Essai

Sumber Daya Alam Indonesia dan Kemampuan Mengelolanya

Pada Selasa (4 Januari 2017) siang, saya berkesempatan mendengar ulasan berharga dari sosok kharismatik KH. Maimoen Zubair (Mbah Mun) di kediaman beliau, di lingkungan pondok-pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Ada dua poin dari pernyataan Mbah Mun yang ingin saya ceritakan di sini. Tentu catatan ini berdasarkan kesan saya. Bila ada kurang dan lebihnya, mohon maklum.

Pertama, jika kita mengamati dan kemudian membandingkan kekayaan sumber daya alam yang ada di dunia, maka hampir semua titiknya berada di wilayah kekuasaan negara-negara Islam, atau negara dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim.

Kantong-kantong minyak bumi, wilayah subur, air bersih, bahan baku pembuatan semen, emas, permata dan lainnya, hampir semuanya dimiliki oleh negara dengan penduduk Muslim.

“Tetapi mengapa umat Islam di dunia ini menderita kemiskinan dan kesengsaraan,” tanya Mbah Moen, mengajak diskusi kepada para tamu.

Mbah Moen kemudian melanjutkan dengan memberikan jawaban, bahwa faktor penyebabnya adalah karena Umat Islam masih tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita memang memiliki bahan bakunya, namun belum bisa mengolah dan menjaganya. Oleh karena itu, anugerah dan kemudahan di dunia ini harus disertai dengan ilmu pengetahuan dan kemampuan penggunaannya.

Kedua, terkait dengan penjajah yang pernah menguasai bumi pertiwi, Indonesia.

Dalam konteks ini, salah satu faktor yang menjadikan kaum penjajah dengan mudah bertahan lama dalam menguras kekayaan bangsa kita adalah masyarakat kita sendiri, khususnya watak kita yang memilih mendukung mereka dengan materi yang tidak seimbang.

Pendek kata, rasa nasionalisme dan persaudaraan sebangsa kita tidak lebih berharga dibandingkan upah yang ditawarkan oleh kaum penjajah.

Sejarah misalnya, mengabarkan bahwa tokoh setangguh Pangeran Diponegoro pun akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh musuh bangsa, setelah saudara sebangsanya berhianat dengan memilih ke persaingan dari penjajah.

Dari dua titik di atas, menurut saya hingga hari ini masalah kita juga masih sama, yaitu masih rendahnya penguasaan teknologi dan mental sebagian saudara kita yang oportunis.

Jadi, kalau kondisi kita seperti sekarang ini, jangan buru-buru menyalahkan orang lain. Tapi, segera bangkit dan benahi diri.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Jangan Salahkan Alam

    Previous article

    Siapakah Salafi di Indonesia?

    Next article

    1 Comment

    1. Manut dawuhe Mbah Mun.
      Sifat inlander masih masif dikembangkan oleh sistem pendidikan dan sistem politik kita

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *