang, untuk berpartisipasi dalam kegiatan spiritual. Yang kedua Pemikiran Mbah Mutamakkin sangat fokus pada upaya menyatukan ajaran Islam dengan budaya Jawa yang ada. Menurut Bruinessen, Martin van. (1999). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Ia memahami bahwa Islam harus menggabungkan ke dalam adat dan tradisi masyarakat agar mudah diterima. Misalnya saat berdzikir dan shalawat, ia mengadaptasinya ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah dipahami masyarakat setempat. Mbah Mutamakkin juga mengakui dan menghormati tradisi lokal seperti Selamatetan, Kenduri dan Ruwatan yang berakar pada budaya Jawa. Yang ketiga Mbah Mutamakkin menekankan pentingnya dzikir dan wirid dalam menyucikan hati dan jiwa. Dzikir dianggap sebagai cara untuk mengingat Allah setiap saat dan menghilangkan nafsu duniawi yang mengganggu. Dalam tarekat yang dikembangkannya, terdapat berbagai jenis dzikir dan wirid yang dirancang untuk mendatangkan ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Allah. Yang keempat Sebagai seorang sufi, Mbah Mutamakkin juga dikenal dengan pendekatan mistiknya. Menurut Simuh. (1995). Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. Simuh membahas pengaruh tokoh-tokoh mistik Jawa dalam perkembangan Islam Kejawen, beberapa ajarannya mengandung unsur mistik atau mukjizat yang sulit dijelaskan secara rasional. Contohnya adalah kisah karamah (keistimewaan) yang diperolehnya sehingga membuatnya dihormati sebagai wali. Pendekatan mistik ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi masyarakat karena memberikan kesan bahwa Islam mempunyai dimensi spiritual yang mendalam. Namun beliau menegaskan, mukjizat atau karamah hanyalah sebagian dari perjalanan spiritual dan bukan tujuan utama. Tujuan utamanya adalah mencapai ma’rifatullah atau mengenal Allah secara hakiki. Dengan begitu, Mbah Mutamakkin memastikan murid-muridnya tidak terbawa oleh hal-hal yang luar biasa namun tetap fokus pada tujuan spiritual yang sebenarnya. Yang kelima Dalam ajarannya, Mbah Mutamakkin menekankan pentingnya tawakal (menyerah kepada Allah) dan zhud (hidup sederhana dan tidak terikat pada dunia). Beliau mengajarkan bahwa kesederhanaan adalah jalan menuju kebahagiaan spiritual dan kedekatan dengan Tuhan. Orang yang mengikuti jalan asketisme akan lebih mudah mengendalikan nafsunya dan tidak terlalu memikirkan hal-hal duniawi yang dapat menghambat perjalanan spiritualnya. Tawakal dan asketisme merupakan landasan penting dalam amalan tasawuf yang diajarkannya. Ia mengajarkan bahwa segala sesuatu dalam hidup ini bersifat sementara dan tidak pantas mendapatkan cinta yang berlebihan. Kekayaan, status, dan ketenaran dianggap sebagai cobaan yang dapat menghalangi manusia untuk mengingat Allah. Pemikiran ini serupa dengan prinsip sufi yang bersumber dari ajaran Al-Quran dan Sunnah yang mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah sarana untuk mencari keridhaan Allah. Yang keenam Salah satu aspek yang ditekankan oleh Mbah Mutamakkin adalah pentingnya etika mulia dan pengabdian kepada sesama. Ia meyakini, seorang sufi tidak hanya harus mendekatkan diri kepada Allah, namun juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Refleksi ini membuat jemaah Mbah Mutamakkin tidak hanya fokus pada ibadah ritual tetapi juga bakti sosial. Bahkan beliau mengajarkan murid-muridnya untuk selalu membantu orang yang membutuhkan, menghormati sesama dan tidak menindas orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa jamaah yang dididik oleh Mbah Mutamakkin adalah jamaah yang berlandaskan kemanusiaan dan kebaikan universal, sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamin (rahmat terhadap seluruh alam). Yang ketujuh Mbah Mutamakkin sering menggunakan simbol dan metafora dalam ajaran tasawufnya. Hal ini konsisten dengan pendekatan budaya Jawa terhadap simbolisme. Beliau menggunakan istilah-istilah atau kiasan yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Contoh yang sering digunakan adalah alegori alam semesta sebagai tanda kebesaran Tuhan atau hubungan manusia dengan penciptanya seperti hubungan antara anak dan orang tua. Simbol-simbol ini membantu orang memahami konsep tasawuf yang seringkali abstrak dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang. Dengan demikian masyarakat tidak merasa terbebani dengan konsep-konsep yang rumit dan tetap merasa dekat dengan ajaran Islam yang diajarkan Mbah Mutamakkin. Yang kedelapan Mbah Mutamakkin dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan toleransi antaragama. Ia berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda agama tanpa menimbulkan konflik. Bagi Mbah Mutamakkin, Islam adalah agama damai dan cinta, hal itu ditunjukkan melalui sikapnya yang menghormati keyakinan orang lain.
Beliau mengajarkan bahwa dakwah hendaknya dilakukan dengan cinta dan kesabaran, tanpa paksaan. Pendekatan ini membuat ajaran Islam yang disampaikannya diterima dengan baik oleh umat yang berbeda keyakinan. Sikap toleran tersebut merupakan salah satu warisan penting pemikiran Mbah Mutamakkin yang masih relevan hingga saat ini.
THARIQAH MBAH MUTAMAKKIN



Comments