Seperti yang kita ketahui, dua tahun terakhir ini Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Banyak kegiatan yang harus dihentikan karena kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah pembatasan kegiatan pada aktivitas belajar mengajar. Pemerintah mengambil kebijakan terhadap sekolah untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Sehingga hal ini dapat mengganggu aktivitas pelajar diluar jam pelajaran. Para pelajar yang biasanya aktif berorganisasi dan berkegiatan disekolah, sekarang hanya berdiam diri di rumah.
Bagi sebagian siswa belajar dirumah adalah hal yang menyenangkan, begitu juga saya. Pada waktu itu saya senang ketika sekolah diliburkan dua minggu dan pembelajaran dilakukan secara daring. Namun ternyata libur dua minggu ini awal dari panjangnya libur sekolah.
Saya yang waktu itu sangat senang menjadi sedih dan gelisah, karena ternyata sekolah di rumah tidak seenak yang saya bayangkan. Berbulan saya lewati hingga berganti tahun, perasaan bosan mulai timbul di benak saya dan teman-teman.
Oleh karena itu banyak hal yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang disela-sela pelajaran sekolah waktu itu. Salah satunya adalah menonton film dan juga melihat video-video yang ada di Tiktok.
Tiktok adalah salah satu platform media sosial yang sedang naik daun pada awal masa pandemi. Aplikasi ini hampir diakses oleh seluruh kalangan. Bukan hanya anak muda saja tetapi orang tua juga ikut mengakses aplikasi ini. Hal ini terjadi karena terlalu lama di rumah sehingga menimbulkan stress yang berkepanjangan.
Terlebih pembelajaran online membuat tugas-tugas yang diberikan oleh guru tidak sedikit. Melalui aplikasi ini (tiktok) banyak anak muda yang mendominasi menjadi content creator. Mereka berlomba membuat kreasi video dan juga trend bagi kalangan seusianya.
Namun, tentu saja trend yang ada pada aplikasi ini bukan hanya positif tetapi juga ada sisi negatifnya. Kita sebagai pemuda yang melek teknologi harus pintar dalam menggunakan media sosial, begitu juga dengan informasi-informasi yang harus dan tidak untuk disebarkan.
Jika kita membahas kembali tentang stress yang berkepanjangan, melalui aplikasi Tiktok ini banyak anak pemuda yang “self diagnosis” terhadap kesehatan mental. Video penjelasan mengenai kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan dan lainnya tersebar begitu luas di aplikasi ini.
Sayangnya, sebagian dari remaja yang membahas masalah ini bukanlah seorang ahli, melainkan hanya berdasarkan pada website saja. Sehingga remaja lain yang melihat video ini akan secara sepihak memutuskan bahwa mereka mengidap depresi ataupun kesehatan mental lainnya. Padahal mereka tidak melakukan pemeriksaan yang semestinya. Meskipun gejala-gejala yang timbul hampir sama, namun setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.
Tak sedikit remaja mengekspresikan depresi yang mereka alami melalui video di akun Tiktok. Hal ini normal, karena di masa pandemi ini membuat mereka tertekan dan butuh perhatian. Dengan membagikan video, mereka akan merasa tenang. Terlebih lagi setelah mendapat komentar, mereka semakin bersemangat.
Karena inilah pentingnya peran sesama remaja untuk memberi dukungan satu sama lain. Hal ini dikarenakan mereka merasakan hal yang sama, yaitu sama-sama butuh perhatian.
Namun jika kita terus membagikan keresahan kita dimedia social, maka ini akan berdampak buruk bagi diri kita, dan orang lain. Kita bisa kecanduan dengan hal ini, kita akan merasa resah jika tidak mengupload video di tiktok.
Bukan hanya itu, jika tidak ada komentar pada video kita akan timbul keresahan lain yang justru memperburuk keadaan. Kita akan merasa diacuhkan dan dan tidak ada satupun orang yang peduli terhadap kita.
Padahal itu hanyalah perasaan kita saja. Hal ini juga dapat memberikan efek negatif terhadap orang lain. Dengan video yang kita buat, kita bisa mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tentu ini akan berdampak buruk jika konten yang ada dalam video bukanlah hal yang positif.
Untuk menghadapi pandemi yang tak kunjung henti ini, baik sekali bila kita saling menguatkan satu sama lain. Selain itu harus bijak dalam menggunakan media sosial, dengan cara tidak mudah percaya terhadap hal-hal yang belum tentu dan tidak diketahui sumbernya.
Kalaupun memang kesehatan mental sudah terganggu dengan gejala-gejala yang timbul, alih-alih dengan “self diagnosis”, lebih baik jika kita datang memeriksakan diri kepada ahlinya.



Terimakasih sangat bagus sekali tulisan anda sangat menginspirasi anak2 muda semoga Anda sukses .. Aamiin🤲