Opini

Generasi Muda, Ayo Berpolitik

Pagi biasa di bulan Desember. Menatap kalendar yang mengisyaratkan beberapa hari lagi tahun berganti. Menuju 2023, tahun  yang kabarnya resesi, sekaligus memasuki tahun politik.

Rasanya belum terhapus dari ingatan, tentang kebisingan cebong dan kampret di 2019 lalu, meski yang berkontestasi sekarang bersekutu. Politik memang begitu. Tidak ada musuh atau teman abadi, yang abadi justru emosi pendukung fanatik yang bahkan memutuskan hubungan dengan rekan, bahkan keluarga.

Sebagai mahasiswi yang juga bekerja, saya memulai hari dengan mencari tontonan yang menghibur, sekaligus memperluas pola pikir dan cara pandang. Algoritma youtube membawa saya pada konten Najwa Shibab, jurnalis berani sekaligus putri ahli tafsir terkenal Quraish Shihab yang juga mantan menteri.

Ketertarikan pada konten Najwa Shihab dan narasi dimulai ketika saya menonton episode “Pura-Pura Penjara”. Sidak lapas Sukamiskin yang memperlihatkan kenyataan baru, yang belum pernah saya ketahui.

Awalnya, saya pikir koruptor yang tertangkap dan dipenjara sudah mendapat hukuman atas perbuatannya. Ternyata di penjara mereka masih bisa hidup nyaman dengan fasilitas yang bahkan lebih baik dibanding rakyat yang sudah di rugikan.

Rasa ingin tahu selanjutnya membuat saya tertarik membaca artikel dan perkembangan politik dari masa ke masa.

Di masa lalu (dalam tradisi agama-agama wahyu—red.) kepentingan public  diurus oleh para Nabi. Namun Nabi terakhir telah bersabda: “Ketika nabi wafat, nabi yang lain menggantikan. Tidak ada nabi setelahku, namun akan lahir banyak khalifah” . Khalifah atau para pemimpin setelah zaman nabi inilah yang menggantikan peran Nabi dalam mengurus umat.

Demikianlah, tugas seorang pemimpin dari dulu hingga sekarang tidak mudah. Tetapi faktanya, hari ini kursi kepemimpinan makin diperebutkan. Jabatan bahkan diperjual-belikan.

Politik dan Agama

Dunia politik praktis membutuhkan banyak massa. Sementara massa terbesar di Indonesia adalah penganut agama Islam. Seperti pisau bermata dua, satu sisi agama dijadikan alat kontrol agar politik tetap di jalan kebenarannya. Di sisi lain, agama digunakan untuk menarik massa demi kepentingan golongan politik tertentu.

Sebagai contoh politik identitas pada pemilu tahun 2019 lalu. partai politik ramai menggandeng para ulama. Gesekan yang ditimbulkan bukan hanya terjadi antarumat beragama, namun juga terjadi pada tubuh Islam sendiri, karena perbedaan dukungan partai politik yang dibelanya.

Memang, agama dan politik adalah isu tua dalam sejarah manusia modern. Keduanya memicu perbedaan pendapat menjadi dua bagian.

Kelompok pertama percaya bahwa agama harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan politik. Agama diibaratkan payung, yang keberadaanya melindungi semua yang terlibat dalam urusan politik.

Kelompok kedua percaya bahwa agama bersifat pribadi dan hubungan antar individu dengan Tuhannya saja. Para agamawan dianggap kurang kompeten untuk mengurus politik negara.

Kembali kepada Sang Teladan

Michael Hart dalam bukunya, The 100: A Rangking of the Most Influential Persons in History, mencatat Nabi Muhammad SAW sebagai pembangkit peradaban besar sepanjang sejarah. Nabi Muhammad tidak hanya dikenal sebagai pemimpin umat, tetapi juga seorang negarawan teragung, pejuang kemanusiaan tergigih sekaligus pemimpin militer terhebat.

Astrofisikawan Yahudi-Amerika Serikat ini bahkan menempatkan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah.

Generasi muda adalah agen perubahan, sementara Nabi Muhammad adalah tokoh peradaban terbaik. Para tokoh kaum Quraish memberikan gelar Al-Amin karena sifat amanah, jujur dan dapat dipercaya.

Ketidaknyamanan kita dalam melihat politik di masa kini, yang berbanding terbalik dengan yang dicontohkan Nabi, hendaknya memacu semangat generasi muda untuk mengubah haluan politik ke arah yang lebih baik. Stigma politik yang kotor sehingga harus dijauhi orang baik adalah salah. Justru ketika orang baik tidak mengambil kekuasaan, maka selamanya kekuasaan akan berada di tangan orang jahat.

Makin apatis generasi muda terhadap politik, maka dunia politik yang gemerlap akan makin dipenuhi orang yang hanya memperkaya dirinya sendiri. Ketika orang baik diam, dia akan terhindar dari satu masalah. Tetapi ketika orang baik mengambil sikap, lebih banyak masalah umat bisa terselesaikan.

Terakhir adalah adagium yang saya suka dan dapat menjadi pengingat kita semua, “orang baik yang diam akan menjadi mangsa orang jahat yang liar”.

Bagikan
Marni Rahayu
Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Wahid Hasyim Semarang

    NEGERI TERSEBUT BERNAMA QONNUH

    Previous article

    Agama Memanusiakan Manusia

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *