Essai

THARIQOH MBAH KYAI SHOLEH DARAT SEMARANG

Profil Mbah Soleh Darat
https://tebuireng.online/kiai-saleh-darat-gurunya-mahaguru/

Syeikh Haji Muhammad Şālih bin `Umar as-Samarānī lebih dikenal dengan Mbah Kyai Saleh Darat, merupakan seorang ulama ternama pada abad ke-19.

Karyanya telah dikenal oleh banyak ulama di luar sana, termasuk sekitar 12 buah karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab dengan aksara Jawa.

Salah satu kitab terkenalnya adalah “Minhāj al-Atqiyā” yang membahas pemikiran tasawuf. Kitab ini selesai ditulis pada tanggal 11 Dzulqa’dah 1316 H.

https://alif.id/read/aflahal-misbah/membedah-kitab-minhaj-al-atqiya-kritik-tajam-kiai-sholeh-darat-atas-kemunculan-dai-prematur-b231112p/

Kitab Minhaj Al-Atqiya’

 

Buku ini merujuk beragam sumber yang mencakup pemikiran-pemikiran serta pandangan pribadi penulis tentang tasawuf.

Kitab-kitab yg dijadikan referensi oleh mbah kyai sholeh darat termasuk diantaranya Salālim al[1]Fudha1ā’ karya Muhammad Nawawi al-Jawi, Kifāyat al-Atqiyā’ wa Minhāj al-Aşfiyā’ karya Abu Bakar Syatha, & kitab-kitab karangan Imam al-Ghazali.

Dalam konsep tasawufnya, beliau selalu menyatukan ajaran-ajaran syariat. Di dalam pandangannya, seseorang yang mempraktikkan tasawuf harus sudah memahami prinsip-prinsip syariat terlebih dahulu.

Beliau meyakini bahwa para wali pun harus tetap mematuhi kewajiban dan menjauhi larangan agama sesuai dengan hukum syariat yang berlaku.

Apabila seseorang beranggapan telah mencapai puncak kesempurnaan dan menganggap tidak perlu memenuhi segala kewajibannya, maka ia akan dianggap sebagai orang yang terkeliru dalam keyakinan dan tindakannya(As-Samarani (1322: 56) mentioned in his work).

Kyai sholeh darat juga mempunyai pandangan penting dalam aspek kehidupan, spiritual, dan hubungan antara manusia dengan tuhan.

Dalam pemikiran kyai sholeh di dunia, secara umum, manusia memiliki kewajiban untuk mencapai pemahaman tentang Ilahi. Seorang individu tidak akan mencapai pemahaman tentang Ilahi jika tidak memiliki kesalehan dan berhasil mengatasi hawa nafsunya.

Untuk mencapai tujuan ini, seseorang perlu memahami tiga jenis ilmu: Ilmu Syariah, Thariqat, dan Haqiqat. Ilmu syarair bagaikan kapal yang mengemudikan thariqah sebagai lautan, sementara ilmu haqiqat layaknya intan permata yang berharga terpendam di dasar laut.

Mbah Kyai Sholeh Darat meyakini bahwa tiga ilmu ini sangat penting untuk diamalkan bersama-sama. Ketiganya saling memiliki keterkaitan yang tak terbantah di antara satu sama lain.

Seseorang perlu mengikuti ajaran Syariah agar dapat mencapai pemahaman yang lebih dalam dan hakikat spiritual, sebagaimana dijelaskan oleh para guru spiritual yang bijaksana bahwa terdapat berbagai aliran spiritual yang dapat diamalkan.

Tiap individu memiliki cara unik untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Beberapa melakukannya melalui shalat, puasa, membaca Al[1]qur’an, tasbih, dan wirid.

Ada pula yang melayani ulama dan sufi, menjaga akhlak dengan tawadhu, berdagang sambil bersedekah kepada fakir, serta menekuni ilmu agama. Semua ini adalah beragam bentuk yang mereka pilih untuk mendekati Tuhan.

Sufistik dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai tindakan yang terkait dengan ilmu tasawuf. Menurut pendapat Kyai Sholeh Darat, ilmu tasawuf merujuk pada adab terhadap Allah dan Rasulullah dalam segala situasi dan kedudukan.

Seorang sufi adalah seseorang yang tidak terikat pada dunia, mengikuti ajaran Rasulullah, dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu sufi menurut kyai Sholeh Darat adalah salah satu cara yang dipilih manusia untuk mencapai Tuhan, dari banyak jalan yang bisa ditempuh.

Al-attas berpandangan bahwa tujuan pendidikan ialah untuk membentuk individu menjadi lebih baik melalui konsep ta’dib, yang secara ringkas berarti membuat mereka bermanfaat bagi sesama.

Karena itulah, tujuan dari pendidikan sufistik adalah untuk membentuk manusia yang taat pada Tuhan dan memiliki kemampuan untuk menguasai hawa nafsunya agar bisa menjadi orang yang bijaksana dalam pandangan Allah.

Mereka yang bijak di sisi Allah ialah mereka yang tujuannya hanya untuk bertemu dengan-Nya (liqoillah). Ini adalah bagian dari tugas kita sebagai manusia yang menjalani kehidupan di dunia ini.

Menurut Kyai Sholeh Darat, Thareqat adalah mendasari keikhlasan dalam melaksanakan perintah Allah. Kyai Sholeh Darat pernah menyampaikan perlunya tekun dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan dengan hati-hati.

Hal ini tidak hanya sebatas pada hal-hal yang mudah dijalankan, tapi juga melibatkan menjaga pakaian dan tempat dari segala yang diharamkan. Seperti memperhatikan anggota tubuh dan makanan yang akan dikonsumsi.

Maksudnya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan dengan kesungguhan dan niat yang tulus, sebagai bentuk pendekatan kepada Allah Swt.

Could you please rephrase that text nicely?

Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Sufistik dari Mbah Sholeh Darat adalah sebuah konsep pendidikan yang menjadikan pendidikan sebagai sarana untuk mencapai kehadiran Tuhan.

Pendidikan sufistik ditekankan pada pembentukan akhlak sebagai hasil dari usaha untuk memperbaiki nafs dan membersihkan qalb dari syahwat serta sifat tercela (Muhlikat).

Tujuan pendidikan sufistik adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan spiritual pada individu.

Menurutnya, thoriqah ialah tindakan yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, ketulusan, dan kemauan untuk meningkatkan diri.

Bagikan
admin

Menyaring Standarisasi Dunia Maya dengan Tauhid, Akhlak dan Tasawuf

Previous article

Pondok Pesantren Futuhiyyah Yang Bertarekat

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *