Essai

Musik Bahasa Universal: Dari Seni untuk Kemanusiaan dan Penyerahan Diri (ibadah)

daerah.sindonews.com

Karena itu, dalam pandangan penulis, musik itu tidak pernah berkonotasi negatif. Musik akan menemukan jenis dan warnanya di tangan masyarakat yang menikmatinya. Maksudnya, di komunitas pencari Tuhan, musik akan menemukan aliran sufinya; musik sufi. Dalam komunitas yang peduli dengan etika dan moral, musik akan mengantarkan pesan-pesan keluhuran budi. Dan di tangan jiwa-jiwa yang bergejolak, musik akan mengekspresikan ‘pemberontakan’ dan protes.

 

Musik sebagai Simbol Budaya

Pada tahun 2011 kemarin, Kementerian Agama RI menggelar festival internasional musik sufi atau International Festival for Mystical Music bertema `Berkreasi dengan Tradisi Seni Musik Islami’. Festival yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta ini baru kali pertama terselenggara di Asia Tenggara. Tujuannya, untuk memberikan informasi tentang kesenian musik sufi sebagai sarana dakwah yang belum banyak diketahui masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Acara ini diikuti oleh enam  negara, yaitu Indonesia, Turki, Maroko, Pakistan, Iran, dan Mesir (http://oase.kompas.com. 14/07/11).

Dalam pandangan penulis, pagelaran musik sufi yang diikuti delegasi dari berbagai negara Islam di dunia itu memberi pelajaran kepada kita, bahwa dalam khasanah seni musik satu bangsa tersimpan keagungan moral spiritual dan ketinggian budi. Dengan demikian, seni musik yang lahir dari kreasi satu anak bangsa akan menggambarkan karakter dan identitas budaya yang mereka miliki.

Sebagaimana kita ketahui, dalam dunia Islam dikenal karya tulis ilmiah yang berbentuk syair atau nazham. Nazham-nazham atau bait-bait ini dicipta dengan mengikuti seperangkat metode dan aturan main yang teliti dengan mempertimbangkan wazan dalam ilmu ‘arudh. Bila karya ini diucapkan oleh mereka yang mengerti pedoman dalam ilmu ‘arudh, maka akan menghasilkan padu-padan suara dan lagu yang indah serta khas. Sedangkan materinya umumnya mengandung ajaran moral keagamaan, pesan kemanusiaan (seperti terdapat dalam banyak syair Arab klasik), bahkan ilmu tata bahasa Arab (seperti karya Ibnu Malik) dan disiplin lainnya.

Padunan dari syair (lirik lagu) yang diberi sentuhan musik-musik indah akan menimbulkan efek psikologis bagi audien berupa ketenangan, kedamaian dan keteladanan ketinggian moral spriritual. Sementara gerakan tari-tarian yang dipertunjukkan menyuguhkan pemandangan yang memukau.

Dalam konteks ini penulis sependapat dengan Nasaruddin Umar, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif  Hidayatullah Jakarta. Seni (musik) sejatinya tidak bertentangan dengan ajaran dalam agama Islam. Bahkan secara psikologis musik dapat mengantarkan jiwa pendengar untuk berpulang ke `alam an-nafs (alam ide universal) dimana seluruh jiwa mendapatkan kenikmatan luar biasa yang berasal dari rohani (http://www.republika.co.id. 13/07/11). Bahkan, dalam pengamatan penulis, orang yang dalam hatinya tidak ada seni, maka ia hanya memiliki sedikit kepekaan dalam menangkap realitas yang ada di sekelilingnya.

 

Musik sebagai Wahana Bersilaturahmi

Dalam budaya modern, kedaulatan satu negara ditunjukkan antara lain dengan kejuaraan dalam ajang kompetisi kelas dunia. Baik dalam cabang olah raga maupun kompetisi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Biasanya, sebelum pertandingan antar negara dimulai terlebih dahulu dikumandangkan lagu-lagu kebangsaan lengkap dengan iringan musik yang khas. Tradisi ini menunjukkan, musik bisa dijadikan sebagai wahana dalam menciptakan suasana keakraban antar negara dan bangsa.

Musik mampu mempertemukan beragam komunitas sehingga bertemu dalam satu dimensi. Baik kaum muda atau tua, pria atau wanita, miskin atau kaya, mereka bisa dibuat tertunduk oleh alunan musik mellow (merdu), atau beringas oleh hentakan musik keras.

Masyarakat Indonesia mungkin masih ingat, stasiun TVRI pernah menjalin kerja sama dengan pihak stasiun Nasional negara jiran Malaysia. Dalam kerja sama ini, kedua belah pihak stasiun televisi menyiarkan musik-musik khas kedua negara secara bergantian. Musik-musik karya musisi Indonesia bisa dinikmati masyarakat Malaysia, dan sebaliknya. Dengan acara ini diharapkan, kedua belah pihak sebagai bangsa rumpun Melayu semakin dewasa dalam berbudaya dan bernegara.

Kalaupun dalam kenyataannya antara Indonesia dan Malaysia terjadi perbedaan pendapat dalam beberapa kasus, itu persoalan lain. Yang jelas, musik mampu menjadi wahana yang sangat efektif bagi bertemunya dua pihak yang berbeda.

 

Musik untuk Media Dakwah

Dalam sejarahnya, musik gamelan pada jaman Kerajaan Jenggala (Kediri) ditabuh untuk mengiringi pagelaran seni wayang yang kala itu mulai berkembang. Menurut ahli sejarah seni pewayangan di Indonesia, Sutini (1994), Raja Jenggala Sri Suryawisesa secara rutin menyelenggarakan pagelaran Wayang Purwa dalam upacara-upacara penting di istana. Sri Suryawisesa sendiri bertindak sebagal dalangnya. Sementara para sanak keluarganya membantu pagelaran dan bertindak sebagai penabuh gamelan.

Bisa dipahami, pada masa itu musik gamelan jelas identik dengan peradaban Hindu. Namun pada masa-masa berikutnya, kita memperoleh informasi bahwa  generasi Islam di dalam lingkungan istana Kerajaan Demak melakukan modifikasi dan penyesuaian dalam seni pewayangan. Para pengikut Islam yang menggemari kesenian wayang, terutama para wali, berhasil menciptakan bentuk baru dalam seni pewayangan. Yang menarik dicermati, lakon baku dari Serat Ramayana dan Mahabarata di sana-sini mulai dimasukkan unsur dakwah, walaupun masih dalam bentuk serba pasemon atau dalam bentuk lambang-lambang.

Maka dalam banyak literatur dan ceramah-ceramah ilmiah bisa kita temukan penjelasan bahwa Sunan Kalijaga adalah salah satu wali yang kesohor menggunakan musik gamelan sebagai media dakwah Islam pada jamannya. Namun cerita itu ada pada jaman awal Islam masuk pulau Jawa. Fakta di lapangan menunjukkan, hari ini musik gamelan pun sudah tidak lagi menjadi identitas masyarakat santri yang taat memegang ajaran agama. Bukankan hari ini gamelan lebih identik dengan masyarakat yang dalam bahasa Clifford Geertz (The Religion of Java, 1964) disebut abangan. Kelompok masyarakat yang “bukan santri”.

Jadi, anehnya, kita itu membenarkan cerita yang mengatakan bahkan para wali di tanah Jawa melibatkan musik gamelan untuk mendukung kesuksesan dakwah Islam-nya, namun hanya sedikit dari kaum santri yang hari ini terang-terangan menerima gamelan. Buktinya, sangat jarang musik gamelan muncul dalam pusat-pusat kegiatan masyarakat santri, seperti pondok pesantren.

Apa yang bisa kita ambil dari kondisi ini. Musik sejatinya tidak pernah menunjukkan identitas, kecuali ia adalah bentuk ekspresi. Yang menjadikan musik memiliki identitas adalah masyarakat pengguna (user)-nya. Gamelan, misalnya. Di tangan generasi Jenggala, gamelan menjadi identik dengan peradaban Hindu. Namun di era kebesaran Kerajaan Demak, gamelan menjadi identik dengan musik dakwah para wali. Hari ini pun, gamelan telah mewakili satu komunitas, abangan.

Sampai di sini, semua berpulang kepada diri kita. Mungkin sebagian dari kita memiliki pemahaman bahwa perkembangan musik dewasa ini masuk pada wilayah yang mengabaikan nilai-nilai keluhuran budi. Musik hanya digunakan untuk mengiringi lirik lagu yang bertema murahan: cinta, penghianatan dan memuja lawan jenis. Tentu saja ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua.

Ketika seni musik menjadi kebutuhan (hiburan) yang diutamakan masyarakat, di sisi lain musik-musik yang disuguhkan hanya sedikit yang berkualitas, maka kita harus menentukan sikap. Paling tidak, kita harus waspada dan selalu melakukan pemilihan dan pemilahan terhadap budaya yang berkelindan di sekitar kita.

Menurut hemat penulis, sejauh ini musik tetap memberikan peluang kepada siapa pun, khususnya generasi muda, untuk mengisinya dengan hal-hal yang agung. Misalnya menggunakannya untuk mengekspresikan gagasan kepemudaan dan kebangsaan, menjadi materi dalam ajang kompetisi anak muda yang melampaui batas-batas wilayah negara dan bangsa, dan lain sebagainya.

Karena itu kita harus memantapkan pilihan, bahwa musik yes, sepanjang memberikan pencerahan kepada kita. Ini sesuai dengan anjuran seorang bijak, dengan musik sejatinya akan mampu mengangkat dan memuliakan apa saja yang kita ekspresikan. Bukan sebaliknya.

 

Kesimpulan

Mungkinkah kita hidup di dunia ini dengan tanpa bersinggungan dengan musik? Rasanya tidak mungkin. Bukankah alam semesta tercipta dengan musik (keindahan suara) alam yang sangat menenangkan hati dan fikiran. Gemuruh ombak di tepian laut, deru angin di lereng gunung, kemericik air di tepian sungai bebatuan, dan rintik air hujan yang jatuh di atap rumah kita, semua itu merupakan musik alam yang—disadari ataupun tidak—menimbulkan efek yang sangat indah. Dan sudah terbukti, bagaimana pengaruh musik alam itu bagi kehidupan manusia.

Dari catatan sejarah peradaban bangsa-bangsa di masa lalu kita juga bisa mengerti, bahwa musik merupakan ekspresi dari tangan-tangan kreatif yang memainkannya. Dengan demikian musik akan menjadi bergantung pada masyarakat yang menggunakannya. Dari satu jenis musik yang sama, pada masa tertentu akan identik dengan masyarakat penjunjung keluhuran budi. Sampai akhirnya, musik itu juga akan identik dengan masyarakat abangan pada masa-masa setelahnya. Semua bergantung pada siapa satu musik yang dimainkan.

Namun, ‘ ala kulli hal , setiap orang memiliki argumen tersendiri mengenai musik. Itu bergantung dari sudut pandang, latar belakang, kepribadian, lingkungan, orientasi dan banyak faktor dari masing-masing kita. Walah a’lam bis-shawab .

Bagikan
Ali Romdhoni
Founder Literatur Nusantara

    Prinsip Aswaja Di Negara Pancasila

    Previous article

    Mencari Sosok Pemimpin

    Next article

    Comments

    Leave a reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *