Di Kendal, Jawa Tengah terdapat beberapa tarekat (thariqah) yang umum diikuti oleh masyarakat sebagai bagian dari praktik sufisme dalam islam. Salah satu thariqah yang cukup populer di Kendal yaitu Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Menurut Martin Van Bruinessen dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, thariqah ini merupakan penggabungan dua thariqah besar, yaitu Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Baha’uddin Naqsyband. Perpaduan dua tarekat ini menawarkan metode dan amalan spiritual yang khas, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai tahapan penyucian jiwa dan amalan dzikir.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah diperkenalkan di Nusantara oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas, seorang ulama besar yang berasal dari Sambas, Kalimantan Barat. Beliau mendapatkan izin untuk menggabungkan kedua tarekat ini dari gurunya dan mulai menyebarkannya di Indonesia. Melalui murid-murid beliau, seperti Syekh Abdul Karim Banten dan Syekh Isma’il dari Cirebon, tarekat ini berkembang luas di Pulau Jawa, termasuk di daerah-daerah seperti Kendal.
Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Kendal berkembang seiring dengan kedatangan para ulama dan kiai yang memiliki sanad atau keterkaitan langsung dengan guru-guru tarekat dari Timur Tengah dan Jawa. Mereka berperan penting dalam menyebarkan ajaran TQN di kalangan masyarakat Kendal. Para ulama ini tidak hanya membawa ajaran-ajaran tarekat, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai tasawuf yang menjadi landasan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Salah satu penyebar tarekat TQN di Jawa Tengah adalah Kiai Kholil Bangkalan dan para muridnya, yang kemudian meneruskan ajaran ini di berbagai wilayah termasuk Kendal. Di Kendal, pengajaran TQN berpusat di pesantren-pesantren dan majelis zikir yang didirikan oleh para mursyid (guru tarekat). Mereka mengadakan pertemuan secara rutin, baik mingguan maupun bulanan, untuk melaksanakan dzikir dan memperdalam ilmu tasawuf. Pertemuan-pertemuan ini tidak hanya menjadi tempat untuk mengamalkan tarekat, tetapi juga sebagai wadah mempererat tali silaturahmi antar pengikut. Para mursyid ini berperan penting dalam membimbing para murid atau pengikut tarekat untuk mencapai kedekatan dengan Allah melalui pengamalan zikir, wirid, dan amalan-amalan khusus yang diajarkan dalam TQN. Setiap pengikut atau murid tarekat harus melewati tahapan-tahapan tertentu yang telah ditentukan oleh mursyid agar mencapai maqam (tingkatan spiritual) yang lebih tinggi. Selain itu, para mursyid juga memberikan ijazah atau izin bagi murid-murid yang telah siap untuk mengajarkan tarekat ini kepada orang lain. Banyak dari anggota tarekat ini yang berperan aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid dan pesantren, seperti menjadi pengajar Al-Qur’an, mengadakan pengajian rutin, dan turut serta dalam acara-acara keagamaan di desa mereka.
Thariqah ini memiliki pendekatan amalan yang khas, yaitu menggabungkan zikir jahr (dzikir secara lisan dan terbuka) dan zikir khafi (dzikir dalam hati atau diam). Metode ini memungkinkan para pengikut untuk menjalankan amalan dzikir dengan dua cara berbeda sesuai tuntunan yang diwariskan oleh para mursyidnya. Dzikir jahr biasanya dilakukan bersama-sama dalam majelis atau pengajian tarekat, sementara dzikir khafi dilakukan secara individu dalam kesunyian, memungkinkan pengikut untuk terus mengingat Allah di dalam hati mereka.
Selain dzikir, Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah juga menekankan pentingnya wirid, shalawat, dan amalan tasawuf lainnya bertujuan untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, seperti riya, sombong, dan iri hati. Pengikut tarekat ini diajarkan untuk mengikuti bimbingan seorang mursyid atau guru spiritual yang akan memandu mereka melalui tahapan-tahapan rohani yang disebut maqamat, seperti taubat, sabar, tawakal, hingga mencapai kedekatan dengan Allah. Secara keseluruhan, Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah memberikan kontribusi yang signifikan dalam kehidupan spiritual masyarakat. Ajaran-ajarannya tidak hanya membantu pengikutnya dalam menyucikan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga membentuk akhlak yang baik dan memperkuat kehidupan sosial yang harmonis di tengah masyarakat.
Di Kendal, pengajaran TQN umumnya dilakukan melalui kegiatan zikir berjamaah, pengajian, dan halaqah (pertemuan kelompok kecil) yang dipimpin oleh seorang mursyid. Zikir menjadi amalan utama dalam tarekat ini, dengan jenis-jenis zikir yang bervariasi sesuai dengan tuntunan dari sang mursyid. Zikir dapat berupa pembacaan kalimat tauhid, istighfar, shalawat, atau dzikir khusus yang sudah ditentukan oleh tarekat. Zikir dilakukan baik secara individu maupun berjamaah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Selain zikir, ada pula amalan wirid harian yang diwajibkan untuk dilaksanakan oleh para pengikut TQN. Wirid ini biasanya meliputi bacaan-bacaan yang sudah disusun dalam bentuk khusus dan harus dibaca pada waktu-waktu tertentu. Wirid dan zikir dalam tarekat TQN dianggap sebagai sarana untuk membersihkan hati, mengendalikan hawa nafsu, serta meningkatkan kualitas ruhaniah agar lebih dekat dengan Allah.
Dalam menjalankan tarekat ini, para pengikut di Kendal juga didorong untuk menjalankan ibadah wajib dengan sempurna, memperbanyak shalat sunnah, serta memperhatikan adab-adab dalam bergaul dan berinteraksi dengan sesama. Ajaran-ajaran ini ditekankan dalam setiap pertemuan atau majelis yang diselenggarakan oleh mursyid dan para senior tarekat. Mereka diajarkan untuk bersikap rendah hati, menghindari sikap sombong, serta memperkokoh persaudaraan di antara sesama pengikut.
Tradisi dan Perkembangannya TQN di Kendal



Comments