Pernah merasa bingung dengan tujuan hidup kalian? Merasa hidup gitu gitu aja, Bahagia tapi kayak kosong? Mungkin ini pertanda kalian kurang mewarnai kehidupan yang kalian miliki. Bagaimana bisa? Simak artikel berikut ini.
Menemukan Kehidupan di Era Digital
Di era tanpa batas ini, semua hal dapat diakses melalui gengaman tangan saja. Informasi yang beragam dan luas dapat diakses dengan mudah melalui dunia digital. Namun, tidak semua informasi tersebut mengandung hal-hal yang benar sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bahkan bisa saja informasi yang disampaikan tersebut tidak memiliki dasaran yang jelas. Informasi yang melimpah tersebut terkadang ditelan mentah-mentah oleh kita, terutama bagi mereka yang masih gagap teknologi.
Pemuda, sebagai harapan bangsa memegang peranan penting sebagai penerus penggerak bangsa. Apa yang mereka peroleh itu adalah bekal untuk di hari yang akan datang. Sebagai ujung tombak cita-cita bangsa dan negara, para pemuda perlu ditempah dengan baik.
Pertanyaannya, apakah para pemuda ini sudah siap menghadapi dunia tanpa batas ini? Pada faktanya sikap dan Tindakan mereka dalam menyerap informasi masih kurang bijak. Menurut Head of Social Media Management Center dari Kantor Staf Presiden RI, Alois Wisnuhardana, remaja mudah percaya pada hoax karena anak muda memang cenderung emosional.
Setiap informasi yang masuk, apalagi yang sensasional, akan langsung disebarkan. Luasnya lautan informasi dan labilnya para pemuda ditambah canggihnya teknologi di zaman sekarang ditambah dengan berbagai aplikasi dan algoritma yang dimilikinya, menciptakan kehidupan baru di dunia baru yang karap disebut sebagai dunia maya.
Tentu saja dunia maya ini pada dasarnya digunakan untuk menyimpan memori dan berbagi cerita atau momen yang tak ingin dilupakan agar teman-teman yang berada jauh dari jangkauan tetap bisa tahu kondisi kita saat itu atau bisa saja hanya sebagai hiburan semata.
Namun di zaman sekarang ini justru dunia maya menjadi standarisasi baru dalam menjalani kehidupan. Tentu saja ini sangat berpengaruh terhadap kondisi pemuda zaman sekarang baik dari segi mental maupun segi lainnya. Oleh karena itu dibutuhkanlah tiga pionir agama dalam islam yaitu Tauhid, Akhlak, dan Tasawuf sebagai tameng dalam menghadapi permasalahan ini.
Menjaga Kendali di Tengah Arus Informasi
Kehidupan kita yang tidak bisa terlepas dari penggunaan canggihnya teknologi, membuat kita memiliki kebergantungan dengan teknologi. Memang benar bahwa kemajuan dan perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) mempermudah kehidupan kita.
Banyak sekali hal-hal yang dulunya sulit untuk dilakukan serta memakan waktu yang Panjang kini dapat dilakukan hanya dengan sentuhan jari dan dengan waktu sepersekian detik saja.
Fakta itu tidak dapat diragukan lagi, hadirnya teknologi membuat kehidupan kita lebih mudah, namun terkadang kita terlalu larut dalam kemudahan yang ditawarkan. Sehingga membuat kita ragu dalam membuat keputusan, seakan-akan kita sedang dipiloti oleh teknologi untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Sadar ataupun tidak, Standarisasi kehidupan di zaman modern ini terbentuk dari maraknya dunia maya. Dunia maya kini tidak hanya sebagai sarana berbagi momen dan hiburan semata, akan tetapi dunia maya saat ini dapat menjadi ajang pamer, Jika dilihat dari sisi negatif. Dan jika dilihat dari sisi positif-nya bisa menjadi lapangan pekerjaan untuk mencari nafkah.
Banyak nya informasi yang disebarkan dalam dunia maya membuat kita mengikuti pandangan orang-orang di dunia maya dan menjadikan apa yang menjadi trending topik atau pembicaraan hangat saat itu sebagai standar baru dalam menjalani kehidupan.
Hal ini sangat terlihat dari kondisi para remaja dan pemuda saat ini. Belakangan ini Tanpa disadari TikTok banyak membuat perubahan terhadap pola pikir remaja di Indonesia dalam memilih sesuatu, seperti: standar memilih pasangan, menjadi inspirasi dalam memilih fashion, bahkan menentukan gaya hidup mereka.
Standarisasi inilah yang membuat beberapa remaja dan pemuda kehilangan kendali akan hidup mereka, membuat mereka lupa akan eksistensi kehidupan mereka dan lupa bahwa hidup di dunia ini untuk mencari bekal di akhirat nanti.
Banyaknya informasi yang diterima membuat para remaja dan pemuda overknowing ditambah lagi tuntutan standar kehidupan di zaman sekarang, maka tak heran jika para remaja dan pemuda sering merasakan burnout atau overwhelmed dan mengganggu kesehatan mental serta cara mereka berpikir.
Ketergantungan akan teknologi yang dirasakan oleh para remaja dan pemuda saat ini, membuat mereka tidak dapat merasakan kebahagian yang sejati dan nikmatnya perjuangan dalam menuju pemahaman pikiran.
Hal ini bisa terjadi karena para remaja dan pemuda mempunyai ekspektasi kebahagiaan yang sesuai dengan standar yang ada di dunia maya, sehingga ketika mereka merasakan kebahagiaan secara langsung kadang tidak dapat mencapai ekspektasi mereka.
Tameng Untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Ketergantungan akan teknologi menjadikan segala sesuatu yang menjadi viral di dunia maya sebagai standar kehidupan kita yang membuat kita lupa akan eksistensi kehidupan kita di dunia nyata. Hal ini membuat para remaja dan pemuda hilang arah.
Namun dengan adanya ajaran Tauhid, Akhlak, dan Tasawuf dapat membuat para pemuda dan remaja dapat menyaring informasi yang mereka butuhkan, karena dengan akhlak yang baik mereka akan berhati-hati ketika menerima informasi baru, dengan tauhid mereka dapat mengetahui tujuan dalam kehidupan ini secara jelas, dan dengan tasawuf dapat membuat mereka membatasi dalam penggunaan teknologi yang berlebihan dan berujung pada mengikuti standarisasi.
Oleh karena itu pemahaman tentang Tauhid, Akhlak, dan Tasawuf dapat dijadikan tameng dalam menghadapi ricuhnya dunia ini.
DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, Muhamad. 2022. Kumparan. Desember 12. Accessed November 18, 2024. https://kumparan.com/muhamad-fahmi-1670771857670687334/pengaruh-tiktok-terhadap-standar-kehidupan-remaja-1zQ9TVcaToW/full.
Fakta, Tim Cek. 2017. Kompas.com. September 22. Accessed November 18, 2024. https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/22/161600620/remaja-rentan-jadi-penyebar-berita-hoax#.



Comments