Opini

NEGERI TERSEBUT BERNAMA QONNUH

Ini sepertinya lebih ekstrim dari apa yang di-posting beberapa kawan, mengenai para sahabat yang pernah datang ke Nusantara. Iya, memang ada berita bahwa ada 10 sahabat yang diutus dengan membawa surat dari Nabi SAW datang ke Nusantara, yang negeri itu oleh Ibnu Atsir dalam “Ushud Al Ghabah fi Ma’rifah Ash Shahabah” disebut Qonnuh.

 

Orang-orang Tiongkok dalam catatan Tionghoa menyebut daerah ini sebagai Negeri Bawah Angin. Mungkin karena wilayah ini di bawah Garis Katulistiwa. Pada era Kolonial disebut sebagai Hindia Timur atau Hindia Belanda.

Diriwayatkan pula bahwa pada zaman Umar bin Abd Azis, ada raja setelah Malik Al Hind yang bersurat kepada Raja Dinasti Umayyah tersebut. Maka, kalau kemudian isi surat tersebut adalah meminta agar dikirim “guru ngaji” adalah wajar, karena sang raja sudah memeluk Islam.

Boleh jadi, orang-orang Timur Tengah yang kemudian berdatangan ke Nusantara tersebut, karena melihat adanya eksistensi kekuatan yang menjamin diterimanya Islam di Nusantara. Kekuatan tak lain adalah Malik Al Hind, Raja dari Kerajaan Sriwijaya yang masuk Islam pada abad ke 7.

Mengenai Al Hind ini, Ibnu Atsir juga menulis ratusan riwayat dari Ibnu Abbas, atau Abdullah bin Abbas mengenai di mana diturunkannya Adam as. Riwayat tersebut mengatakan, bahwa Adam diturunkan di Jabal Al Hind. Disebut Jabal karena daerah ini memiliki pegunungan-pegunungan, atau dataran tinggi. Atau dikelilingi banyak gunung.

Qonnuh kemudian disebut Nabi Saw sebagai Shind atau Sunda Land. Disebut demikian karena Nabi hanya meniru para pedagang, atau sahabat yang pernah berlayar ke negeri tersebut. Setiap pulang dari berdagang, mereka selalu melindungi kondisi negeri-negeri yang mereka kunjungi. Karena saat ini belum ada alat komunikasi.

Termasuk faktor yang mendorong kedatangan bangsa-bangsa ke luar Nusantara, karena mereka menerima informasi melalui proses perdagangan. Akhirnya, dari rasa penasaran tersebut munculah gagasan berpesiar ke negeri ini.

Kalau ternyata apa yang dikatakan Ibnu Atsir tersebut benar, maka teori awal masuknya Islam yang selama ini menjadi arus utama bagi sejarah masuknya Islam ke Nusantara menjadi terbantahkan.

Teori yang menyebut kedatangan Islam dari Persia, Gujarat atau Cina, itu semua perlu dipahami lebih komprehensif, sebagai sebuah daerah transit perlintasan jalur perdagangan atau kapal pesiar. Karena kapal pelayaran Arab ke Nusantara memiliki resiko tinggi, yakni gelombang laut dan cuaca, maka pertimbangan daerah transit adalah masuk akal. Sebutan Persia, Gujarat, dan China, tidak lebih sebagai bagian dari bahasa komunikasi asal-usul para pedagang/pelayar yang masing-masing tentu memiliki waktu dan era yang berbeda.

Boleh jadi, orang dari Arab yang dimakamkan di Barus sebagai Abdurahman bin Muadz bin Jabal adalah salah satu utusan Dinasti Umayyah yang dikirim ke Sriwijaya. Mereka sebagai realiasasi permintaan Sang Raja dalam suratnya yang ia tulis pada Abad ke-8 M tersebut.

Bagikan
Anang Harris Himawan
CEO Rumah Sejarah Indonesia

    Pandemi, Generasi Muda, Dan Kesehatan Mental

    Previous article

    Generasi Muda, Ayo Berpolitik

    Next article

    Comments

    Comments are closed.