Sekitar tahun 1995 telah terjadi pertikaian antar kelompok pelajar yaitu pelajar desa Sukolilan dengan desa Jambearum. Desa Sukolilan dengan desa Jambearum adalah dua desa yang bertetangga. Desa Jambearum berada di selatan desa Sukolilan. Akses jalan utama dari desa Sukolilan jika akan ke pusat kota Kendal melewati desa Jambearum. Ada jalan pintas menuju ke kota Kendal, namun melewati jalan tanah yang terletak ditengah sawah. Jalan tanah ini jika musim penghujan sangat susah dilewati karena tanahnya itu karakter tanah yang lengket.
Entah siapa yang memulai, sejumlah pelajar dua desa itu terlibat perkelahian dan ternyata perkelahian ini berlanjut panjang. Setiap siswa dari sukolilan yang melewati desa Jambearum, diberhentikan oleh oknum pelajar desa Jambearum dan dipukuli. Kejadian itu terus berulang, bahkan ketika para siswa yang sekolah di SMA/SMK ataupun MTs pulang lewat jalan pintas tengah sawahpun, ternyata sudah dihadang diperbatasan desa Sukolilan dengan kelurahan Bugangin. Kejadian ini berlangsung sampai cukup lama. Hampir setiap hari mendengar kabar anak anak Sukolilan pulang sekolah dihadang dan dipukuli oleh oknum anak Jambearum.
Kejadian ini menjadi keprihatinan pemerintah desa Sukolilan dan menggugah aparatur pemerintah desa untuk mencari solusi. Maka bertemulah antara kepala desa Sukolilan yang saat itu dijabat oleh Bapak Sucipto, B.Sc. didampingi perangkat desa Sukolilan, bapak Fahrurrozi silaturrahim kepada kepala desa Jambearum yang saat itu dijabat oleh bapak Moh. Daljono. Dalam pertemuan itu tentunya yang dibahas adalah tentang kasus perkelahian anak-anak itu dan bagaimana cara meredakannya.
Masing-masing kepala desa berupaya memberikan edukasi dan penjelasan kepada para remaja di desa masing-masing. Namun peristiwa penghadangan dan pemukulan oleh oknum remaja desa Jambearum kepada siswa desa Sukolilan masih saja terjadi. Hal ini menjadikan keprihatinan dan kemarahan pemerintah desa Sukolilan. Maka dilakukanlah pertemuan yang kedua. Dalam pertemuan itu, nampaknya terjadi suasana saling menyalahkan sehingga membuat suasana pertemuan semakin panas. Karena tidak ada titik temu dan merasa benar akhirnya membuat suasana rapat mencapai titik puncaknya. Dalam suasana seperti itu perangkat desa Sukolilan menjadi emosional sehingga muncul kalimat: “Sudah ayo sekarang kita lanjutkan, anak-anak sekolah biar dengan anak-anak sekolah, perangkat desa dengan perangkat desa”.
Pertemuan itupun akhirnya berakhir tanpa hasil. Perangkat desa Sukolilan kembali ke balai desa untuk membahas apa yang terjadi. Timbul perasaan menyesal atas kalimat-kalimat yang sempat terucap dalam debat panas yang baru saja berlangsung. Namun, dibalik itu muncul kekhawatiran jika kalimat yang diucapkan secara emosional itu direspon sebagai sesuatu yang benar-benar sebagai tantangan kepada pemerintah desa Jambearum. Salah satu perangkat desa, Bapak Fahrurrozi, mengusulkan agar anak-anak dan remaja desa Sukolilan dicarikan “sesuatu” untuk membentengi anak-anak agar ketika terjadi perkelahian memiliki kekuatan, atau menjadi “ampuh”.
Setelah terjadi diskusi internal pemerintah desa Sukolilan dengan tokoh masyarakat setempat, akhirnya sepakat para remaja desa disowankan kepada Romo KH. Muhaiminan Gunardo, yang dikenal sebagai Kyai Parak Bambu Runcing, pengasuh Pondok Pesantren Kyai Parak Bambu Runcing Parakan Temanggung. Pada hari yang ditentukan, para remaja disowankan secara rombongan. Tujuannya agar mendapatkan “ilmu kebal” tidak mempan dipukul dan berani melawan.
Sampai di Pondok Pesantren Kyai parak Bambu Runcing Parakan, rombongan disambut dengan ramah oleh beliau Romo KH. Muhaiminan Gunardo. Dijamu sebagaimana tamu yang lainnya. Dalam pertemuan itu beliau menyampaikan bahwa, peristiwa perkelahian antar anak-anak ini akan membawa hikmah yang sangat besar. Kelak akan menjadi pintu masuk “Thariqah Syadzaliyah di Kabupaten Kendal”. Dan benar saja, tak lama berselang, para tokoh masyarakat desa Sukolilan menyatakan baiat langsung dengan Romo KH. Muhaiminan Gunardo untuk menjadi anggota Thariqah Syadzaliyah.
Selama ini masyarakat Sukolilan lebih mengenal Romo KH. Muhaiminan Gunardo dengan panggilan Mbah Muhaiminan. Selain sebagai alim ulama yang ahli di bidang agama juga ahli di bidang ilmu hikmah. Tak sedikit yang berhubungan dengan almarhum berkaitan dengan ilmu kekebalan untuk pertahanan diri bahkan tak sedikit yang berkaitan dengan kedudukan dan jabatan. Di lingkungan NU, Mbah Muhaiminan pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Jam’iyyah Ahlut Thariqah al Muqtabaroh An-Nahdliyyah serta pimpinan Tariqah Syadzaliyah.
Diawal masuknya thariqah di desa Sukolilan, ketua dijabat oleh Bapak Ky. Fahrurrozi, sekretaris dan bendahara dijabat oleh bapak Mualip. Pada waktu itu anggota thariqah masih sedikit, masih lokal desa Sukolilan. Seiring perjalanan waktu, minat masyarakat untuk mengikuti baiat thariqah meningkat, bahkan sampai penduduk desa Jambearum juga banyak yang menjadi jam’iyah thariqah Syadziliyah.
Sekarang, jamiyah Thariqah Syadzaliyah sudah menyebar di Kabupaten Kendal. Hampir semua kecamatan ada perwakilannya. Di tingkat kabupaten, ketuanya adalah Bapak KH. Nur Chasan, Wakil Ketua dijabat oleh Bapak KH. Asmuni Abdul Fatah, Bendahara dijabat oleh Bapak H. Muthohar, sekretaris dijabat oleh Bapak H. Tumonjo, S.Pd., sedangkan wakil sekretaris dijabat oleh Bapak H. Mursidi.
Kegiatan rutin pengajian tawajuhan dilaksanakan di masing-masing kecamatan menurut kesepakatan dan mufakat. Di Sukolilan, kegiatan “tawajuhan” dilaksanakan setiap hari Rabu pon. Kegiatan diawali dengan bacaan manaqib, dilanjutkan sholat sunah hajat, selesai sholat sunah itu dilakukan kegiatan dzikir bersama. Dzikir yang dibaca diantaranya berasal dari kitab Jauharotussalikin. Dzikir silsilah thariqah Syadziliyah dan tata cara mengamalkannya.
Membaca hadharah
Membaca istighfar 100 x
Membaca sholawat 100 x
Membaca kalimat tahlil 100 x
Membaca doa
Demikian sekilas gambaran cerita singkat masuknya thariqah Syadziliyah di desa Sukolilan Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal. Peristiwa yang tidak menyenangkan ternyata membawa hikmah yang begitu besar, sehingga menjadikan masyarakat semakin dekat dengan Allah melalui kegiatan thariqah.
Sumber informasi:
Bapak H. Mualip
Ibu Hj. Maskanah
Bapak H. Solahuddin


Comments