Opini

Brahmana Bukan Identitas Agama Hindu

Lazim kita mendengar bahwa sebelum masifnya penyebaran Islam, kerajaan-kerajaan yang berkembang di Nusantara di-identikkan dengan Hindu-Budha. Ada sebuah istilah yang diambil dari apa yang dicatat I’tsing, bahwa ketika ia sampai di Jawa dalam mencari Weda berbahasa Sansekerta, ia mendapati bahwa di Jawa tidak banyak penganut Budha. Tetapi yang berkembang adalah Brahmana.

Nah, istilah Brahmana tersebut dalam perkembangannya di-identikkan dengan para tetua atau ‘Ulama’ Hindhu. Istilah Brahmana menunjuk pada kaum yang memiliki keyakinan tauhid. Pada tahun 141 M, tauhid tentu bukan bernama Islam, sebagaimana risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Melainkan, dialah agama Abraham atau abrahamik, teologi yang berkembang pada abad ke-34 SM atau tahun 3500 SM.

Hal ini perlu menjadi perhatian para sejarawan dan teolog, bahwa agama atau kepercayaan sebelum Islam lahir yang bersamaan dengan perintah Isra Mi’raj telah berkembang silih berganti. Jauhnya jarak antara Ibrahim dengan Islam, misalkan, merupakan keniscayaan bagi terjadinya perkembangan dan penyebaran agama tersebut, sekaligus sebuah keniscayaan terjadinya pergeseran dari sumbernya yang awal.

Tak tertandingi dengan kepercayaan bangsa Quraisy, “penyembah” Latta Uzza. Karena jauhnya pergeseran yang mencapai titik akut, maka risiko Islam diturunkan. Tujuannya adalah mengembalikan risalah tauhid pada tempatnya secara lurus ( hanif ).

Kalau demikian, boleh jadi istilah Brahmana memiliki identitas secara teologis dengan risalah Ibrahim atau abrahamik. Pergeseran tersebut memunculkan banyak kepercayaan, seperti kapitayan yang berkembang jauh sebelum lahirnya Kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Maka, kalau dikatakan bahwa Brahmana merupakan identitas pemuka agama Hindu, hal itu perlu didiskusikan. Termasuk identitas teologi yang melekat pada pemerintahan monarki yang pernah berkembang di tanah air.

Kalau Tarumanegara merupakan negara berdasarkan ajaran Hindu, sungguh ambivalen dengan historiografi monarkhi tersebut. Pasalnya, salah satu rajanya, Purnawarman pernah mendermakan 1.000 lembu untuk disembelih. Sesuatu yang berseberangan dengan ajaran agama tersebut, yang mengharamkan menyembelih sapi.

Hal lain yang perlu dicermati, Purnawarman memiliki jejak kaki pada prasasti Ciareteun. Sesuatu yang pernah dilakukan oleh Ibrahim, yang kemudian disebut atsar Ibrahim atau maqam Ibrahim .

Bangsa ini sejak ribuan tahun silam dalam wujudnya sebagai monarkhi religius. Setiap monarkhi memberikan kebebasan beragama dan kepercayaan pada masyarakatnya.

Dari situ, maka perlu kejelian untuk tidak mempercayai historiografi Nerlandosentris, historiografi yang dibuat oleh pihak Belanda pasca kerugiannya dalam Perang Jawa selama 5 tahun, atau Perang Diponegoro pada tahun 1825 sampai 1830 M. perang yang menghabiskan kas Belanda hingga 25 juta gulden.

Sejak peristiwa Perang Jawa itu, pemerintah Hindia Belanda melakukan cara lain dalam meredam sekaligus melakukan serangan balik melalui perang ideologis kulturalistik. Perang ini berdampak pada hilangnya ribuan dokumen, baik berupa lontar maupun prasasti yang dirampas oleh Belanda, untuk kemudian diamankan ke Leiden Belanda. Selanjutnya dibuatkan historiografi ala Belanda yang berpihak pada kepentingan kolonial.

Telah tiba titik kritis pada historiografi yang ada, diikuti dengan upaya dekonstruktif melalui penelitian ulang. Hal ini bertujuan untuk memerdekakan bangsa kita dari penjajahan ideologi sejarah.

Bagikan
Anang Harris Himawan
CEO Rumah Sejarah Indonesia

    Peran Pemuda Dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045

    Previous article

    PERSIA-RUM

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *