Essai

Musik Bahasa Universal: Dari Seni untuk Kemanusiaan dan Penyerahan Diri (ibadah)

daerah.sindonews.com

Bisa dipahami, pada masa itu musik gamelan jelas identik dengan peradaban Hindu. Namun pada masa-masa berikutnya, kita memperoleh informasi bahwa  generasi Islam di dalam lingkungan istana Kerajaan Demak melakukan modifikasi dan penyesuaian dalam seni pewayangan. Para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para wali, berhasil menciptakan bentuk baru dalam seni pewayangan. Yang menarik dicermati, lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata di sana-sini mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang.

Maka dalam banyak literatur dan ceramah-ceramah ilmiah bisa kita temukan penjelasan bahwa Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang kesohor menggunakan musik gamelan sebagai media dakwah Islam pada jamannya. Namun cerita itu ada pada jaman awal Islam masuk pulau Jawa. Fakta di lapangan menunjukkan, hari ini musik gamelan pun sudah tidak lagi menjadi identitas masyarakat santri yang taat memegang ajaran agama. Bukankan hari ini gamelan lebih identik dengan masyarakat yang dalam bahasa Clifford Geertz (The Religion of Java, 1964) disebut abangan. Kelompok masyarakat yang “bukan santri”.

Jadi, anehnya, kita itu membenarkan cerita yang mengatakan bahkan para wali di tanah Jawa melibatkan musik gamelan untuk mendukung kesuksesan dakwah Islam-nya, namun hanya sedikit dari kaum santri yang hari ini terang-terangan menerima gamelan. Buktinya, sangat jarang musik gamelan muncul dalam pusat-pusat kegiatan masyarakat santri, seperti pondok pesantren.

Apa yang bisa kita ambil dari kondisi ini. Musik sejatinya tidak pernah menunjukkan identitas, kecuali ia adalah bentuk ekspresi. Yang menjadikan musik memiliki identitas adalah masyarakat pengguna (user)-nya. Gamelan, misalnya. Di tangan generasi Jenggala, gamelan menjadi identik dengan peradaban Hindu. Namun di era kebesaran Kerajaan Demak, gamelan menjadi identik dengan musik dakwah para wali. Hari ini pun, gamelan telah mewakili satu komunitas, abangan.

Sampai di sini, semua berpulang kepada diri kita. Mungkin sebagian dari kita memiliki pemahaman bahwa perkembangan musik dewasa ini masuk pada wilayah yang mengabaikan nilai-nilai keluhuran budi. Musik hanya digunakan untuk mengiringi lirik lagu yang bertema murahan: cinta, penghianatan dan memuja lawan jenis. Tentu saja ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua.

Ketika seni musik menjadi kebutuhan (hiburan) yang diutamakan masyarakat, di sisi lain musik-musik yang disuguhkan hanya sedikit yang berkualitas, maka kita harus menentukan sikap. Paling tidak, kita harus waspada dan selalu melakukan pemilihan dan pemilahan terhadap budaya yang berkelindan di sekitar kita.

Menurut hemat penulis, sejauh ini musik tetap memberikan peluang kepada siapa pun, khususnya generasi muda, untuk mengisinya dengan hal-hal yang agung. Misalnya menggunakannya untuk mengekspresikan gagasan kepemudaan dan kebangsaan, menjadi materi dalam ajang kompetisi anak muda yang melampaui batas-batas wilayah negara dan bangsa, dan lain sebagainya.

Karena itu kita harus memantapkan pilihan, bahwa musik yes, sepanjang memberikan pencerahan kepada kita. Ini sesuai dengan anjuran seorang bijak, dengan musik sejatinya akan mampu mengangkat dan memuliakan apa saja yang kita ekspresikan. Bukan sebaliknya.

 

Kesimpulan

Mungkinkah kita hidup di dunia ini dengan tanpa bersinggungan dengan musik? Rasanya tidak mungkin. Bukankah alam semesta tercipta dengan musik (keindahan suara) alam yang sangat menenangkan hati dan fikiran. Gemuruh ombak di tepian laut, deru angin di lereng gunung, kemericik air di tepian sungai bebatuan, dan rintik air hujan yang jatuh di atap rumah kita, semua itu merupakan musik alam yang—disadari ataupun tidak—menimbulkan efek yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.

Dari catatan sejarah peradaban bangsa-bangsa di masa lalu kita juga bisa mengerti, bahwa musik merupakan ekspresi dari tangan-tangan kreatif yang memainkannya. Dengan demikian musik akan menjadi apa bergantung kepada masyarakat yang menggunakannya. Dari satu jenis musik yang sama, pada masa tertentu akan identik dengan masyarakat penjunjung keluhuran budi. Sampai akhirnya, musik yang itu juga, akan identik dengan masyarakat abangan pada masa-masa setelahnya. Semua bergantung pada oleh siapa satu musik dimainkan.

Namun, ‘ala kulli hal, setiap orang memiliki argumen tersendiri mengenai musik. Itu bergantung dari sudut pandang, latar belakang, kepribadian, lingkungan, orientasi dan banyak faktor dari masing-masing kita. Walah a’lam bis-shawab

Musik dan Peradaban Manusia

Catatan sejarah menginformasikan kepada kita, bangsa-bangsa terdahulu memiliki kebiasaan mengiringi derap langkah bala tentaranya di medan perang dengan hentakan musik yang menggelegar. Efek luar biasa musik ini ternyata menghadirkan energi tersendiri dalam menguatkan nyali para prajurit untuk menaklukkan lawan. Genderang yang ditabuh membangkitkan keberanian para prajurit hingga menyamai raksasa. Mereka pun tidak memiliki rasa takut sedikitpun.

Bangsa Yunani dan Romawi, misalnya, sudah sejak lama menggabungkan unsur musik dalam urusan kemiliteran mereka. Melalui terompet dan perkusi, seorang komandan perang menyampaikan informasi kepada pasukan, baik di medan laga maupun di posko pertahanan. Bahkan, konon tentara Yunani menyewa pemusik untuk mengiringi puisi atau memainkan lagu patriotik yang menceritakan keberanian pahlawan-pahlawan senior mereka.

Begitu pula dengan bangsa China. Angkatan perang negeri itu telah memanfaatkan musik ketika terjadi perang melawan Korea pada tahun 1950-1953. Kala itu, bangsa China masih belum memiliki alat komunikasi modern, seperti radio, apalagi telepon genggam. Maka dengan alat musik seperti genderang, peluit dan terompet mereka menggantikan fungsi alat komunikasi jarak jauh.

Hadirnya musik dalam medan peperangan telah lama digambarkan Niccolo Machiavelli dalam The Art of War (1521). Menurut dia, terompet merupakan salah satu alat penting dalam perang. Alat musik yang satu ini (terompet) memiliki suara yang tajam, bertenaga, dan mampu mengungguli kegaduhan yang ditimbulkan dalam perang. Sedangkan drum dan flute (peluit) disebutkan sangat bagus untuk melatih kedisiplinan dalam baris berbaris atau memerintahkan pergerakan dalam peperangan.

Demikianlah adanya, musik menggema di peperangan sebagai penambah energi para prajurit sekaligus alat bantu bagi para pemimpin yang sangat efektif.

Dalam dunia Islam ceritanya lain lagi. Keindahan suara khas yang ditimbulkan alat musik oleh para darwis digunakan untuk mengiringi para penari sufi. Sufi secara sederhana bisa difahami sebagai upaya seseorang mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya dengan cara yang lebih. Dengan iringan musik yang “menghipnotis” para pencari Tuhan itu terbawa oleh suasana dan semakin jauh masuk dalam dimensi harmoni antara Tuhan dan hamba. Puncaknya, mereka dibuat semakin rindu berjumpa dengan Sang Maha Indah, Allah Azza wa Jalla. Dalam konteks ini musik membantu para penganut tarekat ini untuk bermunajat kepada kekasihnya, Sang Khaliq.

Dalam Sirah al-Nabawiyah diceritakan bahwa musik juga telah akrab digunakan masyarakat Madinah, tepatnya ketika mereka dengan suka cita menyambut kedatangan Rasulullah Muhammad. Dalam konteks itu, musik rebana yang masih sederhana mengekspresikan suasana hati dan fikiran penduduk Madinah yang sebelumnya telah mengetahui dan menerima dakwah ajakan Nabi. Di sini, musik menjadi simbol persaudaraan dan keakraban di antara umat Muhajirin (pendatang) dan Anshar (pribumi).

Hasil penelitian mengenai musik pada akhir-akhir ini semakin menambah kekaguman kita terhadap peradaban tua yang satu ini. Penelitian membuktikan bahwa musik, terutama musik klasik, bisa memengaruhi perkembangan intelegent quotien (IQ) dan emotional quotien (EQ).

Ceritanya, seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan lebih berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya, bila dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Musik yang dimaksud di sini adalah musik yang memiliki irama dan nada-nada yang teratur, bukan irama dan nada yang neko-neko. Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik ketimbang anak yang jarang mendengarkan musik.

Menurut Grace Sudargo, seorang musisi dan pendidik, dasar-dasar musik klasik secara umum berasal dari ritme denyut nadi manusia, sehingga ia berperan besar dalam perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia.

Tidak hanya berpengaruh baik bagi bayi, dalam kondisi normal musik juga bisa memengaruhi kehidupan manusia. Menurut seorang pakar dalam bidang musik, Andreas Christanday, musik memiliki tiga bagian penting yaitu beat, ritme, dan harmony. Beat memengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmony mempengaruhi roh. Karena itu, biasanya bila kita mendengar lirik lagu yang diiringi musik, fikiran dan perasaan kita segera tersentuh. Selanjutnya tubuh kita secara natural akan bereaksi mengikuti irama musik yang kita dengar.

Maka tidak aneh bila ada seorang psikolog yang menasehatkan, bila hati kita sedang gundah, cobalah untuk mendengarkan musik yang indah, yang memiliki irama (ritme) teratur. Perasaan kita, kata psikolog itu, pasti akan lebih enak dan enteng. Bahkan, kabarnya di beberapa negara maju pihak rumah sakit banyak memperdengarkan lagu-lagu indah untuk membantu penyembuhan para pasiennya.

Sampai-sampai, ada seorang pakar dalam ilmu kesehatan jiwa mengatakan, kalau Anda merasakan hari ini begitu berat, coba periksa lagi hidup Anda pada hari ini. Jangan-jangan, Anda belum mendengarkan musik dan bernyanyi. Statemen ini tentu sesuai dengan pendapat Aristoteles yang mengatakan bahwa musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

Paragraf-paragraf di atas menggambarkan kepada kita, sudah sejak lama peradaban seni musik ada di muka bumi. Musik ada seiring dengan kebutuhan manusia yang mengekspresikan gejolak jiwa dan fikirannya. Musik menyatu dengan tradisi, pikiran, dan segala bentuk pesan yang dikandungnya. Musik bisa terdengar dari medan pertempuran, pusat kegiatan keagamaan, rumah sakit, gedung pertunjukan, lembaga pendidikan, sampai di pinggir jalan.

Dalam kajian Antropologi Budaya, setiap peradaban akan senantiasa lestari di tengah-tengah pemiliknya, ketika peradaban itu mampu memberi sumbangsih, memudahkan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Begitu pun musik. Masyarakat peminat seni musik terus melakukan kreasi dan inovasi, dalam rangka untuk mencari “pencerahan”, dan di sisi lain juga untuk menyuguhkan “pencerahan”.

 

Musik itu Netral

Sebagai bagian dari jenis seni, musik menyampaikan pendapat dan perasaan manusia lewat keindahan bunyi-bunyian. Karena itu, musik sama dengan bahasa. Sebagai bahasa, musik dengan demikian merupakan ekspresi (bunyi) yang bisa diterima oleh individu lain. Kalau kata digunakan manusia untuk menyampaikan gagasan melalui pilihan diksi, maka musik melalui komposisi suara mampu mengungkapkan perasaan batin seseorang.

Karena musik mampu merefleksikan perasaan seseorang ataupun masyarakat, maka musik bisa difahami sebagai hasil kesepakatan (konvensi) sosial. Karena hasil kesepakatan manusia, maka ia merupakan hasil kreasi manusia yang lahir dari penghayatan atas kehidupan dan dunianya. Namun yang khas, potensi manusia untuk bisa merasakan pesan yang terkandung dalam alunan musik bersifat pembawaan, meskipun latar belakang seseorang bisa memengaruhi. Karena itu, musik komunitas tertentu bisa dirasakan oleh individu yang berbeda sekalipun: berbeda bahasa tuturnya, berbeda bangsanya, berbeda kulitnya, berbeda seleranya, sampai berbeda keyakinannya.

Yang juga unik dari musik sebagai bahasa, ia merupakan ekspresi yang berpengaruh terhadap audiennya tanpa perantara konsep ataupun intepretasi. Lewat efeknya yang luar biasa, musik dapat membebaskan perasaan manusia dari suasana batin, seperti rasa kesepian, panik, dan lainnya. Musik juga mampu menghipnotis pendengarnya sehingga larut dalam suasana gembira, atau sebaliknya, kesedihan yang mengharu.

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Prinsip Aswaja Di Negara Pancasila

    Previous article

    Mencari Sosok Pemimpin

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *