Opini

Siapakah Salafi di Indonesia?

Akhir-akhir ini kita sering disuguhkan dengan istilah salafi, yang oleh salah seorang tokoh Nasional dari kelompok mayoritas dianggap sebagai semacam biang kerok ketidakstabilan sosial dan politik.

Dalam perspektif sejarah teologi, istilah salafi ini disandarkan pada kelompok yang mengikuti ajaran dan prilaku keagamaan awal para sahabat.

Secara teologis, semua aliran di negeri ini mengklaim sebagai “pemegang saham” Ahlus Sunnah dan “sertifikasi Surga” akhirat.

NU itu salafi, Muhammadiyah juga salafi, Ahmadiyah, LDII, MTA, semua salafi. Hanya ketika salafi itu secara politis jadi bahan gorengan, mereka tiba-tiba menghindar.

Padahal dalam setiap diskusi dan ajang debat lainnya, mereka mengklaim sebagai pihak yang paling mengikuti sunah Nabi dan Sahabat.

Tapi kenapa, ketika muncul isu kelompok-kelompok salafi itu tidak mengakuinya? Sementara kalau debat antar aliran, mereka mengklaim sebagai pemilik saham pengikut Sunnah (Ahlus Sunnah) Nabi dan sahabat?

Lukisan suasana pelabuhan di pesisir utara Pulau Jawa di masa lampau

Islam Kejawen, Islam Salafi

Islam kejawen adalah Islam yang paling salafi, karena Islam di Jawa sudah lahir sejak Nabi Muhammad belum lahir.

Maka, di Jawa ada istilah kaum Brahmana, yang tidak lain adalah kaum pengikut Abrahamik (pengikut ajaran Nabi Ibrahim Alaihissalaam).

Islam Jawa adalah Islam monoteisme. Hanya saja, sebutan Brahmana dikesankan sebagai pengikut Hindhu. Terlebih lagi selama ratusan tahun dikuatkan oleh framming Nerlandosentris.

Sejak era Singasari ada tiga kepercayaan yang dipakai negara, meski penegasan secara konstitusi tidak (belum) ditemukan dalam lembaran lontar, prasasti, maupun relief di Candi. Tiga kepercayaan tersebut adalah Hindhu Siwa, Budha Mahayana (keduanya politheistik), dan Brahmana (Monotheistik).

Kata Brahmana itu identik dengan pemegang saham Abrahamik (ajaran Ibrahim).

Dalam perjalanannya, Siwa dan Budha disatukan pada era akhir Singasari, pada masa kepemimpinan Kertanegara dengan nama Siwa-Budha. Inilah sinkretisme agama yang pertama kali terjadi.

Maka, ketika Fashian tahun 420 Masehi dan Yuan Ji atau I’tsing dalam lawatannya ke India tahun 600 Masehi dan singgah di Nusantara, dia mendapati bahwa Budha belum sepenuhnya ada di Nusantara, kecuali hanya ada sekelompok kaum Brahmana.

Nah, Brahmana ini oleh sejarawan kolonial dibuat sebagai pembingkaian sebagai penganut Hindhu.

Dengan demikian, kalau rezim ini selalu menyandarkan kelompok kritis dari agamawan sebagai Salafi, di satu sisi, sementara pada sisi lain senantiasa meneriakkan Islam Nusantara, kearifan lokal, kebhinekaan, dan lain-lain akan tampak ambivalen. Rezim ini tidak memahami sejarah bangsanya sendiri.

Itu semua merupakan konsep Islam Salafi, Islam Kejawen, atau ajaran Ibrahim yang sudah ada jauuh ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad lahir membawa ajaran Islam, yang kemudian dikompilasi pasca hijrahnya Nabi ke Yastrib (Madinah).

Tiga Imperium Jawa Penganut Islam Salafi

Ada tiga imperium di Jawa yang menganut Islam Salafi atau aliran Abrahamik. Mereka adalah: Pertama, Medang Kamulan atau Kerajaan Pucang Sulo yang beribukota di Tsu Zhen (Sucen, Doplang, Blora), yang wilayahnya membentang dari timur Sungai Lao Tze (Blora) hingga Muara Silugangga (Juwana).

Imperium ini lebih dikenal dengan Imperium Kalinggapura dan mencapai puncak kejayaan pada era Ratu Shima, putri Mpu Badranaya.

Pada era Dinasti Umayyah pernah mengirim satuan militer ke Jawa, namun menjumpai negeri ini menerapkan hukum sebagaimana hukum Islam, qishas. Korban pertama adalah Kandayun, anak sendiri yang kemudian menjadi penguasa Medang Anggana (Kudus).

Kedua, Medang Poh I Pitu (Medang Matriam), wilayahnya dari Barat Sungai Lao Tze hingga Dihyang (Dieng). Dari sini lahirlah Trah Mataram Kuno dari keturunan Wangsa Sanjaya.

Ketiga, Medang Karang Kamulyan atau Medang Galuh, wilayahnya dari Barat Dieng hingga Pandeglang. Imperium ini lah yang menurunkan Trah keturunan Imperium Pasundan Raya.

Bagikan
Anang Harris Himawan
CEO Rumah Sejarah Indonesia

    Sumber Daya Alam Indonesia dan Kemampuan Mengelolanya

    Previous article

    Qatar, Piala Dunia 2022, dan Pesan Islam

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *