Essai

Alasan Berdirinya Demak Bintara: Membaca Kebohongan Narasi Babad Tanah Djawi

Pementasan Ketoprak PC Lesbumi NU Jepara, dengan lakon "Ratu Kalinyamat, Sang Naga Samudra, Satru Bebuyutan Portugis". di Gedung MWC NU Bangsri (2023)

Waktu itu Sunan Kudus sedang duduk-duduk di rumahnya dengan Pangeran Arya Penansang. Sunan Kudus berkata kepada Arya Penansang, “Orang membunuh sesama guru itu, hukumnya apa?” Perlahan jawab Arya Penansang, “Hukumnya harus dibunuh, tetapi saya belum tahu siapa yang berbuat demikian itu.” Sunan Kudus berkata, “Kakakmu di Prawata.”

Arya Penansang setelah mendengar perintah Sunan Kudus, bersedia membunuh Sunan Prawata. Ia lalu mengutus abdi pengawalnya bernama Rangkud dan diperintah untuk membunuh Sunan Prawata. Rangkud lalu berangkat. Sesampai di Prawata ketemu dengan Sunan Prawata yang sedang sakit dan bersandar pada istrinya.

Setelah melihat Rangkud Sunan Prawata bertanya, “Kamu itu orang siapa?” Rangkud menjawab, “Saya adalah utusan Arya Penansang, memerintahkan untuk membunuhmu.” Sunan Prawata berkata, “Ya, terserah tetapi saya sendiri sajalah yang engkau bunuh, jangan mengikutkan orang lain.” Rangkud lalu menusuk sekuat-kuatnya. Dada Sunan Prawata tembus sampai ke punggungnya serta menembus dada istrinya.

Sunan Prawata setelah melihat istrinya terluka, segera mencabut kerisnya yang bernama Kyai Betok, lalu dilemparkan ke Rangkud. Si Rangkud tergores oleh kembang kacang (hiasan pada pangkal keris), ia jatuh di tanah lalu tewas. Sunan Prawata dan istrinya juga meninggal dunia. Meninggalnya ber-sinengkalan tahun 1453.

Arya Penansang begitu tega membunuh Sunan Prawata sebab ayahnya juga dibunuh oleh Sunan Prawata, saat pulang dari salat Jumat. Ia dicegat di tengah jalan oleh utusan Sunan Prawata bernama Sura Yata. Ki Sura Yata tadi juga sudah dibunuh oleh teman ayahnya Arya Jipang. Sunan Prawata tadi mempunyai saudara perempuan namanya Ratu Kali Nyamat. Dia begitu tidak terima atas kematian saudara laki-lakinya itu. Lalu berangkat ke Kudus bersama suaminya berniat minta keadilan kepada Sunan Kudus.

Jawab Sunan Kudus, “Kakakmu itu sudah hutang pati kepada Arya Penansang. Sekarang tinggal membayar hutang itu saja.” Ratu Kali Nyamat mendengar jawaban Sunan Kudus itu sangat sakit hatinya. Lalu kembali pulang. Di tengah jalan dibegal utusannya Arya Penangsang. Laki-lakinya dibunuh.

Ratu Kali Nyamat sangat terpukul hatinya. Sebab baru saja kehilangan saudaranya, lalu kehilangan suaminya. Ia jadi sangat menderita. Lalu bertapa telanjang di bukit Dana Raja. Sebagai ganti kain untuk menutup aurat-nya adalah rambutnya yang diurai.

Ratu Kalinyamat berprasetia tidak mau memakai kain selama hidup jika Arya Penansang belum meninggal. Ia bernadar barangsiapa dapat membunuh Arya Jipang, dia akan mengabdi kepadanya dan akan menyerahkan seluruh kekayaannya.

Narasi dramatis ini dapat ditemukan di Babad Tanah Jawi, Mulai dari nabi Adam sampai tahun 1647, Susunan W.L. Olthof di Belanda tahun 1941, diterjemahkan oleh HR. Sumarsono, cetakan keempat tahun 2008, halaman. 62-63. Dan tentu di buku-buku lain memiliki narasi yang hampir sama. Narasi diatas berlanjut dengan kemelut konflik yang melibatkan tokoh-tokoh besar kala itu, Sutowijoyo, Ke Ageng Pemanahan, Ki Panjawi, Sultan Hadi Wijaya, dan lainnya.

Selain itu juga diceritakan peristiwa meninggalnya Sunan Prawoto dan Sunan Kalinyamat, rencana pembunuhan Sultan Hadi Wijaya (dipanggil ke Kudus) oleh Arya Penangsang yang gagal, peristiwa pembunuhan kedua setelah Sultan Hadi Wijaya mengunjungi Ratu Kalinyamat yang juga gagal, dan peristiwa perang antara persekutuan Panjawi, Pemanahan, Martani, dan Sutowijoyo melawan Arya Penangsang yang berakhir dengan kematian Arya Penangsang.

Batu putih berukiran khas terdapat di Masjid Mantingan, Jepara

Rangkaian peristiwa panjang dan rumit ini, menurut H.J. De Graaf terjadi selama satu tahun, yakni tahun 1549 M. Yang menjadi pertanyaan adalah, mungkinkah dengan kondisi kultur dan letak geografis antara tempat satu dengan lainnya yang berjauhan, rangkaian peristiwa itu terjadi hanya dalam waktu satu tahun? Kita perlu mencermati catatan-catatan lain agar narasi sejarah menjadi logis dan masuk akal.

Memahami sejarah leluhur, seharusnya terlebih dulu memahami kondisi global saat itu, kemudian kondisi regional, baru menilai narasi lokal. Membaca peristiwa tahun 1549, harus dimulai minimal dari geopolitik Nusantara saat itu, terutama relasi Demak dan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Vlekke dalam bukunya Nusantara, Sejarah Indonesia, menulis: “Api perang salib cukup kuat dalam diri Albuquerque untuk membuat dia menangkap dan menjarah semua kapal Muslim yang bisa ditemukannya antara Goa dan Malaka. Demikianlah dia memerangi orang-orang Moor itu sambil melayani kepentingan perniagaan Portugis. Tapi ini adalah salah satu contoh pertama blunder-blunder mengerikan yang dibuat orang Eropa ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa yang tidak begitu mereka kenal. Albuquerque tidak tahu betapa pentingnya posisi pedagang Gujarat selama berabad-abad di Kepulauan Indonesia, dan bahwa semua sanak keluarga dan teman mereka dari Aceh sampai Maluku akan mendengar dalam beberapa minggu bahwa orang Portugis adalah perompak dan tidak bisa dipercaya.”

Agus Sunyoto dalam bukunya Fatwa dan Resolusi Jihad, Sejarah Perang rakyat semesta di Surabaya, 10 Nopember 1945, menulis: “Dengan cara berdagang yang berbeda dengan kelaziman cara berdagang Asia, tindakan Portugis yang ditandai pamer kebencian terhadap Islam sedikitnya telah ditunjukkan oleh Vasco da Gama yang tanpa alasan masuk akal membantai jama’ah muslim Calicut yang baru kembali dari tanah suci dengan menenggelamkan kapal mereka dengan tembakan-tembakan meriam, membunuh dan memotong-motong tubuh nelayan, menyandera penduduk, menembaki Kota Calicut, menginginkan kematian seluruh penduduk muslim Calicut, dan mengancam Samutiru, penguasa Calicut agar mengusir penduduk Muslim Mappila dari Calicut, yang mana kebrutalan itu telah menimbulkan reaksi keras dari umat Islam tidak saja di pantai barat India melainkan pula kemarahan muslim di berbagai negeri seperti Gujarat, Basrah, Yaman, Sokotra, Mesir, dan Nusantara. Kabar kekejaman, kebrutalan, dan kebiadaban Vasco Da Gama terhadap muslim Calicut yang dilanjutkan keberhasilan penerusnya, Alfonso d’Albuquerque merebut kota pelabuhan Gowa dari tangan Adil Shahi Penguasa Bijapur di pantai barat India, telah diketahui oleh raja-raja muslim di Nusantara yang memperoleh kabar dari pedagang-pedagangnya sehingga sebagian besar di antara mereka bersiaga tempur menunggu kehadiran Portugis.”

Vlekke menyimpulkan pertemuan dua peradaban ini dengan kalimat : “Demikianlah, sekali lagi terjadi perang suci antara orang-orang Moor dan Kristen, yang bolak-balik bergolak di Laut Tengah, tapi kini di Indonesia yang jauh. Dengan pukulan pertama, armada Portugis menjatuhkan negara Malaka tapi tiga kerajaan lain bangkit untuk tetap mengibarkan bendera hijau Nabi di Kepulauan Indonesia-kesultanan Aceh di Sumatra bagian utara, Demak di Jawa bagian timur, dan Ternate di Maluku.”

Demikianlah, sudah menjadi fakta sejarah bahwa Kesultanan Demak berdiri seiring dengan datangnya bangsa eropa di Nusantara sebagai negeri maritim dan sepanjang perjalanannya selalu diwarnai dengan perlawanan terhadap penjajah Portugis. Bahkan sebelum Portugis menguasai Malaka, Demak dan Kerajaan-kerajaan di Nusantara telah bersiap-siap melawannya. Hal ini dibuktikan dengan penyerangan Demak ke Portugis di Malaka (1512) yang cepat, hanya satu tahun setelah Malaka didudukinya. Tahun itu, Demak masih menjadi bawahan Majapahit yang sedang melemah, sementara ummat Islam sedang terancam kedudukannya di Nusantara karena ancaman melebarnya perang salib yang dibawa Portugis.

Kabar pembantaian para jamaah haji, pedagang dan nelayan-nelayan Muslim oleh para perompak Portugis, tentu menimbulkan reaksi keras dari Dewan Walisongo saat itu. Karena tidak mungkin mengharapkan bantuan dari Majapahit yang sedang melemah, maka Walisongo melalui Demak menggalang kekuatan untuk menghalau keganasan Portugis. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab Demak berdiri sendiri atau melepaskan diri dari Majapahit di masa-masa berikutnya.

Bagikan
Muhammad Ali Burhan
Pengkaji Sejarah Ratu Kalinyamat dan Ketua Yayasan Isykarima Jepara

    Indahnya Memaafkan

    Previous article

    Alasan Berdirinya Demak Bintara: Membendung Dominasi Portugis di Malaka

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *