Essai

Indahnya Memaafkan

Syahdan, seorang bocah pulang dari sekolah dengan menangis. Di rumah, ayahnya bertanya: “Kenapa menangis, Nak?” Dengan sesenggukan bocah itu menjawab: “Aku diejek temanku, si Alang.”

Mendengar jawaban itu, sang ayah menyuruh bocah itu menancapkan satu paku di pohon mangga yang berdiri di depan rumah.

Si bocah kecil itu terheran-heran. Dilapori anaknya telah diejek orang, kok disuruh menancapkan paku di pohon. Apa hubungannya, pikir anak itu dalam hati.

Esok harinya, kembali anak itu pulang dari sekolah dengan menangis. “Ada apa lagi?” tanya sang ayah. “Si Balang mencubitku,” jawab bocah itu. “Tancapkan satu paku di pohon itu,” perintah sang ayah.

Kejadian seperti itu terus terjadi hingga batang pohon mangga yang ada di depan rumah mereka penuh dengan paku yang menancap.

Suatu ketika, si bocah pulang sekolah dengan wajah berseri. Melihat keceriaan anaknya, sang ayah menyapa dengan hangat: “Bagaimana sekolahmu hari ini, Anakku?”

Dengan semangat anak itu menjawab: “Si Alang tidak mengejekku lagi, Yah.” Ayahnya berkata: “Kalau begitu, cabut satu paku dari pohon itu.”

Besoknya lagi bocah itu pulang dari sekolah dan bercerita kepada ayahnya bahwa Si Balang tidak lagi mencubit. Si ayah kemudian menyuruh untuk mencabut satu paku lagi dari pohon mangga.

Begitulah yang terjadi, sampai akhirnya paku-paku yang semula menancapi batang pohon mangga habis. Yang tertinggal hanya bekas tusukan.

Cerita di atas memberi pelajaran, bahwa kita jangan seperti pohon yang penuh dengan bekas luka tusukan. Pohon itu ibarat hati kita, yang juga bisa terlukai dan membekas.

Tetapi hati manusia bisa membersihkan bekas luka tusukan itu, yaitu dengan cara memaafkan orang yang menyakiti kita.

Allah berfirman dalam Al Qur’an: ”Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka siapa yang memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim” (QS. As Syura/42: 40).

Menyimpan dendam dalam hati hanya akan menjadikan hidup ini semakin sengsara. Sementara memaafkan adalah sikap mulia yang membawa kepada kedamaian hidup.

Memaafkan orang lain juga sangat disukai oleh Allah. Dia berfirman: ”…Orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan” (QS. As Syura/42: 43).

Karena itu, tidaklah baik memendam rasa dendam atas kesalahan yang dilakukan saudara kita. Bukankah Allah selalu menerima taubat para hamba-Nya? ”…Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa” (Al Nisa’/4: 149).

Mulianya Meminta Maaf

Tidak hanya memberi maaf yang diperintahkan oleh Allah. Meminta maaf ketika mengetahui ada perbuatan kita yang menyinggung orang lain adalah perbuatan mulia.

Adalah kesombongan dan kebodohan yang merayu kita untuk angkuh dan bersikukuh mempertahankan sikap kita yang keliru, demi membela kerhormatan yang tidak pada tempatnya.

Sejatinya Allah telah merencanakan sesuatu yang baik, besar dan memuliakan kita di muka bumi ini. Tetapi sikap dan kelalaian kita-lah yang menangguhkan rencana-rencana besar Tuhan tadi.

Maka dengan meminta maaf kepada sesama, lebih-lebih kepada Allah, akan mempercepat kita untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan sebagai rencana-rencana baik Allah atas diri kita semua.

Bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah. Semoga kita termasuk orang-orang yang sabar dalam memberi maaf, kuat dalam meminta maaf, dan akhirnya dimaafkan oleh Allah ’Azza wa Jalla. Amin ya rabbal ’alamin.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Ramadhan, Saatnya Berfilantropi

    Previous article

    Alasan Berdirinya Demak Bintara: Membaca Kebohongan Narasi Babad Tanah Djawi

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *