Essai

Jaka Tingkir: Presiden Jawa Hasil Kompromi Politik Utara-Selatan

Konflik Demak terjadi sejak diangkatnya Presiden pengganti Trenggono, yakni Sunan Prawoto. Putra Sultan ketiga Demak ini dituduh sebagai otak di balik terbunuhnya Raden Kikin atau yang kemudian lebih dikenal dengan Pangeran Sekar Sedo Lepen.
Benih-benih ketidakrukunan keluarga kedaton Demak tersebut sudah terbaca sejak Sultan Kedua Demak Muhammad Yunus Sakit. Menjelang meninggal akibat serangan Tubercolosis akut, di pangkuan adik iparnya Raden Kikin ia berpesan, agar adiknya lebih hati-hati, menjalin silaturrahmi sesama saudara, menjaga persatuan di kalangan keluarga serta meningkatkan ketaqwaan pada Yang Kuasa.

Benar saja, pasca pengambilan keputusan ketua MK Sunan Giri Prapen, untuk memenangkan dan mengangkat Sunan Prawoto, putra mahkota Trenggono sebagai Presiden Jawa, Demak bukan semakin baik tapi justru semakin runyam.
Secara konstitusi, pengangkatan putra Mahkota adalah sah. Namun secara Moral, pengangkatan tersebut dianggap cacat, sebab Sunan Prawoto dituduh sebagai dalang terbunuhnya Raden Kikin, pemegang tahta yang sah setelah Muhammad Yunus wafat.
“Kontroversi” pengangkatan Raden Mukmin, Adipati Prawoto bergelar Susuhunan Prawoto sebagai Presiden Jawa itulah yang membuat situasi Demak semakin panas.
Arya Penangsang, berkonsultasi kepada guru yang juga kakeknya, Sunan Kudus, apa hukuman yang tepat bagi pembunuh ayahnya. Sunan Kudus menjawab “Pati diwales Pati” atau Qishos.

Selain itu, Sunan Kudus yang juga Politisi dan Purnawirawan Panglima Perang Demak memberikan arahan pada Penangsang, bahwa ia tidak akan bisa menggapai singgasana kepresidenan Jawa selama masih ada 3 tokoh terkemuka ini, yakni, Raden Mukmin (Sunan Prawoto), Wi Tan (Sunan Hadiri) atau Penguasa Kalinyamat yang juga menantu Trenggono, dan Mas Karebet alias Joko Tingkir yang juga menantu Trenggono.
Maka, Penangsang menyusun rencana penyingkiran rival politiknya tersebut. Sunan Prawoto dan Sunan Hadiri terbunuh, sementara rencana eksekusi Putra Kebo Kenongo dan Cucu Sunan Kalijaga mengalami kegagalan.
Gagalnya pembunuhan murid Sunan Kalijaga itulah yang kemudian mengubah peta politik sejarah Kasultanan Demak.
Terbunuhnya Prawoto dan Hadiri, menguatkan posisi Penangsang mendeklarasikam dirinya sebagai Presiden pengganti Prawoto, dan menjadikan Jipang Panolan sebagai pusat pemerintahan.

Keputusan yang diambil secara sepihak tersebut dianggap ilegal karena tanpa melalui persetujuan Giri Kedaton sebagai “Mahkamah Konstitusi” Jawa. Orang portugis menyebutnya Vatican of Java dan Susuhunan Giri sebagai The Paus of Java.

Karena dianggap ilegal rezim, dalam episode berikutnya diceritakan, Susuhunan Kudus, politisi dan ulama kharismatis pesisir kulon menawarkan “Tahkim” atau kompromi politik. Diundanglah Karebet ke Kudus demikian pula Penangsang. Pembicaraan jalan damai mengalami jalan buntu. Penangsang tetap bersikukuh pada pendiriannya sebagai pemegang tahta Presiden Jawa yang Sah. Pelantikannya diduga dihadiri Sunan Kudus yg masih dianggap memiliki pengaruh kuat di pesisir, meski sudah keluar dari lingkaran politik Demak karena berselisih paham dengan Susuhunan Kalijaga mengenai “Kiblat” (dasar konstitusi) kasultanan Demak. Apakah nasionalis religius atau hanya Islam sebagai konstitusi utama.

Pengangangkatan Penangsang secara sepihak itulah yang akhirnya diprotes oleh keluarga korban Sunan Trenggono,, yakni Retno Kencono. Ia melayangkan protes terhadap Sunan Kudus karena ikut terlibat di balik terbunuhnya Kakak dan suaminya tersebut.

Ia juga meminta Tingkir untuk menjalankan Qishos atas kematian kakak dan suaminya. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, ia menitipkan Arya Pangiri untuk diasuh, sementara dirinya akan munajat, minta keputusan terbaik dari Tuham di sebuah Goa di Pegunungan Danaraja. Ia juga menjanjikan Tanah Pati sebagai hadiah kepada siapapun yang berhasil membunuh Penangsang.
Retno juga melakukan gugatan ke MK. Akhirnya Deklarasi sepihak Penangsang sebagai Presiden Jawa ditolak MK. Dasar penolakan MK inilah yg kemudian menjadi sandaran bagi para pemuka Demak dan MK untuk meminta pengangkatan atas penangsang dibatalkan dan mengembalikan segala keputusan Tahta Demak kepada MK, dalam hal ini Sunan Giri. Namun semuanya ditolak pihak Jipang dan Kudus.

Maka, ditugaskanlah Karebet sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) untuk melakukan langkah militer, memaksa Penangsang untuk menyerahkan diri dan tahta. Karena ditolak, maka dilakukanlah komunikasi dengan Kasultanan Cirebon dan penguasa wilayah bawahan lain di antaranya Selo, Banyubiru, Tuban, dan penguasa pesisir yg loyal pada Demak dan Giri.

Ekspedisi melalui mengepung rapat Jipang dari segala penjuru tersebut dipimpin oleh Ki ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Mertani dan Ki Ageng Penjawi. Ketiganya adalah cucu Ki Ageng Selo sekaligus alumni Peguron Selo, Grobogan.

Ketiganya kemudian menugaskan Bagus Danang Sutowijoyo, “putra” Pemanahan. Ia berhasil menewaskan Penangsang, Presiden Ilegal tersebut di Bengawan Sore, sudetan Bengawan Solo yang sengaja dibuat sebagai benteng keliling Kraton Jipang.

Terbunuhnya Penangsang, menghantarkan Karebet sebagai Presiden Jawa, sekaligus melakukan Palihan Nagari dari Pesisir utara ke Pedalaman Selatan, yakni Pajang.
Pemilihan Pajang bukanlah tanpa alasan. Karena salah satu wilayah Pengging era Mataram Kuno tersebut memiliki benteng alam yg kokoh, dn memiliki wilayah yang subur dengan aliran sungainya yang banyak dan memiliki standar sebagai jalur perdagangan ke pesisir.

Karebet kemudian dilantik di Giri Kedaton Gresik. Pengangkatan di Astana Giri adalah sangat tepat, karena Giri sebagai Rumah Politik Jawa yang konstitusional dan diakui oleh raja raja pesisir.

Karebet dianggap mewakili dua kubu, keputusan kompromi kuasa politik utara-Selatan. Utara ia mewakili trah Demak, keturunan Garwo Ampean Brawijaya x dari Siu Ban Chi. Selatan ia mewakili trah keturunan Prameswari Brawijaya x, Annarawati, melalui cucunya Kebo Kenongo.
Dasar itulah yang menjadi ikhtiyar bagi terwujudnya Pemerintahan yg sah dan kehidupan masyarakat Jawa yang damai.
Setelah diangkat menjadi Presiden Jawa, maka beberapa keluarga pesisir diangkat menjadi pejabat Adipati, di antaranya adalah Pangeran Timur, bungsu Trenggono, diangkat sebagai Adipati Madiun dengan gelar Adipati Ronggojumeno, dan Arya Pangiri sebagai Adipati Jipang (bawahan Pajang) sementara Benowo diangkat sebagi Adipati Demak.

Karebet menjadi Presiden Jawa selama 35 tahun, dari tahun 1550 hingga 1585. Kemudian digantikan Arya Pangiri dan Pajang ditutup dengan penguasanya Pangeran Benowo selama 2 tahun sebelum akhirnya menjadi bawahan Mataram setingkat kadipaten.

====THE END====

Bagikan
Anang Harris Himawan
CEO Rumah Sejarah Indonesia

    SEJARAH, MODAL PERADABAN TERBAIK BANGSA TIONGKOK

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *