Essai

MENCINTAI INDONESIA

Salah satu sumber api semangat untuk mencintai Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) adalah pengetahuan tentang cita-cita dan usaha para pendiri bangsa ini. Mereka para pelaku dalam perang melawan penjajah yang mengambil harta pusaka bangsa kita.

Para pahlawan itu mewarisi semangat dan pengetahuan dari pendahulunya,
tentang rahasia kejayaan dan kemunduran bangsa di negeri ini. Faktor ini pula yang mendorong mereka harus melawan kepada siapa pun yang merongrong keutuhan dan persatuan kita, bangsa-bangsa di Nusantara.

Kisah-kisah tentang pengorbanan para pahlawan kita itu sudah sangat cukup
untuk membuka mata dan hati kita, bahwa Indonesia adalah amanat yang harus kita jaga. Selanjutnya, pesan amanat ini juga harus tersampaikan kepada para penerus kita.

Setiap dari kita memikul tugas untuk mendidik diri sendiri, dan menyiapkan
generasi penerus yang memiliki kedaulatan serta mencintai bangsanya. Karakter ini akan memancar dari sikap para pribadi yang penuh dedikasi (bersedia berkorban) untuk kejayaan bangsa, mencintai pengetahuan, adat, budaya, serta lingkungannya.

Pribadi yang mencintai negaranya tercermin dalam cara berpikir, bersikap, dan berbuat. Mereka memiliki kepedulian dan penuh penghargaan terhadap
pengetahuan, budaya, bahasa, dan lingkungan sosialnya.

Hari ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat pesat. Inovasi teknologi bermunculan dan terus-menerus diperbaharui, mengiringi kebutuhan masyarakat modern yang hidup berdampingan dengan peralatan yang canggih. Kehadiran era baru ini semakin terasa, terutama setelah kita melewati situasi pandemi Covid 19 yang telah berlangsung dua tahun lebih.

Pandemi Covid 19 ternyata sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Namun yang cukup terasa adalah memaksa kita untuk belajar dan menciptakan inovasi-inovasi untuk tetap bertahan.

Demikianlah, peristiwa pandemi telah merubah pola kehidupan serta prilaku kita. Di bidang pendidikan, pandemi membukakan jalan bagi para inovator di bidang teknologi informasi (IT) untuk menciptakan piranti lunak (aplikasi), agar proses pembelajaran di sekolah dan kampus bisa tetap berjalan meskipun tanpa harus bertatap-muka.

Di bidang ekonomi, masyarakat semakin terbiasa dengan sistem transaksi jual beli online. Dalam model komunikasi sosial, kita dibuat semakin terbiasa berinteraksi melalui sistem dalam jaringan, misalnya seminar, rapat, ataupun diskusi terbatas.

Di era seperti ini, informasi dan ilmu pengetahuan tersebar tidak hanya melalui pertemuan di ruang kelas. Setiap orang memiliki kuasa untuk mengakses ilmu pengetahuan dari berbagai sumber, dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kemudahan teknologi yang mampu menggantikan kebutuhan untuk berinterasi dengan lingkungan social juga bisa menciptakan orang-orang yang acuh. Mereka tidak peduli terhadap persoalan di sekitarnya.

Menyadari kondisi yang seperti ini, pendidikan nasionalisme harus disiapkan
sebaik mungkin. Akses untuk mendapatkan wawasan kebangsaan harus
disediakan, dan dipromosikan.

Perihal yang kita waspadai adalah bila generasi muda kita justru akrab dengan informasi yang menyesatkan. Misalnya, kecenderungan sebagian dari saudara kita sendiri yang menganggap keberadaan NKRI tidak penting. Ataupun orang-orang yang tidak mau mengerti bahwa Indonesia yang kita diami ini dibangun dengan perjuangan besar oleh para pendiri bangsa, pendahulu kita.

Bila ini yang terjadi, maka dapat mengancam pertumbuhan generasi muda dan masa depan bangsa Indonesia.

Atas dasar pemikiran di atas, generasi penerus bangsa Indonesia tidak cukup
hanya ditunggu kelahirannya, tetapi harus disiapkan sejak dini. Dimulai dari
keteladanan oleh para pendahulu, ketersediaan akses ilmu pengetahuan, serta
kemauan untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Mengingat setiap zaman memiliki dinamikanya sendiri, tantangan setiap generasi juga selalu baru. Namun semuanya bisa diupayakan, sebelum terlambat dan lebih berat.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Pandemi, Generasi Muda, Dan Kesehatan Mental

    Next article

    Comments

    Comments are closed.