Opini

Rahasia Keruntuhan Majapahit

Ilustrasi Perang intisari.grid.id

Konflik antara Islam dan Jawa secara epik ternarasikan di serat dan babad. Keruntuhan Majapahit karena serbuan Raden Patah dikupas dengan detil dan dramatis, kemudian secara sistematis narasi ini dikembangkan oleh babad-babad atau buku-buku berikutnya sebagai setting sejarah di daerah-daerah Jawa lainnya. Dikemudian hari narasi ini oleh para penulis sejarah dikategorikan sebagai Historiografi Tradisional.

Term Historiografi Tradisional ini seolah mewakili carita tutur di masyarakat dengan mengesampingkan pewarisan lisan dan catatan-catatan rahasia yang mengendap melalui ajaran-ajaran luhur para murid dan keturunan Walisongo. Akibatnya jika muncul narasi lain yang menyelisihi (Historiografi Tradisional), maka segera narasi tersebut dihakimi sebagai narasi subyektif tanpa dasar yang harus disingkirkan dari panggung sejarah nasional.

Narasi mayor tentang Runtuhnya Majapahit diserang Raden Patah, masih kokoh menghegemoni tulisan-tulisan sejarah kita, sementara narasi-narasi lain dari para sejarahwan yang kritis seolah membeku sebagai wacana yang belum memiliki tempat selayaknya.

Berikut ini kami kemukakan bukti-bukti sejarah dan pendapat para ahli sejarah tentang runtuhnya Majapahit, baik yang kritis maupun yang tetap kukuh memegang narasi lama. Pertama, Thomas Stamford Raffles yang dikemukakan di dalam bukunya The History Of Java. Di dalam bukunya itu, Raffles mengemukakan pendapat bahwa kerajaan Majapahit diruntuhkan oleh Demak pada tahun 1400 “sirno ilang kertaning bumi” sesuai dengan berita tradisi (Raffles, I, 1817 :372).

Kedua, Prof. P.J. Veth dengan mendasarkan pada keterangan yang terdapat di dalam prasasti-prasasti Girindrawardana dari tahun Saka 1408, berpendapat bahwa kerajaan Majapahit baru runtuh sesudah tahun Saka 1410 atau tahun 1488 AD (Veth, I, 1896:243).

Ketiga, Dr. G.P. Rouffaer  dalam karangannya yang berjudul “Wanneer is Madjapahit gevallen?” dengan panjang lebar mengupas masalah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Di dalam karangannya itu ia mengemukakan pendapatnya bahwa Majapahit runtuh antara tahun 1516 dan 1521, yaitu kira-kira pada tahun 1518 (Rouffaer, 1899:139,144).

Keempat, Pada tahun 1968 di dalam bukunya yang berjudul : Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, Prof. Dr. Slamet Muljana mengemukakan pendapat bahwa Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400, akibat serangan dari Demak (Prof. Dr. Slamet Muljana, 1986:40 dst.). Pendapatnya itu didasarkan pada berita-berita tradisional dan “Resume laporan Residen Poortman tentang naskah Kronik Cina dari kelenteng Sam Po Kong Semarang.” Menurut De Graaf yang wawancarai langsung oleh Ki Agus Sunyoto, menyatakan Residen Portman dan Kronik Cina Klenteng Sam Po Kong adalah fiktif alias tidak pernah ada.

Kelima, Prof. Dr. N.J. Krom pada dasarnya dapat menerima berita tradisi yang menyebutkan bahwa Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400. Akan tetapi Krom tidak menyetujui keterangan yang menyatakan bahwa keruntuhan Majapahit itu disebabkan oleh serangan koalisi daerah-daerah Islam di pesisir yang dipimpin oleh Demak. Sebaliknya Krom mengajukan pendapat, bahwa keruntuhan Majapahit disebabkan karena serangan sebuah Kerajaan Hindu yang lain dari Kediri, yaitu dari Dinasti Girindrawadana. Dinasti Hindu dari Kediri ini berhasil menguasai Kerajaan Majapahit dan kemudian meneruskan pemerintahan sampai beberapa lamanya. Di samping itu Krom berpendapat pula bahwa sampai pada tahun 1521, Majapahit Masih Berdiri bahkan berdasarkan temuan sebuah prasasti tembaga dari daerah Malang yaitu prasasti Pabanolan Pari, Krom berpendapat bahwa Majapahit masih ada pada tahun seka 1463 ( 1541 AD) ( Krom, 1913:257 1923:83-84 ; 1931:466 ).

Keenam, DR . W. F. Stutterheim, dengan menyadari pula bahwa berakhirnya Majapahit tidak diketahui dengan dengan pasti, telah menyatakan sebuah dugaan bahwa Majapahit berakhir antara tahun 1514 dan 1528, yaitu pada tahun 1520. (Stutterheim 1932:83, 1952:90; Prijanutono 1953:90).

Ketujuh, Menurut B.J.O Schrieke, keruntuhan Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1486 AD (1388 Saka), yaitu ketika Majapahit diserang oleh Bhattara Ring Dahanapura, dengan bantuan raja-raja daerah pesisir. Pada waktu itu yang menjadi raja di Majapahit adalah Shinga Wikramawardhana, sedangkan Bhattara Ring Dahanapura yang mengadakan penyerangan Majapahit, tidak lain dari Bhatara I kling yang bernama Diah Wijayakarana Girindrawardhana yang meninggal pada tahun Saka 1396.  (Schrieke, 1957:58-64).

Kedelapan, Dalam Studinya mengenai ketatanegaraan  Majapahit, Prof. Muh. Yamin mengemukakan pula pendapat bahwa Kerajaan Majapahit runtuh sesudah tahun 1522 dan sebelum tahun 1528, yaitu kira-kira pada tahun 1525 (Yamin, II, 1962:334-335). Pendapatnya itu didasarkan pada pemberitaan Pigafetta tahun 1522 yang masih menyebutkan adanya Majapahit (Magepaher) dan didasarkan pula pada pemberitaan De Barros yang menyebutkan bahwa pada tahun 1528 daerah Panarukan telah mengirimkan Duta sendiri ke Malaka, untuk mengadakan perjanjian dengan Portugis. Adanya perjanjian antara Penarukan dan Portugis pada tahun 1528 itu olehmu Muh. Yamin, pusat politik Majapahit dianggap sudah tidak ada lagi.

Kesembilan, KH. Ng. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo mengungkapkan bahwa; “Kisah Perebutan kekuasaan Tandha Bhintara (Raden Patah) terhadap Adipati Bhintara Lembu Sora inilah yang dikacaukan dengan cerita perebutan tahta Majapahit oleh Raden Patah, yang semestinya peristiwa perselisihan Majapahit dengan Demak itu terjadi mada masa Sultan Trenggono, yang ditandai serangan-serangan lascar Islam dibawah pimpinan Sunan Ngudung dan dilanjutkan oleh Sunan Kudus pada tahun 1447 Saka dan 1449 Saka (1525 dan 1527 M), jauh setelah wafatnya Raden Patah.”

Kesepuluh, Hasan Djafar, dalam penyimpulannya mengenai keruntuhan Majapahit mengemukakan : “Berita tradisi mengenai saat keruntuhan Kerajaan Majapahit pada Saka 1400, yang disimpulkan dalam candra sengkala ―Sirna Ilan K€Rtaning Bhumi‖, haruslah ditafsirkan sebagai peristiwa perebutan kekuasaan atas tahta Kerajaan Majapahit yang dilakukan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya terhadap Bhre Krtabhumi. Pada tahun Saka 1400 itu Ranawijaya mengadakan penyerangan ke Majapahit (yuddha lawanin Majapahit). Dalam penyerangan itu Bhre Krtabhumi gugur di Kedhaton.”

Kesebelas, Kesaksian Tome Pires yang pada tahun 1513 M yang datang ke Jawa, ia mendapati Kerajaan Demak dipimpin Pate Rodin Jr (Sultan Trenggana). Di tempat berbeda, Tome Pires juga mencatat bahwa di pedalaman Jawa masih terdapat kerajaan yang bukan Islam (Majapahit) masih berkuasa dan memiliki prajurit bersenjata senapan sebanyak 100.000 orang.

Keduabelas, Catatan Antonio Pigafetta; Antonio Pigafetta dari Italia datang ke Jawa tahun 1522 M, menegaskan bahwa Kerajaan Meghepahert (Majapahit) yang bukan Islam masih berkuasa di pedalaman dengan pasukan yang kuat.

Ketigabelas, Serat Darmogandul; Serat inilah yang paling lengkap dan dramatic menarasikan kedurhakaan Raden Patah terhadap ayah kandungnya, Prabu Brawijaya V dengan menyerang Majapahit pada tahun Saka 1400 atau 1478 M. Mengenai serat ini, Damar Sasongko, penulis buku “Darmaghandul, Kisah Kehancuran Jawa dan Ajaran-Ajaran Rahasia” menulis bahwa naskah asli serat ini berbentuk macapat, namun kenyataannya naskah yang ada hari ini berbentuk prosa dengan bahasa Jawa Ngoko (kasar). Naskah prosa Serat Darmaghandul ini dibuat pada 23 Ruwah 1830 atau 23 Syaban 1318 Hijriyah atau sama dengan 16 Desember 1900. Ki Agus Sunyoto (2015) menyatakan Serat Darmagandul ditulis oleh seorang penginjil pribumi bernama Ngabdullah dari Juwono Pati yang kemudian berjuluk Ki Ibrahim Tunggul Wulung (1800-1885 M). Tunggul Wulung menulis Serat Darmagandul atas perintah pemerintahan Kolonial Belanda untuk menyerang Islam dan pondok pesantren yang dikembangkan para pengikut Pangeran Diponegoro yang mundur usai perang Jawa 1830. Tunggul Wulung untuk keperluan penulisannya mengadaptasi hampir sebagian besar isi Babad Kediri yang ditulis dari kesaksian Gendruwo (Jin) Bota Locaya.

Keempatbelas, Prasasti-prasasti peninggalan Girindrawardhana. Prasasti ini terdiri dari lima prasasti, yaitu Prasasti Petak, Prasasti Trailokyapuri I dan II yang memuat angka tahun Saka 1408 (1486 Masehi), Prasasti Trailokyapuri III yang dituliskan pada dua batu (angka tahunnya sudah rusak dan tidak terbaca lagi) berasal dari tahun Saka 1408 dan Prasasti Trailokyapuri IV. Prasasti Trailokyapuri IV ditemukan di Dusun Sidotopo, Desa Manunggal Kecamatan Mojosari berangka tahun Saka 1408. Dan didalam Prasasti petak kita mendapatkan sebuah keterangan penting. Keterangan ini menyatakan adanya peperangan melawan Majapahit ( yuddha lawanin Majapahit ). (  Arian Mardiansyah Putra, DINASTI GIRINDRAWARDHANA DYAH RANAWIJAYA DALAM KAJIAN PRASASTI PETAK TAHUN 1486 M. UN Surabaya 2021. hlm. 9-10). Gerindrawardana adalah Raja Majapahit yang mengkudeta Brawijaya V dan menjabat seiring dengan pertumbuhan Kesultanan Demak Bintoro di pesisir Utara Jawa.

Sebagai pondasi pembangunan peradaban, sejarah bukanlah teks profan yang hanya berkelindan di ruang pengetahuan semata, tetapi juga bukan Teks Suci yang lepas dari kritik, Sejarah adalah perangkat ilmu yang merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan yang rasional metodoligis dan keyakinan (spiritual). Pemaparan para tokoh sejarah diatas bisa menjadi pertimbangan masyarakat sejarah untuk membuka diri menilai dan mengkritisi setiap sumber sejarah yang lebih obyektif dan rasional dengan landasan Spiritual (Local Wisdom). Wallahualam

Bagikan
Muhammad Ali Burhan
Pengkaji Sejarah Ratu Kalinyamat dan Ketua Yayasan Isykarima Jepara

    Pangeran Madrais dan Sunda Wiwitan

    Previous article

    Prinsip Aswaja Di Negara Pancasila

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *