Sugih tanpa banda (kaya tanpa materi),
Digdaya tanpa aji (sakti tanpa senjata),
Menang tanpa ngasorake (unggul tanpa merendahkan)
Begitu pepatah Jawa bilang. Dalam setiap tindakan, orang Jawa memiliki pedoman, prinsip yang diposisikan sebagai sumber ajaran dalam setiap liku kehidupan. Bila diamati, empat unen-unen di atas kelihatan menyalahi prinsip kehidupan kebanyakan orang.
Unen-unen pertama; sugeh tanpa banda (kaya tapa harta benda), bagaimana bisa sesorang dikatakan kaya, sedangkan dia tidak memiliki harta benda. Padahal sarat untuk menjadi kaya adalah memiliki banyak harta.
Kemudian unen-unen kedua, digdaya tanpa aji (sakti mandera guna tanpa ilmu kanuragan atau ilmu kesaktian), dan unen-unen terakhir pada contoh diatas, menang tanpa ngasorake (mengalahkan musuh tanpa membuat dia rendah).
Sakti tentu harus dengan menguasi ilmu-ilmu kesaktian sehingga bisa menangkis dari segala serangan musuh. Dan untuk bisa mengungguli musuh haruslah dengan mengalahkannya, menaklukannya, dan menjatuhkan dia, sehingga dia jera untuk kembali menantanag kita.
Tetapi orang Jawa berbicara lain. Orang Jawa ingin sakti dengan tanpa kesaktian. Dan ingin mengalahkan musuh dengan tanpa membuat dia merasa kalah (asor), bahkan tetap merasa gagah, tetapi sudah merasa kalah.
Tetapi itulah Orang Jawa. Jawa memiliki sekian keunikan. Baik dalam prinsip hidup, maupaun dalam menjalani hidup itu sendiri. Dalam hal melakoni hiodup misalnya, orang Jawa bilang; alon-alon waton kelakon (biar pelan asal kesampaian). Ketika kebanyakan orang berfikir semuanya harus serba cepat, unen-unen Jawa justeru sebaliknya, pelan tidak apa-apa asal kesampaian.
Apa sebenarnya kandungan dari nilai filosofi terdalam dari semuanya. Apa maksud dan tujuan dari kata-kata semua itu.
Orang Jawa tidak mengingnkan untuk melangkah secara pelan. Tetapi melihat suatu permasalahan dari tujuan, atau esensi dari masalah itu sendiri. Dalam hal mencapai suatu maksud misalnya, bagaimana sebuah keinginan bisa tercapai, bagamana supaya maksud terlaksana. Walaupun itu pelan-pelan.
Jadi yang di garisbawahi adalah tercapainya suatu maksud. Bukan pelan-pelan-nya.
Disini kegigihan niat nampak. Bahwa kesungguhan muntuk menggapai sebuah maksud akan menyingkirkan semua penghalang. Walaupoun harus dengan merangkak untuk mewujudkannya. Asal tercapai apa yang dimaksud.
Sugih tanpo banda, mengapa ini menjadi pilihan prinsip hidup. Bagaimana pelaksanaan prinsip ini. Bagaimana praktek dari kata-kata ini. Kalau dilihat dari susunan katanya, kata sugih, kaya, adalah predikat, atau status. Sedangkan syarat untuk bisa berstatus kaya adalah dengan memiliki harta.
Tetapi yang jadi masalah adalah bagaimana bisa kaya dengan tanpa harta sekalipun. Ini yang dimaksud dari kata-kata ini. Orang Jawa ingin membalik prinsip kebanyakan orang, bahwa tanpa harta sekalipun, tidak usah khawatir untuk tidak bisa kaya. Karena sebenarnya bisa saja kaya walaupun tanpa harta. Yaitu denagan kebesaran jiwa kita.
Digdoyo tanpo aji, mengapa ini menjadi pilihan prinsip hidup. Bagaimana pelaksanaan prinsip ini. Bagaimana praktek dari kata-kata ini. Kalau dilihat dari susunan katanya, kata digdaya, sakti, adalah predikat, atau status. Sedangkan syarat untuk bisa berstatus sakti adalah dengan memiliki kesaktian. Tetapi yang jadi masalah adalah bagaimana bisa sakti dengan tanpa ilmu kesaktian. Ini makna dari kata-kata tersebut.
Orang Jawa ingin membalik prinsip kebanyakan orang, bahwa tanpa kesaktian sekalipun, tidak usah kgawatir untuk tidak bisa menjadi sakti. Karena sebenarnya bisa seseorang bisa menjadi sakti walaupun tanpa ilmum kadikjayaan. Yaitu dengan perbuatan baik kita sehari-hari. Ketika seseorang berbuat baik, berakhlak baik, saat itu sebenarnya orang itu telah mengalahkan orang yang diperlakukannya.
menang tanpao ngasorake Sugih tanpo banda, mengapa ini menjadi pilihan prinsip hidup. Bagaimana pelaksanaan prinsip ini. Bagaimana praktek dari kata-kata ini. Kalau dilihat dari susunan katanya, kata menang, adalah predikat, atau status.
Sedangkan syarat untuk bisa berstatus menang adalah dengan cara mengalahkan lawannya, menjatuhkan musuhnya. Tetapi yang jadi masalah adalah bagaimana bisa mengalahkan musuh dengan tanpa membuat musuh kita merasa rendah. Ini yang dimaksud dari kata-kata ini.
Orang Jawa ingin menunjukkan, bahwa untuk menjadi pemenang tidaklah harus dengan menjatuhkan, dan merendahkan musuh. Menjadi pemenang bisa dengan tidak merebut harga diri lawan, yaitu dengan sikap santun dan kebesaran jiwa kita.
Memang, sepintas pilihan ini tidak menonjolkan sikap perwira, pemberani, dan kejantanan. Tetapi begitulah falsafah orang Jawa.



Comments