Dimulai tahun 1512, Raden Patah mengutus putranya, Pati Unus untuk mengusir Portugis dari Malaka. Penyerangan ini diulang kembali tahun 1521 sepeninggal Raden Patah (1518) yang digantikan oleh Pati Unus. Karena kurang berhasil dan juga banyaknya daerah-daerah di Jawa yang tidak mendukung visi Demak tersebut atau malah menjalin persekutuan dengan Portugis di Malaka, maka Sultan Trenggono (1522-1546) pengganti Pati Unus menyapu Jawa dari pengaruh Portugis.
Tahun 1522, Sunda Kelapa bekerjasama dengan Portugis, maka Demak menakhlukkannya dan juga sisa-sisa Majapahit di Jawa Timur ditakhlukkan karena bekerjasama dengan Portugis. Kesuksesan Demak dibawah Sultan Trenggono menjaga Pulau Jawa dari penjajah Portugis ini menjadikan Demak semakin kuat dan bersiap-siap kembali mengarung Samudra untuk mengusir Portugis dari Nusantara.
Vlekke mencatat: “Demak mencapai puncak kekuasaannya pada sekitar 1540. Enam tahun kemudian, pemimpinnya yang paling kuat terbunuh ketika bertempur melawan Hindu dari Jawa Timur. Setelah itu, posisinya diambil alih oleh Jepara yang ternyata menjadi musuh yang paling berbahaya bagi Portugis selama tiga perempat abad ke-16. Portugis bukan hanya gagal mendapatkan sokongan Jawa Hindu melawan Jawa Muslim tapi, tanpa sengaja, mereka bahkan memeperkokoh kedudukan Islam.”
Dalam catatan sejarah, tahun-tahun berikutnya yaitu setelah wafatnya Sultan Trenggono (1546) adalah tahun-tahun yang sangat krusial dan penuh kontroversi, tetapi fakta sejarah mencatat, Demak tetap kokoh dan perkasa di samudra. Tahun 1547, Sultan Alauddin dari Aceh menyerang Portugis di Malaka.
Buku Laporan Hasil Penelitian Empiris Ratu Kalinyamat, Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579 mencatat; “Melihat Portugis yang tetap di Benteng, Aceh kemudian memblokade Malaka. Mereka membangun benteng di Perlis untuk menyerang semua kapal dari Goa, Bengal, Siam atau Pegu yang membawa bahan makanan. Dengan usaha ini, mereka berupaya untuk menutup bala bantuan dari pintu utara dan berharap Portugis kelaparan dan korban segera berjatuhan.”
Serangan Aceh ini mendapat respon dan dukungan dari Demak Bintara yang saat itu dibawah kepemimpinan Sunan Prawoto, yakni memblokade pengiriman bahan pangan Malaka. Karena merasa terancam, tahun 1548, Portugis mengutus Manuel Pinto untuk menemui Raja keempat Demak.
Ali Romdhoni dalam bukunya, Sunan Prawoto, Penjaga Visi Politik Maritim Kesultanan Demak Bintara (2021) menulis:
“Agaknya, kedatangan Manuel Pinto ke pulau Jawa pada tahun 1548, setelah menyelesaikan urusan dengan Pastor Vicente Viegas di Gowa, Makassar, Sulawesi Selatan, bukan kebetulan singgah. Menurut kabar yang beredar, setelah menghadap kepada Sunan Prawoto, Sultan Demak Bintara keempat – mendengar rencananya untuk mengislamkan seluruh Jawa dan menutup jalur pengiriman beras dari Jawa ke Malaka dan menaklukkan Makassar – Manuel Pinto berusaha meyakinkan penguasa Demak Bintara agar membatalkan saja rencana politiknya.”
Peristiwa ini direkam oleh Manuel Pinto dalam suratnya yang ditujukan kepada Uskup Besar di Goa:
“…Dalam hal ini, kurasa sang raja seharusnya membuktikan untuk tidak tunduk kepada Islam, yaitu orang-orang Jawa, karena ketika aku datang ke Malaka ini dari Makassar, kami tiba di saat yang tepat di Jawa, di mana rajanya berada dan beliau memanggilku untuk menanyaiku banyak hal, antara lain tentang Makassar. Katanya, beliau ingin mengirimkan sepuluh ribu orang ke sana. Aku memintanya tak mengirim, karena tanah Makassar milik Raja Portugal dan bila dilakukan, maka pemimpinnya takkan senang, karena di Makassar terdapat banyak umat Kristiani dan bahwa pada tahun ini telah banyak orang Portugis yang pergi ke sana untuk mengkristenkan daerah itu. Juga karena menurutku, raja Jawa ini di sini unggul terhadap orang-orang yang tak ingin berpaling dari sekte Muhammad. Bila mereka berpaling, maka diberikanlah banyak barang secara cuma-cuma. Mereka membawa banyak orang yang tak bekerja selain mengislamkan penduduk, mereka tak menginginkan emas maupun perak, hanya meminta agar memeluk Islam, karena kata raja Jawa ini, setelah mengislamkan mereka, maka tak lama lagi Malaka akan menjadi Turki kedua. Menurut apa yang kulihat, itulah niat dan tekadnya, yaitu merampas perbekalan kami. Semoga mereka tak datang ke kota ini, karena di Malaka ini dapat terjadi perang besar” (Informasi dari Manuel Pinto kepada Uskup Goa mengenai Beberapa Kejadian di Makassar, pada 7 Desember 1548, BAL: 49-IV-49; Dipublikasikan dalam Insulindia 1, pada halaman 590).
Tahun 1459 berikutnya adalah tahun yang penuh kontroversi. Tercatat dalam Babad bahwa tahun ini, secara berurutan terjadi 10 (sepuluh) peristiwa: Terbunuhnya Sultan Hadi Mukmin Prawoto, Terbunuhnya Pangeran Hadirin, suami Ratu Kalinyamat, Topo Wudo Ratu Kalinyamat, Rencana pembunuhan Sultan Hadi Wijaya yang gagal, Rencana kembali pembunuhan Sultan Hadi Wijaya di Kudus yang gagal, Sultan Hadi Wijaya mengunjungi Ratu Kalinyamat yang sedang Topo Wudo di Donorojo, Sayembara untuk membunuh Arya Penangsang yang diumumkan diseluruh negeri, baik kota maupun desa, Ki Juru Martani, Ki Pemanahan, Ki Panjawi menyanggupi Sayembara itu, Perang tanding antara Sutowijoyo dan Arya Penangsang yang menewaskannya, dan penobatan Ratu Kalinyamat sebagai Ratu di Jepara yang menurut Panitia Penyusun Hari Jadi Jepara tahun 1988, awal kekuasaan Ratu Kalinyamat ditandai dengan candra sengkala trus karya tataning bumi, yang diperkirakan pada 12 Rabiul Awal 956 Hijriah atau 10 April 1549 Masehi.
Chusnul Hayati dalam bukunya Ratu Kalinyamat, Biografi Tokoh Wanita abad XVI dari Jepara menulis bahwa peristiwa terbunuhnya Arya Penangsang terjadi pada tahun 1558 (Karyana Sindunegara), 1556 (Amen Budiman), dan 1554 (Suripan Sadi Hutomo). Jika mengacu pada temuan Chusnul ini, dapat disimpulkan bahwa antara tahun 1549 sampai tahun 1554/1556/1558 terjadi konflik besar internal keraton Demak.
Jika data ini yang kita pakai untuk merunut sejarah Ratu Kalinyamat, maka akan tetap janggal, narasi kemelut Demak ini. Karena fakta yang lain terutama berdasarkan Buku Laporan Hasil Penelitian Empiris Ratu Kalinyamat, Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579 mengungkap bahwa tahun 1551, aliansi Melayu yang terdiri dari Johor, Perak, dan Pahang, mengajak Ratu Kalinyamat menyerang Portugis di Malaka. Penyerangan besar ini tentu merupakan rangkaian dan respon dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Setelah tahun 1551-1565 (bahkan sampai akhir koloninya di Nusantara), belum ditemukan catatan tentang Portugis yang agresif hendak menguasai Jawa sebagaimana masa-masa sebelumnya. Konsentrasi Portugis beralih ke kepulauan Ambon setelah menemukan pusat sumber rempah-rempah tersebut. Meskipun begitu, bukan berarti Jepara sedang tidur, apalagi terpuruk. Selain di Malaka, di Ambon pun Jepara tetap menjadi momok yang paling menakutkan bagi Portugis.
Tahun 1552, Sultan Hasanuddin menikah dengan salah satu putri Sultan Trenggono yang dari pernikahan ini, lahir Pangeran Arya yang ketika diasuh Ratu Kalinyamat bergelar Arya Jepara. Tahun 1559, Ratu Kalinyamat mendirikan Masjid dan Makam Mantingan, hal ini berdasarkan pada candra sengkala memet yang berbunyi rupa-brahmana-warna-sari.
Tahun 1562, Raja Portugis D. Francisco Ciutinho memerintahkan Antonio Pas untuk membangun Benteng yang selain untuk kelancaran perdagangan, melindungi diri dari serangan Hitu dan Ternate, juga untuk menahan serangan dari Jawa. Tahun 1565-1566, Hitu menyerang Portugis di Ambon setelah bantuan dari Jepara datang.
Seharusnya, dongeng-dongeng tragis di tahun 1459 disandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain di Nusantara yang berkaitan dengan Demak Bintara, sehingga ada narasi rasional yang bisa diterima akal dan nilai luhur bangsa bisa terwariskan ke anak cucu. Wallahu A’lam.



Comments